DAPUR SEJARAH: Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia

A. Apriyani & T. Bayuana, keduanya telah lulus dari jurusan Kehutanan, SMK Muhammadiyah Satu, Rangkas Bitung, dengan kompetensi ekowisata dan inventarisasi keanekaragaman hayati. Berikut ini hasil tulisan mereka dalam  proses belajarnya di Conservation and Legal Assistance Network (CLAN)-Bogor.

 

 

Beberapa waktu lalu, kami mengunjungi kota Bogor, menghampiri museum yang didalamnya terdapat banyak koleksi tanaman dari seluruh daerah Indonesia, dengan berbagai manfaatnya. Seketika kami terdiam, Karena uniknya seperti : bawang, cabe, tomat, dll. Ya… seperti kebiasaan kami untuk membuat bumbu makanan ada di dalam museum ini, sebuah museum yang mencerminkan interaksi manusia  dengan alam dari masa ke masa. Museum ini adalah Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia.

Awalnya museum ini bernama Museum Etnabotani, sejak 31 Agustus 2016, Museum tersebut bersalin menjadi Museum Nusantara Sejarah Alam Indonesia (MUNSAI). Museum ini terletak di Jl.Ir.H.Juanda 22-24 pusat penelitian Biologi-LIPI, Paledang, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. Tepatnya berhadapan dengan Istana Bogor dan Kantor Pos terbesar di Bogor.

Kita hanya perlu membayar karcis Rp.5000/orang untuk dapat menelusuri isi museum tersebut. Ke depannya, Museum yang merupakan museum alam satu-satunya di Indonesia akan bekerja sama dengan museum-museum lain di Dunia. Pembangunan gedung setinggi 5 lantai dilengkapi dengan area parkir yang luas, akan dilakukan secara bertahap dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2019. Saat ini hanya 2 lantai saja yang di fungsikan untuk diisi koleksi keanekaragaman hayati dari setiap Daerah di Indonesia dengan jumlah 1.840 tanaman.

Peta lokasi Kota Bogor tempo dulu dan sekaran. By : Tika Bayuana

Tentunya ruang pertama yang kami telusuri yaitu lantai 1, terdapat berbagai ruangan yang dapat kita lihat mulai dari lobi yang menampilkan foto-foto Bogor tempo dulu dan masa kini, serta keanekaragaman hayati di Indonesia dan pemanfaatannya, herbarium tanaman tua, rempah-rempah, sejarah rempah, bahan obat dan kosmetik, dan ruang gaharu, dan masih banyak lagi.

 

Herbarium Tua (1898)
Lada (Piper nigrum L)
By : Evi Yunita

Pemanfaatan yang sangat luar biasa, Misalnya kami melihat kerajinan tangan dari anyaman rotan, lontar, bambu dan anyaman kain, simplisia tanaman obat, pewarna alami dari serat alam dan masih banyak lagi.

Alat Tenun Kayu, By : Anggun Apriyani

Walau dengan rasa sedikit lelah, dengan semangat ingin tahu, kami berlanjut naik ke lantai 2, tentunya dengan menggunakan tangga ya… nah di lantai 2 kita dapat melihat flora purba, alat rumah tangga tradisional, berbagai macam kayu penting, alat kerja tradisional, pakaian tradisional, mainan-mainan tradisonal anak yang terbuat dari tumbuhan, alat music tradisional, minuman dan makanan tradisional, peralatan pertanian, pangan nusantara, serta berbagai keanekanragaman hayati, yang telah berpadu dengan budaya dari masing-masing Daerah di Indonesia.

Melihat bentuk dari peralatan tradisional, saya rasa tidak terlalu sulit, kita pun dapat membuatnya dengan berbagai variasi yang kita inginkan, ya jika hanya untuk koleksi pribadi saja ya.

Nah.. kita bisa mengetahui bahwasanya zaman dahulu sebelum munculnya era modern seperti sekarang ini, semua kebutuhan hidup, mereka manfaatkan dari alam. Sungguh ini hal yang luar biasa bukan? Karena kehidupan mereka tidak tertekan dengan halnya per ekonomian, yang sering kita lihat di berita menjadi masalah masyarakat sekarang- sekarang ini. Mereka hanya perlu rajin dan ulet untuk berkreasi dari alam, karena dari situ mereka dapat menjamin kehidupan dengan makmur. Jika saja tradisi itu tidak punah sampai dini, mungkin kita akan tahu bagaimana banyaknya manfaat alam untuk kehidupan. Ya.. mungkin ada beberapa factor tradisi itu ditinggalkan, salah satunya seiring perkembangan manusia, mereka berfikir untuk membuat sesuatu dengan hal yang lebih instan/mudah.

Tentunya didirikan nya museum ini, kita dapat menyadarkan diri begitu berharganya alam untuk kehidupan kita semua, dari sini kita dapat mengubah kebiasan kita untuk lebih giat menjaga alam, agar ekosistem antara alam dan kita saling menguntungkan, ibarat dari kita oleh kita untuk kita. Misalnya kita menanam bambu, kita dapat gunakan bambunya untuk keterampilan kita dalam membuat mainan, anyaman, atau kerajinan lain nya. Yang mungkin dapat kita ciptakan sendiri dari kreaktivitas dalam diri kita. Daunya kita dapat pakai untuk obat. Tahukah kamu bahwasannya daun bambu, dapat di manfaatkan sebagai obat darah tinggi? atau mungkin dapat menjadi obat lainnya. Tunasnya kita dapat gunakan sebagai bahan makanan, dan begitu banyak lagi manfaatnya.

Coba kita renungi dari satu jenis tanaman saja sudah banyak manfaatnya, lalu bagaimana jika kita manfaatkan jenis tanaman lebih banyak lagi? Hanya tinggal dari kitanya saja yang mulai merawat dan menjaga alam dengan baik. Bisa saja dengan mengamati dan mencari tahu kita dapat menemukan kegunaan jenis tanaman yang belum orang ketahui, sehingga kitalah orang yang pertama kali menemukan hasil manfaat tanaman tersebut, luar biasa bukan?. Ayoo rawat dan pelajari alam mu!!! Banyak tahu manfaat alam, pasti lebih menyenangkan.

 

Iklan

Tak Disangka Gedung Tua Itu….

NisaEvi

Evi Yunita dan Siti Anisa, telah lulus dari jurusan Kehutanan, SMK Muhammadiyah Satu, Rangkas Bitung, dengan kompetensi ekowisata dan inventarisasi keanekaragaman hayati. Berikut ini hasil tulisan dalam  proses belajarnya di CLAN-Bogor.

Seringkali kami melewati Jl. Ir.H. Djuanda No.9, Paledang, Bogor Tengah, Kota Bogor Jawa Barat yang ramai lalu lintasnya, dan tidak pernah menyangka bahwa ada bangunan tua yang memiliki nilai sejarah dan pengetahuan yang tak terhingga. Ternyata…salah satu bangunan itu adalah Museum Zoologi yang tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Wisata Pendidikan yang terletak di sisi Kebun Raya Bogor ini memiliki koleksi yang berkaitan dengan dunia satwa seperti berbagai spesimen yang diawetkan maupun fosil hewan yang diambil dari setiap daerah.

nisa-mzbAwal berdirinya museum Zoologi Bogor merupakan Museum dengan nama Landbouw Zoologisch dibangun diatas tanah seluas 1.500 m2 didirikan pada tahun 1894 gagasan dari G. Ckoningsberger ahli botani berkebangsaan Jerman yang berkunjung ke Bogor pada bulan Agustus 1894 dan diresmikan pada akhir Agustus 1901. Pada tahun 1906 namanya berubah menjadi Zoologisch Museum and Wekeplaats dan pada tahun 1910 berubah menjadi Zoologisch Meseum En Laboratorium, antara tahun 1945-1947 tempat ini dikenal dengan Museum Zoologicum Bogorience dan Sekarang menjadi Museum Zoologi Bogor.

Kami tiba di depan pintu museum pada jam 9 pagi, tetapi tidak ada tanda-tanda kapan pintu museum akan dibuka. Akhirnya kami nekat masuk melalui pintu gerbang Kebun Raya Bogor. Kita dikenai biaya Rp.15,000/orang untuk menelusuri jalan-jalan beraspal dan gang-gang kecil di seluruh di Kebun Raya Bogor, termasuk Museum Zoologi. Dari pintu gerbang itu, kita hanya memerlukan waktu 5 menit untuk berjalan sekitar 300m menuju bagian belakang museum. Kita tidak akan nyasar, karena tanda arah menuju Museum tersedia cukup banyak.

Dari pintu masuk Museum Zoologi terdapat rangka Anoa (Bubalus depressicornis), Tapir (Tapirus indicus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Tepat pada rangka tersebut terdapat tanda arah yang menunjukan Ruang burung di sebelah kiri dan Ruang mamalia di sebelah kanan.

Ruang burung terdapat banyak Koleksi burung-burung yang begitu indah dengan bulu-bulunya yang belum tentu dapat kita jumpai di kebun binatang, misalnya: Burung-burung Cendrawasih, tercatat sekitar 1.100 jenis burung berasal dari berbagai wilayah Indonesia, ada pula jenis-jenis Elang seperti Elang ular (Spilornis cheela) yang sering kita jumpai di sekitar Rangkas Bitung.

nisa-mamalia

Spesimen Bekantan (Nasalis larvatus) satwa endemik dari Kalimantan, By: Evi Yunita.

Ruang mamalia memamerkan sekitar 650 hewan-hewan menyusui, misalnya Bekantan (Nasalis larvatus) sejenis primata hidung panjang yang endemik dari Pulau Kalimantan yang di jadikan simbol Dunia Fantasi Ancol. Tak hanya Kera, Beruang (Helarctos malayanus, Malay Bear) yang biasa hidup di hutan yang lebat bisa kita jumpai di sini. Landak (Hystrix javanica) sejenis hewan pengerat yang di cirikan dengan rambut berdurinya yang runcing dan panjang. Ada lagi yang tidak kalah menarik yaitu: Trenggiling (Manis javanica), makhluk imut yang dapat menggulung diri seperti bola.

Ruang reptilia ruangan ini terdapat hewan reptil seperti: Penyu (Testudines), Ular

nisa penyu

Koleksi Spesimen Penyu (Testudines), By: Evi Yunita

berbisa diantaranya, Ular berkaki (Lygosoma quadrupes), Ular tikus (Elaphae radiata) yang panjangnya mencapai 2m dan Kepiting Raksasa Jepang (Macroceira kaempferi). Dari ruang reptil ini kita dapat menelusuri lorong untuk melihat ruang serangga dengan koleksi berbagai jenis kupu-kupu (Rhopolocarea) dan kumbang (Caleoptera). Lalu di ruangan terbuka terdapat tulang-tulang ikan Paus Biru Raksasa (Balaenoptera musculus) yang merupakan koleksi terbesar di Museum Zoologi Bogor. Paus biru ini ditemukan terdampar dalam keadaan mati di Pameungpeuk, Priangan Selatan pada Desember 1916 dengan panjang 27,25 m dan berat  119.000 kg.

Museum Zoologi Bogor adalah salah satu tempat yang sangat menarik dan memberi efek baik terhadap pengunjung dengan memamerkan koleksi-koleksi hewan yang berada di seluruh daerah Indonesia, sebenarnya masih banyak yang belum kami paparkan. Museum ini cocok untuk teman-teman yang ingin mengenal dan melihat wujud penampakan satwa-satwa khas Indonesia. Gedung tua yang menyeramkan dari luar, ternyata di dalamnya menyimpan pengetahuan yang tidak kami dapatkan di ruang sekolah. Nggak percaya? Coba deeh…

Cagar Alam Tangkoko Hilang dari Radar Kehutanan Indonesia

Di akhir bulan Januari 2017, saya menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Bappenas untuk membahas pemaparan mengenai nila jasa lingkungan kawasan konservasi di Sulawesi. Kajian dilakukan di Taman Nasional (TN) Bogani Nani Wartabone di Gorontalo, TN Lore Lindu di Sulawesi Tengah, dan Cagar Alam (CA) Tangkoko Batuangus di Sulawesi Utara. Ketiga kawasan itu merupakan target dari proyek UNDP bernama E-PASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi) yang berdurasi 2016-2020.

Berkali-kali nama Tangkoko disebutkan dalam presentasi itu, berkali-kali pula jantung saya berdegup kencang. Tangkoko, tempat saya belajar konservasi itu diduga memiliki nilai ekonomi $AS 4,82 juta per tahun atau $AS 812/hektar/tahun. Dengan nilai tukar Rp. 13.000 per dollar, maka Tangkoko menghasilkan Rp.62 miliar lebih per tahun. Dari mana sumbernya dan kemana saja aliran dana itu, kita tunggu saja hasil akhir kajian itu. Peneliti WCS yang melakukan kajian menyatakan bahwa kawasan yang dimaksud Tangkoko adalah komplek hutan yang terdiri dari CA Tangkoko Batuangus, CA Duasudara, TWA Batuputih, dan TWA Batuangus dengan luas total 8 ribuan hektar.

Saya bertanya-tanya apakah CA Tangkoko Batuangus itu masih ada secara hukum? Bukankah namanya telah dihilangkan dengan sengaja dari radar kehutanan Indonesia?

Hilang? Iya… hilang secara hukum. Tamat riwayatnya sejak 25 Maret 2014, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.1826/Menhut-VII/KUH/2014[i] tentang Penetapan Kawasan Hutan
Pada Kelompok Hutan Duasudara
Seluas 8.545,07 (Delapan Ribu Lima Ratus Empat Puluh Lima Dan Tujuh Perseratus) Hektar Di Kota Bitung,
Provinsi Sulawesi Utara.

Butir Kesatu Kepmenhut itu menyatakan bahwa kawasan hutan yang dinamakan Kelompok Hutan Duasudara terdiri dari CA Duasudara (7.247,46 ha), Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih (649,04 ha), dan TWA Batu Angus (648,57 ha). Dengan memperhatikan luas awal CA Duasudara (4.299 ha) saat dibentuk, maka dapat dipastikan bahwa CA Tangkoko Batuangus telah ditiadakan, dilebur ke dalam CA Duasudara.

Sebagai kementerian teknis yang mengelola sumberdaya hutan di Indonesia, maka secara yuridis Kementerian Kehutanan memang berhak menentukan nama. Namun bagaimana pejabat kementerian menentukan nama suatu kawasan? Mengapa Kepmenhut SK. 1826 tahun 2014 memilih nama Kelompok Hutan Duasudara dan melebur CA Tangkoko Batuangus ke dalam CA Duasudara? Apa dasarnya? Padahal CA Tangkoko Batuangus lebih terkenal dikalangan peneliti biologi, tercantum dalam jurnal, buku panduan, literatur ilmiah dan popular, dipromosikan para pelaku wisata sebagai target destinasi wisatawan dalam dan luar negeri?

Mari kita lihat buku Ecology of Sulawesi (Whitten dkk., 2002) yang menjadi acuan wajib para peneliti di Sulawesi. Di dalam indeksnya, kita tidak akan menemukan kata Cagar Alam “Duasudara”, “Dua Sudara”, atau “Dua Saudara”. Tetapi nama Tangkoko Batuangus ditemukan di dalam 14 halaman. Bahkan Alfred Russel Wallace menulis pengalamannya melihat Maleo bersarang di Batuputih sekitar Tangkoko pada tahun 1859. Jadi…, mengapa CA Tangkoko yang dihilangkan oleh Kementerian Kehutanan?

Secara historis yuridis, Goenoeng Tangkoko Batoeangoes adalah salah satu dari 24 Natuurmonument (Cagar Alam) pertama di Indonesia, berdasarkan Besluit van den Gouverneur-General van Nederlandsch Indie (GB) No.6 tertanggal 21 Pebruari 1919 (Staatsblad Tahun 1919 No.90). Usianya hampir satu abad!!!

statsblad-tangkoko

Staatsblad tahun 1919 Nomor 90

Berdasarkan SK Gubernur Jenderal itu, hanya ada tiga kawasan konservasi di Sulawesi yaitu Tangkoko Batuangus dan Gunung Lokon (Sulawesi Utara) dan Bantimurung (Sulawesi Selatan). Sedangkan Gunung Dua Sudara pertama kali ditetapkan sebagai kawasan hutan (bosch) seluas 4.299 ha berdasarkan GB No. 38 tanggal 2 April 1932. Kawasan hutan Gunung Dua Sudara itu baru diubah dan ditetapkan sebagai cagar alam pada tanggal 13 November 1978 melalui SK Menteri Pertanian No.700/Kpts/Um/7/78 dengan luas yang sama. Berdasarkan fakta tersebut, jelaslah bahwa CA Tangkoko Batuangus lebih tua 59 tahun daripada CA Gunung Dua Sudara.

Sejak 24 Desember 1981, Menteri Pertanian dengan SK No. 1049/Kpts/Um/12/1981 memecah CA Tangkoko Batuangus menjadi tiga kawasan, yaitu CA Tangkoko Batuangus (3.196 ha), Taman Wisata[ii] Batu Putih (615 ha), Taman Wisata Batu Angus (635 ha). Menurut SK tersebut, area seluas 1.250 ha di CA Tangkoko Batuangus sudah terganggu aktivitas manusia, tidak memenuhi syarat sebagai cagar alam tetapi memiliki keindahan alam berupa pantai, perairan laut dan biota lautnya. Namun faktanya, pengunjung yang datang ke TW Batu Putih lebih banyak yang memasuki area CA Tangkoko Batuangus untuk melihat keunikan satwa terestrial, bukan perairan lautnya!

Seiring dengan pengembangan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK), Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan Keputusan No. SK.748/ Menlhk/Setjen/PLA.0/9/2016 tentang Penetapan Wilayah KPHK Tangkoko seluas 8.545 hektar. Keputusan itu merujuk pada SK Menteri Kehutanan No. SK.734/ Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Utara[iii].

Setidaknya terdapat dua hal yang mengganggu logika hukum saat mencermati keputusan-keputusan menteri tersebut. Pertama. Penyusun SK.748 tahun 2016 secara sengaja atau tidak sengaja mencantumkan nama CA Tangkoko di dalam Diktum KESATU huruf (a), yang memberi kesan masih adanya CA Tangkoko. Lihat potongan surat keputusannya:

potongan-sk-kphk-tangkoko

Potongan SK Menteri LHK No. SK.748/Menlhk/Setjen/PLA.0/9/2016 tertanggal 20 September 2016

Apakah penyusun SK.748 tidak mengetahui bahwa SK.1826 tahun 2014 telah sengaja meniadakan nama CA Tangkoko Batuangus? Apakah penyusun SK.748 telah dengan tidak sengaja melahirkan kembali CA Tangkoko? Namun peta KPHK Tangkoko di dalam lampiran SK tersebut hanya menyebutkan CA Dua Saudara.

peta-kphk-tangkoko-2016

Peta KPHK Tangkoko Berdasarkan SK Menteri LHK No. SK.748 tahun 2016

Tidak jelas apa maksud dari penyusunnya. Bagi saya ini sebuah keteledoran yang tidak perlu sehingga menimbulkan kerancuan hukum.

Kedua. Terdapat inkonsistensi dalam penamaan kawasan konservasi. Keputusan Menteri Pertanian No. 700 tahun 1978 menggunakan nama CA Dua Sudara, Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.1826 tahun 2014 menggunakan nama CA Duasudara, Keputusan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup No. SK.748 tahun 2016 menggunakan nama CA Dua Saudara. Tiga keputusan menteri menyebutkan kawasan yang sama dengan tiga cara penulisan nama yang berbeda. Kenapa penyusunnya tidak merujuk pada sejarah kawasan dan peraturan sebelumnya? Seharusnya produk-produk hukum yang menjadi dasar hukum pengelolaan suatu kawasan dan acuan penulisan ilmiah tidak menyisakan ruang kesalahan (zero mistake).

Mari kita lihat bagaimana sebuah taman nasional di Sulawesi yang semula bernama Dumoga-Bone menjadi Bogani-Nani Wartabone. Berawal dari Pernyataan Menteri Pertanian Nomor 736/Mentan/X/1982 saat Kongres Taman Nasional Sedunia ke III di Bali, yang mengumumkan sebelas calon taman nasional, termasuk Dumoga-Bone. Nama itu diambil dari Suaka Margasatwa (SM) Dumoga dan SM Bone, yang diubah fungsinya menjadi TN Dumoga-Bone berdasarkan SK Menhut No.731/Kpts-II/91 tertanggal 15 Oktober 1991. Untuk mengakomodir usulan masyarakat Gorontalo, terbitlah SK Menhut No. 1068/Kpts-II/1992 tanggal 18 November 1992 yang mengubah TN Dumoga Bone menjadi TN Nani Wartabone, nama pahlawan nasional dari Gorontalo.

Mengingat saat itu taman nasional terletak di Kabupaten Gorontalo dan Bolaang Mongondow, maka masyarakat Bolaang Mongondow juga ingin nama pahlawannya, Bogani, diabadikan. Akibatnya, sebulan kemudian terbit lagi SK Menhut No. 1127/Kpts-II/1992 untuk mengubah namanya menjadi TN Bogani-Nani Wartabone. Nama it uterus dipertahankan hingga keluar Kepmenhut No. 724/Kpts-II/1993 tertanggal 8 Nopember 1993 mengenai penetapannya. Seandainya para penyusun keputusan menteri itu memperhatikan aspek sejarah dan sosial masyarakat, tentu tidak perlu membuat keputusan berulang-ulang untuk satu kawasan yang sama.

Ketidaktelitian dalam penyusunan peraturan/keputusan atau meremehkan suatu aspek seringkali menjadi akar masalah dalam pengelolaan kawasan hutan. Janganlah mengatakan “apalah arti sebuah nama” karena salah menyebut nama (error in persona) atau objek (error in objecto) memiliki dampak dalam dunia hukum. Semoga para penyusun keputusan-keputusan menteri di atas tidak memiliki mentalitas “yang penting ada dulu, revisi belakangan”. Hmm, apakah revisi peraturan itu bebas biaya?

Apabila Kementerian LHK mau menghitung kembali jasa-jasa lingkungan, sosial, dan ekonomi yang telah disumbangkan CA Tangkoko, mempertimbangkan fakta sejarah Tangkoko sebagai salah satu cagar alam pertama di Indonesia, mencermati ratusan karya ilmiah yang bersumber dari endemisitas dan keanekaragaman hayatinya, maka nama CA Tangkoko tidak perlu hilang dari radar dan daftar kawasan konservasi. Pembentukan KPHK Tangkoko menjadi hambar karena di dalamnya tidak terdapat CA Tangkoko. Setidak-tidaknya, Menteri Kehutanan dapat merevisi nama kawasan itu menjadi CA Tangkoko-Dua Sudara, sekaligus menyelamatkan cagar alam yang dua tahun lagi tepat berusia SATU ABAD!!!

Coba bayangkan, Pemerintah Pusat dan Daerah menggelar perayaan SATU ABAD CAGAR ALAM DI INDONESIA, yang mencakup sejumlah kawasan yang masih berstatus cagar alam atau taman nasional, antara lain Tangkoko Batuangus (Sulut),  Bantimurung (Sulsel), Lorentz (Papua), Tengger (Jatim), Sangeh (Bali), Rumphis (Maluku). Masih ada waktu dua tahun lagi untuk memperbaiki diri dan kawasan, kalau mau. Sekali lagi, kalau mau…

Hanya di Tangkoko, pemandu wisatanya yang terlatih dapat memberikan garansi “melihat 9 satwa endemik Sulawesi dalam sehari atau uang kembali”. Oleh karena itu aneh rasanya, ketika para peneliti dan pelancong memuji dan mengabarkan keajaiban Tangkoko ke seluruh dunia, tetapi negeri sendiri meniadakan keberadaannya. Tangkoko memang ajaib.

[i] Lihat konsideran menimbang huruf (d): bahwa terhadap kawasan hutan sebagaimana dimaksud huruf d telah dilakukan pemetaan sehingga memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai kawasan hutan; Bagaimana mungkin huruf (d) menimbang huruf (d)?;

[ii] Pada tahun 1981, regulasi mengenai kawasan konservasi belum menggunakan istilah Taman Wisata Alam (TWA);

[iii] Peta yang menjadi lampiran keputusan menteri mengenai hutan dan perairan provinsi, umumnya tidak menyebutkan nama kawasan, melainkan kelompok hutan konservasi KSA/KPA;

Overdosis di Mamberamo Papua

Empat hari yang lalu saya terserang diare dengan bonus perut kembung, melilit, dan mual. Tanpa stetoskop, saya dapat mendengar betapa berisiknya bunyi di dalam perut. Setiap kali otot usus berkontraksi, saya harus gerak cepat ke toilet kalau nggak mau kebobolan.

Kontraksi-ke toilet-minum obat diare. Begitulah ritualnya selama 24 jam. Entah berapa butir obat yang saya telan dengan khusyuk. Yang pasti adalah dua jenis tablet maag, sirup maag, satu jenis tablet diare, dan satu puyer diare. Rasanya sama, pahit semriwing.

Setelah 30 jam, akhirnya kontraksi berhenti tanpa tahu obat mana yang paling tokcer. Eehh…saking tokcernya, sudah 48 jam saya malah nggak bisa buang air besar (BAB). Kurang ajar kan nih perut? Apa saya saya musti minum pencahar perut supaya bisa BAB lagi? Hmmm, apa ini yang namanya overdosis? Hadeuhh.

Ngomongin overdosis, membawa ingatan saya melayang ke peristiwa beberapa tahun lalu yang nyaris menjadi insiden internasional. Saat itu saya bekerja di organisasi Conservation International untuk melakukan pelatihan dan penelitian keanekaragaman hayati di hutan sekitar Dabra, Lembah Sungai Mamberamo (sekarang Kabupaten Mamberamo Raya, Papua). Kawasan ini jarang diteliti sehingga semua peserta antusias untuk menemukan spesies baru.

RAPKegiatan ini diikuti oleh 20 orang yang berasal dari Indonesia, Papua New Guinea, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Kita terbagi ke dalam kelompok tumbuhan, ikan, amfibi-reptil (herpet), burung, mamalia, serangga air, dan kupu-kupu. Selain mengkoordinir kegiatan, saya bergabung dengan tim burung bersama Bas van Ballen dan David Kalo.

Suatu hari tim burung menyusuri rute di tepi Sungai Furu yang bermuara ke Sungai Mamberamo (nama lainnya Idenburg River). Sekitar jam 9 pagi, kami berjumpa tim ikan yang asyik main air.

Paul dan Heni membentangkan jaring khusus untuk menangkap sampel ikan yang akan diidentifikasi. Sang ahli ikan dari Australia yang kita namakan Jeri, menaburkan rotenon dari jarak sekitar 50 meter ke arah hulu. Rotenon ini semacam bubuk tuba yang terbuat dari suatu jenis tanaman yang lazim digunakan untuk penelitian ikan. Setelah dicampur dengan air, rotenon disebarkan ke bagian sungai yang aliran airnya lambat. Ikan-ikan akan mabuk, semaput, atau lambat geraknya sehingga lebih mudah ditangkap atau terbawa arus air lalu masuk ke dalam jaring.

Sejujurnya saya ingin terus bermain di air jernih Sungai Furu yang dalamnya hanya selutut sambil mengejar-ngejar ikan yang puyeng di sela bebatuan. Tetapi kami harus bergerak menuju rute pengamatan burung selanjutnya. Kami pun berpisah untuk kembali menyusuri Sungai Furu menuju Sungai Mamberamo.

Berhadapan dengan Sungai Mamberamo seperti melihat laut berwarna coklat susu. Inilah Amazon-nya Indonesia. Penghulunya sungai di Papua. Membentang dari tengah-tengah Papua menuju pesisir utara. Ratusan anak sungai berukuran kecil hingga sebesar Sungai Roffaer dari arah barat dan Sungai Idenburg dari arah timur membentuk raksasa Sungai Mamberamo. Berkelok-kelok, mengular, melebar menuju pantai utara Papua.

Di lembah Sungai Mamberamo inilah terletak Suaka Margasatwa Rouffaer seluas 310.000 hektar dan SM Pegunungan Foja seluas 1.018.000 hektar. Di area ini pula sempat diusulkan pembangungan bendungan raksasa yang akan merendam lembah Mamberamo beserta keanekaragaman hayatinya.

Beningnya air Sungai Furu seolah ditelan bulat-bulat oleh raksasa Mamberamo yang bertubuh coklat. Dari sungai inilah masyarakat mendapatkan ikan mas dan lele dumbo seukuran betis orang dewasa. Bahkan di sinilah tempat berburu buaya air tawar Crocodylus novaeguinea yang kulitnya bernilai jual. Saya cukup beruntung mendapatkan makan siang berupa seekor lele dumbo yang dibakar tanpa bumbu, tanpa nasi (Note: Lele dumbo dan ikan mas ini bukan asli Papua. Puanjaaaang ceritanya sampai ikan-ikan itu menghuni Mamberamo).

Sore hari menjelang magrib, saya sudah kembali ke Camp Furu, tempat seluruh peserta kegiatan ini bermarkas. Tenda dome berbaris dinaungi terpal biru di tepi Sungai Furu.

Doni, anggota tim urusan logistik, tampak berlari tergesa-gesa menemui saya.

“Mas…Gawat mas…, gawaaatt!!!” teriaknya dengan tampang pucat dan gugup.

“Eh, kenapa kau?”, tanya saya heran.

“orang kampung Dabra marah sama kita, mas. Mereka mau ke sini, bawa parang sama tombak!”

“Hah?….ini ada apa sih? Sini..sini..tenang…ceritain kenapa mereka tiba-tiba marah, ada masalah apa?”.

Antara bingung dan panik, Doni terduduk lemas di tepi Sungai Furu. Saya panggil Farid, rekan kerja saya di Jayapura untuk mendengarkan.

“Gini mas. Tadi saya ke kampung. Belanja sayur dan buah. Ternyata di kampung lagi heboh, ada anggota DPRD dari Jayapura”.

“lha hubungannya sama kita apa?,” potong saya. Gantian saya yang nggak sabar.

“Masyarakat melaporkan kita meracuni air Sungai Furu. Ada warga yang menemukan banyak ikan ngambang di sungai. Orang DPRD bilang mau laporkan kasus ini ke Jayapura. Tetua adat jadi ikut marah, terus masyarakat mau mengamuk. Jadi sekarang mereka sedang berperahu ke sini. Banyak sekali mas. Mereka bawa parang dan tombak. Makanya saya cepat-cepat kembali, takut mereka mau serang kita!”.

Eh busyeeettt….!!!

Saya dan Farid saling bertatapan. Kening mengkerut, melongo, membisu. Sedangkan para peneliti yang tidak tahu apa-apa masih asyik ngobrol dan tertawa. Ada yang memainkan GPS, menulis di buku, dan melihat-lihat hasil jepretan foto di kameranya.

Kacau nih! Siapa biang keroknya sih! Baru juga hari kedua, udah ada masalah kayak gini. Setahu saya hanya tim ikan dan amfibi yang main air, tapi mereka kan nggak main racun.

Saya membayangkan puluhan laki-laki tinggi besar berotot, dengan wajah tegang dan garang, tangan kokohnya pegang senjata tajam. Berteriak-teriak marah dengan suara tinggi melengking. Modiarrr…..

“Waaah..bahaya kita ini, gimana ini mas?”, tanya Farid dengan logat Makassarnya yang sekental kopi tubruk, mencoba berbisik, tetapi tetap terdengar keras. Buyarlah lamunan saya.

“Gini aja. Kalian berdua, tolong beritahu kawan-kawan di dapur, kita akan kedatangan tamu. Ingat ya, para pemandu kita kan juga dari Dabra, jadi jangan cerita macam-macam yang bikin heboh”. Mereka mengangguk lalu menyeberangi Furu menuju tenda dapur.

Saya langsung lari ke tendanya Jeri. Saya mau penjelasan dari ahlinya kenapa banyak ikan yang mati ngambang. Coba matinya tenggelem, kan nggak keliatan!. Uhhh…

Jeri sedang duduk dekat tendanya sambil menulis di buku catatannya. Tanpa basa-basi, saya langsung ceritakan adanya warga yang marah karena mereka menemukan banyak ikan mati di Sungai Furu. Ia tampak terkejut, menunduk, menutupi wajahnya dengan satu tangan, lalu terdengar suara lirih,”Ooohhh…my Goddd…”.

Gerak tubuh dan intonasinya sudah cukup bagi saya untuk meyakini something went wrong.

“Pak Jeri.., those angry people will be here anytime. So please tell me what’s happen?”

Shame on me…”, kata Jeri sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Dengan ringkas Jeri mengaku salah mengestimasi kecepatan aliran air ketika pertama kali menaburkan rotenon. Hasilnya mengecewakan sehingga dia menaburkan lagi rotenon di area yang sama. Ia baru menyadari akibatnya ketika menemukan ikan yang terapung dan hanyut di arah hilir. Mereka telah berusaha mengumpulkan ikan-ikan yang hanyut itu. Namun ternyata kegiatan itu sempat terlihat oleh beberapa warga Dabra yang melintasi Sungai Furu.

Damn!!! Assumption is a mother of fuck up!!!, pikir saya dalam hati.

Belum sempat mengatur strategi, suara-suara ribut mulai terdengar dari arah Sungai Furu. “Mana kepala rombongannya?”, seseorang berteriak lantang.

Ahh, tamu-tamu saya sudah tiba. Begitu juga kontraksi di perut saya. Sebentar ya….

 

* Kesamaan nama dalam tulisan ini semata-mata karena takdir, sehingga  tidak sepenuhnya sebuah kebetulan belaka.

Catatan Kakiku: Mistakes occur through haste, never through doing a thing leisurely (Kata bijak dari China). Sepandai-pandainya ahli melompat, suatu saat kepleset juga.

Pesan dari sebutir gigi

Selama tiga dasawarsa lebih menghuni bumi, saya tak pernah ke dokter gigi karena tak pernah sakit gigi. Hingga suatu senja, sang gigi mulai cari perhatian. Seperti gesekan biola yang mendengking naik lima oktaf. Ngilunya itu mememilukan. Mata terpicing menahan nyeri hingga mulut mendesis.

Cenat-cenut itu timbul, hilang, timbul, hilang, timbul lagi seperti gelombang yang tak bosan menerpa pantai. Teman menyarankan minum air garam. Puihhh…. nggak manjur. Makin perih, makin ngilu, dan bonus rasa asin pahit.

Gawat nih. Besok saya harus ke Jakarta. Gigi ini tak boleh menggagalkan rencana. Dengan pasrah saya datangi klinik gigi dekat pasar Jayapura, di ujung jalan Diponegoro. Kliniknya sepi. Hanya seorang perempuan di ruang tunggu, dengan suara lembut dan tatapan sendu. Apa semua pegawai klinik gigi bertampang sendu kayak gitu? Biar kelihatan simpati, gitu?

Lelaki setengah baya, rambut dan kumisnya nyaris putih merata, berkemeja dengan jas putih khas dokter menyambut saya. Diiringi senyum tipis, saya diminta duduk di kursi pasien. Sebuah kursi santai setengah terlentang, berwarna hitam dengan sandaran tangan berlapis kulit imitasi. Lampu sorot kecil dengan kaca kusam dan seperangkat alat berbahan stainless steel terletak di sisi kanan dan kiri kursi santai ini.

Tanpa banyak bicara, saya tiduran dengan mulut menganga, terbuka selebar-lebarnya. Berbekal dua alat di tangan, dokter tua ini mulai mengorek, menggoyang, dan mengetuk-ngetuk gigi saya.

Saya kontan menjerit,”dzzok…zangan zigezok zong, zakik izu…!”.

Nggak ngepek. Si dokter malah menjawab santai, ”giginya berlubang nih, sudah retak, dicabut aja ya”. Eeebuzzettt….

“Dok, saya baru kali ini sakit gigi, masa’ langsung main cabut aja. Nggak mau ah…”, jawab saya setelah tidak ada alat di rongga mulut.

“Ya sekarang ditambal dulu, kalau sudah tidak sakit baru dicabut”.

“Kalau udah nggak sakit berarti sembuh dong,” bantah saya.

Dokternya hanya sekilas menatap saya dengan raut muka datar, lalu memberi kode agar saya membuka mulut. Cara jitu membungkam pasien cerewet. Mangap…

Sekitar lima belas menit, ngilu itu perlahan lenyap, aroma cengkeh merebak di rongga mulut. Enak banget nih dokter gigi. Dapat penghasilan dari mulut orang. Lha kalau kita kan dapat penghasilan dari mulut sendiri, ngomong di sana, presentasi di sini. Ah sudahlah, episode pertama prahara gigi selesai.

—–

Penerbangan Jayapura-Jakarta berjalan tanpa derita hingga tiba di rumah. Satu jam di rumah, sekali lagi, hanya satu jam sodara-sodara. Si gigi bertingkah lagi. Nyeri itu merambat dari satu simpul ke simpul syaraf lainnya, menular cepat, merangsang derita baru di pipi kiri.

Saking paniknya, saya ingin telpon rumah sakit untuk kirim ambulan. Eits, apa pernah ada dalam sejarah, ambulan nguing-nguing menerobos kemacetan untuk membawa satu pasien sakit gigi? Ah, kelamaan nunggu ambulan. Ojek solusinya, RS. Azra di Bogor tujuannya, 30 menit waktunya.

Nyeri ngilu itu terus berdenyut tanpa belas kasihan. Dengan kondisi begini, jangan sampai ada yang nyanyi “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi iiiini, biar tak mengapa….”.  Saya pastikan ada batu melayang ke jidatnya..!

Antrian pasien dokter gigi membuat saya nyaris histeris. Mereka duduk tenang dan khusyuk. Sedangkan saya harus menggeretakkan gigi dan mendesis. Sang gigi seolah sedang melancarkan demo anarkis kepada pemiliknya yang tak peduli. Semoga gigi sialan ini tidak menghasut gigi lainnya untuk ikut demo.

Saya terbawa arus lamunan.

“Aku kan stakeholder pertama dan utama dalam proses pencernaan makanan untuk tubuhmu. Kenapa kau tak merawatku?”, protes Gigi.

“Saya kan sudah sikat gigi tiap hari”

“Nggak cukup, tauk….”. Cetuttt…Satu rumpun syaraf gigi dibetotnya. Arkhh….

“Tttapi…tapi…itu kan TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) kalian untuk memotong, menghancurkan, dan melumat makanan sebelum kutelan?,” jawabku membela diri.

“Kalau itu tupoksi kami, so what? Apa kami dapat membersihkan karang gigi sendiri? Menambal lubang gigi sendiri?”.

“Kalian bertanya atau menggugat sih?”

“eeh, masih nanya? Coba bayangkan, jika gigi itu sama dengan hutan yang tidak kalian rawat dengan baik, lalu kalian robohkan pohon-pohonnya, kalian bunuh hewannya. Siapa yang kelak menderita?”

Jlebb..! Pikiran saya langsung melintir ke gugusan hutan pegunungan Cagar Alam Cyclops di Jayapura. Selama ini hutan Cyclops telah menjalankan TUPOKSInya sebagai sumber air dan udara bersih. Masyarakat Jayapura, Abepura, Sentani, dan puluhan desa di sekeliling Cyclops sangat tergantung pada kesehatan hutan Cyclops.  Apa jadinya jika hutan Cyclops makin bolong dan berlubang? Silakan cek di toko sebelah, adakah berita kekurangan air, banjir, erosi, longsor, dan pendangkalan Danau Sentani?

Alamaak. Lebih banyak jenis deritanya daripada sakit gigi. Lebih banyak pula orang yang terkena dampaknya. Tak ada makanan yang lezat ketika sakit gigi, dan tak ada makan enak di tenda pengungsian banjir. Lalu siapa yang harus peduli dan merawat “gigi-gigi” di hutan Cyclops?

Saatnya menghadap Drg. Tjut. Orangnya menyenangkan. Banyak senyum, banyak cerita. Ruang praktiknya jauh lebih bersih dan nyaman. Dengan bantuan asistennya, ritual pemeriksaan dilakukan. Dia katakan ada yang retak, tapi coba ditambal dulu. Adonan putih rasa cengkeh pun tertanam di lubang gigi. Saya harus kembali dua minggu lagi untuk tambal permanen. Syaraf-syaraf gigi tentram.

Seperti filem-filem holiwud, dua episode tidak cukup bagi gigi untuk membalaskan dendamnya. Usia tambalan permanen hanya sebulan. Terpaksa dibongkar lagi, lagi, dan lagi. Biaya setiap kunjungannya EMPAT kali lipat daripada di Jayapura. Hadeuh… Seandainya saya mendengarkan saran dokter gigi setengah baya di Jayapura.

Ibarat kasus hukum, sudah vonis di pengadilan negeri, masih ada banding di pengadilan tinggi, kasasi di mahkamah agung, lalu Peninjauan Kembali, Peninjauan Kembali lagi, lalu capek, lalu bosan.

Setelah lima kali bolak-balik, Yang Mulia Drg. Tjut mengeluarkan vonis. Gigi sialan itu terbukti secara sah dan meyakinkan sebagai penyebab sakit gigi berkelanjutan. Oleh karenanya, Gigi itu harus dicabut keberadaannya dari  rongga mulut, dan pemilik gigi menanggung seluruh biaya dokter gigi !!!

Gigi mengingatkan saya untuk memperhatikan saran dan pendapat Senior Berpengalaman di lapangan sebelum bertindak. Pangkat, jabatan, golongan, gelar akademis tak sebanding dengan pengalaman mereka melindungi hutan dengan hati dan simpati.

Mungkin permasalahan di hutan-hutan konservasi sama dengan gigi saya. Kurang terpelihara. Asyik dengan diri sendiri, mengobati gejala secukupnya, dan tidak segera mencabut akar masalahnya. Akibatnya kita butuh lebih banyak biaya, waktu, dan tenaga plus bonus derita berkelanjutan. Jika ada yang berprinsip banyak masalah itu banyak rezeki, cobalah merasakan sakit gigi.

Catatan Kakiku: Yang tua memang kurang gaya, tapi pengalaman sejati tak pernah bohong. Ini bukan masalah kemampuan, tetapi kemauan.

Pet Detective van Java

 

Tugas yang aneh. Target Operasi: owa jawa (Hylobates moloch) yang dipelihara masyarakat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berasa disuruh nyari jerami ditumpukan jarum gak sih?

Kalau sudah ketemu, mau diapain? Nah ini dia, cuma sedot sedikit darahnya atau cabut beberapa helai rambutnya. Gampang? Bah!!!! Mana ada owa jawa yang ikhlas sukarela jadi donor darah atau dicabut rambutnya?

Terus buat apa darah dan helaian rambut itu? Kayak nggak ada kerjaan lain aja. Yeee emang nggak ada.

Sebagaimana yang diketahui masyarakat ilmiah, si Owa jawa hanya ada di pulau Jawa, alias endemic. Penyebarannya terbatas di kantung-kantung kawasan konservasi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Mengingat tempat hidupnya sudah terbelah-belah oleh jalan, perkotaan, pemukiman, dan pertanian sejak lama, maka diduga adanya penurunan keragaman gentik.

Ilustrasinya begini. Keluarga owa jawa di Ujung Kulon sudah tak mungkin kawin dengan owa Jawa di Gunung Pangrango, apalagi dengan populasi di Gunung Slamet. Secara alami mereka kawin dengan individu yang ada toh? Nah, sifat-sifat genetika yang diturunkan menjadi kurang bervariasi. Bandingkan dengan orang jawa yang kawin dengan berbagai suku bangsa, maka tampilan genetikanya makin beragam kan?

Dengan logika ilmiah seperti itu, Pusat Studi Biodiversitas Universitas Indonesia ingin memastikan apa betul telah terjadi penurunan keragaman genetika owa jawa. Dengan bantuan teknologi canggih, kita sudah dapat mengidentifikasi keragaman genetika suatu spesies dari materi genetik berupa darah, feces, dan akar rambut. Maka pada tahun 1995-1996, dibentuklah tim pet detective untuk “berburu” owa jawa.

Idealnya materi genetik itu didapatkan dari satwa yang hidup di alam liar. Tapi asal tau aja nih, untuk bisa melihat owa jawa di hutan alami itu pekerjaan setengah mati. Apalagi merayu owa untuk turun dari atas pohon, lalu kita ambil darahnya atau cabut bulunya. Serius, itu pekerjaan dua kali setengah mati!!

240px-Silbergibbon_mit_Nachwuchs

Photo from id.wikipedia.org

Owa jawa hidup dalam norma keluarga kecil bahagia (bapak-ibu dan 1-2 anak) di bagian tengah dan kanopi pohon. Bergeraknya dengan tangan (brakiasi), bergayutan dari pohon ke pohon, mirip akrobat sirkus dengan kecepatan naujubilah. Kita hanya sempat dengar grusak…grusakkk…beberapa detik kemudian si Owa memandang kita dengan tatapan sedih dari kejauhan, “Suck my blood if you can, bro…”

Kalau kita yang lebih dulu melihat owa, lalu mereka kaget, dan kabur terkencing-kencing sambil buang kotoran dari ketinggian. Akibatnya, kotoran padat dan cair itu berhamburan kayak hujan. Di situ kadang saya merasa sedih campur senang menjadi…. shit collector!!!

Untuk menyiasati kesulitan itu, kita juga mencari owa jawa di kebun binatang dan yang dipelihara masyarakat. Dari masyarakat? Jangan kaget dulu ah, waktu itu Undang-Undang Konservasi umurnya masih balita. Peraturan Pemerintahnya juga belum lahir. Sebagai kebijakan transisi, masyarakat yang memelihara satwa liar dilindungi wajib lapor ke BKSDA. Satwanya dianggap milik Negara yang “dititipkan” ke masyarkat untuk jangka waktu tertentu. Jika habis jangka waktunya, ya harus lapor lagi. Hebat kan?

Berbekal daftar satwa yang yang dilaporkan masyarakat ke BKSDA Jawa Barat dan Jawa Tengah, pet detective mulai beraksi. Rute perjalanan dari kota ke kota disusun berdasarkan alamat para pemelihara owa jawa.

Bakal banyak sampel nih, pikir saya penuh harap dan keyakinan. “wah, hadu pemburu berdarah owa nih kita,” kata Roso, teman perjalanan saya. Mobil Jimni biru tahun 1984 menjadi saksi bisu perjalanan berdarah ini.

Dua puluh alamat target telah kita telusuri, tujuh ratus kilometer telah kita jalani. Rasa frustrasi saya itu tergambarkan sempurna pada lagunya Ayu Tingting, Alamat Palsu. “Ke mana, ke mana, ke mana…kuharus mencari ke mana…”. Gimana gak palsu coba, ketua RTnya saja tidak tahu alamat yang kita sodorkan. Arghh…

Ketika alamat berhasil ditemukan, eh…satwanya sudah mati. Apakah masyarakat lapor ke BKSDA setelah satwanya mati? Jiaaah….ujan bekelir deh kalo mereka lapor...

Di beberapa alamat juga ditemukan jenis satwa yang berbeda dengan yang dilaporkan ke BKSDA. Lapornya owa jawa, ternyata pelihara siamang. Apakah masyarakat tidak tahu jenis satwa yang dipelihara ATAU pegawai BKSDA tidak memverifikasi jenis yang dilaporkan? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. Yang pasti bukan ATAU…

Saya salah. Seharusnya saya berharap pada Tuhan, bukan pada sebuah daftar buatan manusia. Sigh!!!

Dengan kondisi seperti itu, bagaimana pihak berwenang memonitor kesehatan satwa-satwa dilindungi yang katanya “milik Negara” itu? Apakah surat penitipan satwa itu diperpanjang para pemelihara satwa? Tentu tidak.

Bukankah surat itu dapat di salahartikan dan disalahgunakan pemelihara satwa sebagai bukti kepemilikan? Bagaimana kita tahu bahwa satwa yang “dititipkan” itu tidak dijual beserta surat penitipan itu? Ah, lebih baik kita tanya pada yang berenang saja, karena yang berwenang juga kemungkinan tidak tahu.

Sudah kadung berkelana, perburuan owa jawa harus dikombinasi dengan metode tanya sana-sini secara acak di setiap kota. Itu jelas bukan random sampling method. Itu metode kepepet random. Tanya pemilik hotel, warung makan, bengkel mobil, tukang tambal ban, bahkan supir truk dan mobil boks yang sedang rehat. Hasilnya lumayan. Kita menemukan owa jawa yang dipelihara di kampung dan di kota, dan tidak terdeteksi pihak berwenang.

Girangnya kami saat menemukan owa jawa yang dipelihara itu seperti Archimedes, cuma kita tidak teriak-teriak Eureka..Eureka..!!!. Cukup senyum bahagia, lalu melancarkan jurus bujuk rayu agar kita diizinkan mencabut beberapa helai rambut sampai ke akarnya atau sedot darah.

Kebanyakan owa jawa dipelihara di kandang yang sempit, sekitar 1Mx1Mx1,5M. Itu lebih tepat disebut penjara daripada kandang. Jarang ada kandang yang memungkinkan owa bergelantungan dan bergerak bebas.

Makanannya bukan ala carte, tapi ala kadarnya. Beruntung jika ada yang memberinya pisang, pepaya, singkong, ubi, dan nasi sisa pemeliharanya. Ada satu owa jawa yang baru mau menjulurkan tangan untuk dicabut bulunya setelah diberi permen. Bukan sembarang permen, musti merek kopiko! Belagu sih, tapi kasihan kan? Pemiliknya pasti punya hobi ngemut-ngemut.

Lain lagi dengan Wagimin yang tinggal di Tegal. Dia sangat keqi dengan owa jawa jantan dewasa yang dipeliharanya. “Galak kalau didekati laki-laki mas. Nurutnya cuma sama istri nyong”, kata Wagimin dengan logat Tegalnya yang mirip pelawak Kholiq. Asli lho…

Memang brutal sekali owa tegal ini. Dia ogah mengambil pisang yang kita sodorkan, malah “angop” sambil pamer gigi taring. Kalau kita terlalu dekat, dia akan goyang-goyang kandangnya. Well, demi beberapa helai rambutnya, kita terpaksa nunggu istrinya Wagimin pulang dari pasar. Asemmm!

“Bukan cuma galak mas, binatang ini juga kurang ajar,” jelas Wagimin.

“kurang ajar gimana pak?”, tanya saya penasaran.

“Itu lho, kalau istri nyong ngelus-ngelus tangannya, khewan ini jadi napsu. Jadi berdiri burungnya…”.

Hah? Saya nyerah menahan tawa. Udah modulasinya kayak Kholiq, intonasinya pun melooooow banget.

“Jadi cemburu nih, ceritanya?, ledek saya.

“Walah…mosok inyong cemburu sama monyet”.

“Makanya pak, dilepas aja, atau dikawinin”, pancing Roso yang baru kelar ngakaknya.

“Ya kalau ada pasangannya, sini inyong kawinin. Tapi mas kawinnya apa ya? Hahaha…”

 

Catatan Kakiku: Owa jawa dan satwa liar yang dipelihara juga sama dengan manusia, punya kebutuhan biologis dan perlu kasih sayang…

Sang LSM

Bagi orang yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat, naik pesawat di kelas bisnis tergolong langka. Bahkan setelah bekerja di organisasi PBB pun, saya tidak punya hak untuk duduk di kelas bisnis. Bukannya tabu atau tak mampu, tapi malu hati untuk menganggarkannya. Toh penumpang yang duduk di kelas bisnis dan ekonomi akan tiba di tempat tujuan yang sama, pada waktu yang sama. Paling penumpang bisnis boleh turun dari pesawat lebih dulu.

Namun ketika Tuhan sudah berkehendak, maka tak ada pilot atau pramugari yang sanggup menghalangi kita untuk mencicipi kelas bisnis. Banyak hal dapat terjadi dengan cara Tuhan yang tidak kita duga sebagai bantuan Tuhan kepada hambaNya. Termasuk menempatkan saya di kelas bisnis Merpati Airlines dalam penerbangan dari Jayapura ke Jakarta via Makassar.

Kok Merpati? Sabar kawan,….tempus delictinya lima belas tahun lalu. Trayek Jakarta-Jayapura hanya dilayani oleh Garuda dan adiknya si Merpati yang hari terbangnya bergantian.

Hanya ada enam orang yang menghuni kelas bisnis, sementara di kelas ekonomi penuh sesak. Perbedaan yang mencolok hanyalah ukuran tempat duduk yang lebih besar, lebih empuk, dan ruang kaki lebih lega plus alat makan yang bebas plastik. Di deretan kursi paling belakang kelas ekonomi, biasanya dialokasikan bagi para ahli hisap. Ingat, saat itu masih banyak armada yang memanjakan para perokok. Sekarang? Don’t even think about it.

Di atas lautan antara Biak dan Maluku, ada desakan yang mengharuskan saya ke toilet. Letak toilet di bagian depan, antara pintu pilot dan lorong “dapur pramugari”. Ah, ternyata toiletnya sama dengan yang di kelas ekonomi. Kirain ada shower dan bak mandinya.

Ketika keluar dari toilet, mata saya langsung terpaku pada seorang bapak yang berdiri di lorong dapur pramugari. Tinggi besar, gagah, kulit sawo matang banget, berkumis tebal, rambut kriting pendek, berkemeja, dan celana jins. Perlente lah. Ia asyik ngobrol dengan pramugari. Penumpang lain tak dapat melihat adegan ini karena adanya tirai yang menghalangi antara kabin dan lorong dapur.

Yang membuat saya keqi adalah benda yang terjepit antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Sebatang rokok yang menyala. Eh buset…kontan saya bertanya,”Lho pak, emang boleh ngerokok ya?”.

Hening sejenak. Pandangan saya berpindah-pindah dari si bapak dan pramugari.

“Nggak apa-apa lah. Kan cuma sebentar,” jawab si bapak. Pramugari tetap diam lalu menjauh.

“Lho kalau bapak boleh, saya juga ikutan lah”.

“Yaudah, sini temenin saya”. Senyumnya merekah

Saya pun merapat ke sebelahnya. Dengan ramahnya si bapak menawarkan kopi lalu meminta pramugari membuatkannya untuk saya.

Arghhh…apakah ini salah satu layanan kelas bisnis? Jangan-jangan ini bosnya Merpati? Asap pun mengudara dan tersedot ke dalam kisi-kisi yang ada di pojok atas. Dua pramugari terlihat mojok di sudut dekat pintu keluar.

Mengalirlah obrolan yang bermula dari mana, mau ke mana, tinggal di mana, hingga menjurus ke profesi.

“Kerja di mana dik?”, tanya si bapak.

“Di LSM konservasi, kalau bapak?”

“Sama dong, saya juga LSM”

Belum sempat saya nanya lebih lanjut, si bapak membombardir saya dengan pertanyaan kegiatan yang dilakukan lembaga tempat saya bekerja. Setengah sadar, saya ceritakan kegiatan-kegiatan pelatihan, penelitian, pendidikan lingkungan, pemantauan illegal logging dan perdagangan satwa liar di Papua.

“Wah menarik juga ya. Sudah ke Pasar Hamadi belum? Kayaknya di situ masih ada yang jualan binatang ya?”

“Lha itu. Selama ada permintaan, pasti ada yang suplai lah”.

“Saya dengar di Jakarta juga banyak yang jual burung dari Papua”.

“Banyak jalan menuju Jakarta pak. Mana sanggup kita mendeteksi semua kapal barang, termasuk kapal perang yang menuju Jakarta”.

“Kapal TNI maksudnya?”

“Lhaaaa… emang yang punya kapal perang siapa? Ini yang paling susah. Saya sih belum pernah lihat, tapi ada yang bilang kapal perang itu sudah seperti kebun binatang saat berangkat dari Jayapura membawa pasukan. Siapa sih yang berani inspesksi kapal perang, coba? Belum lama kan ada tuh kasus puluhan burung yang disita BKSDA Papua dari kapal perang? Tapi ya…ujung-ujungnya satwa terpaksa dikembalikan”.

“Hmmm gitu ya? Gimana kalau kapan-kapan adik mampir ke kantor, nanti saya kumpulkan anak buah saya. Biar tambah wawasannya, terutama soal perdagangan satwa”.

“Oh dengan senang hati pak,”sambut saya dengan cepat. “Ngomong-ngomong, bapak ini LSMnya bidang apa sih?, terus kapan kembali dari Surabaya?”

“Kelautan”, jawabnya singkat sambil menyeruput sisa kopi yang sudah dingin.

Mendadak saya ingat, sudah lebih satu jam kita ngobrol tapi belum kenalan. Saya merogoh dompet untuk mengeluarkan kartu nama. Awak kabin mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Makassar sekaligus perintah agar penumpang kembali ke habitatnya masing-masing.

“Waduh kita belum kenalan nih. Saya juga belum tahu di mana kantor bapak. Ini kartu nama saya pak”. Si bapak mengambilnya, membaca sebentar, lalu mengambil selembar kartu nama dari dompetnya. Saya terima kartunya tanpa sempat membaca karena sudah diusir pramugari dengan santun.

“Minggu depan saya sudah di Jayapura lagi kok. Kabar-kabari ya kalau mau mampir,” katanya dengan ramah sambil menjabat tangan saya. Deretan gigi putih dan kumis hitam lebatnya terpapar di wajahnya. Abis dah pasaran anak LSM yang masih jomblo…

Jarang-jarang nih ada orang LSM yang gagah kayak gini. Berapa banyak ya anak buahnya? Bagus juga sih kalau ada LSM kelautan yang memantau perdagangan satwa laut dan pesisir, pikir saya.

Setelah duduk, saya lihat kartu nama yang tadi saya kantungi di saku baju. Gleg…saya tertegun sejenak. Posisi duduk saya makin tegak sambil menatap kartu nama lekat-lekat.

Nama “LSM” yang tertulis di bagian atas kartu nama adalah Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V Jayapura (sekarang sudah jadi Lantamal X). Nama si bapak tadi adalah Laksamana Pertama Frenky K****** dengan jabatan Komandan.

Sialan…. jadi tadi tuh dia bilang LSM itu maksudnya Laksamana? Mampus dah gua… Si bapak tampak duduk di bagian depan kelas bisnis dengan antengnya.

Begitulah rencana Tuhan yang sempurna. Melalui sang LSM ini, terbukalah jalan saya untuk bertemu dengan Pangdam Cendrawasih dan Kapolda Papua, yang selanjutnya memuluskan program Enforcement Economics of illegal logging and wildlife trade di Papua selama tiga tahun. Alhamdulillah.

Catatan Kakiku: Tuhan selalu punya rencana terbaik yang tak pernah kita duga.