Overdosis di Mamberamo Papua

Empat hari yang lalu saya terserang diare dengan bonus perut kembung, melilit, dan mual. Tanpa stetoskop, saya dapat mendengar betapa berisiknya bunyi di dalam perut. Setiap kali otot usus berkontraksi, saya harus gerak cepat ke toilet kalau nggak mau kebobolan.

Kontraksi-ke toilet-minum obat diare. Begitulah ritualnya selama 24 jam. Entah berapa butir obat yang saya telan dengan khusyuk. Yang pasti adalah dua jenis tablet maag, sirup maag, satu jenis tablet diare, dan satu puyer diare. Rasanya sama, pahit semriwing.

Setelah 30 jam, akhirnya kontraksi berhenti tanpa tahu obat mana yang paling tokcer. Eehh…saking tokcernya, sudah 48 jam saya malah nggak bisa buang air besar (BAB). Kurang ajar kan nih perut? Apa saya saya musti minum pencahar perut supaya bisa BAB lagi? Hmmm, apa ini yang namanya overdosis? Hadeuhh.

Ngomongin overdosis, membawa ingatan saya melayang ke peristiwa beberapa tahun lalu yang nyaris menjadi insiden internasional. Saat itu saya bekerja di organisasi Conservation International untuk melakukan pelatihan dan penelitian keanekaragaman hayati di hutan sekitar Dabra, Lembah Sungai Mamberamo (sekarang Kabupaten Mamberamo Raya, Papua). Kawasan ini jarang diteliti sehingga semua peserta antusias untuk menemukan spesies baru.

RAPKegiatan ini diikuti oleh 20 orang yang berasal dari Indonesia, Papua New Guinea, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Kita terbagi ke dalam kelompok tumbuhan, ikan, amfibi-reptil (herpet), burung, mamalia, serangga air, dan kupu-kupu. Selain mengkoordinir kegiatan, saya bergabung dengan tim burung bersama Bas van Ballen dan David Kalo.

Suatu hari tim burung menyusuri rute di tepi Sungai Furu yang bermuara ke Sungai Mamberamo (nama lainnya Idenburg River). Sekitar jam 9 pagi, kami berjumpa tim ikan yang asyik main air.

Paul dan Heni membentangkan jaring khusus untuk menangkap sampel ikan yang akan diidentifikasi. Sang ahli ikan dari Australia yang kita namakan Jeri, menaburkan rotenon dari jarak sekitar 50 meter ke arah hulu. Rotenon ini semacam bubuk tuba yang terbuat dari suatu jenis tanaman yang lazim digunakan untuk penelitian ikan. Setelah dicampur dengan air, rotenon disebarkan ke bagian sungai yang aliran airnya lambat. Ikan-ikan akan mabuk, semaput, atau lambat geraknya sehingga lebih mudah ditangkap atau terbawa arus air lalu masuk ke dalam jaring.

Sejujurnya saya ingin terus bermain di air jernih Sungai Furu yang dalamnya hanya selutut sambil mengejar-ngejar ikan yang puyeng di sela bebatuan. Tetapi kami harus bergerak menuju rute pengamatan burung selanjutnya. Kami pun berpisah untuk kembali menyusuri Sungai Furu menuju Sungai Mamberamo.

Berhadapan dengan Sungai Mamberamo seperti melihat laut berwarna coklat susu. Inilah Amazon-nya Indonesia. Penghulunya sungai di Papua. Membentang dari tengah-tengah Papua menuju pesisir utara. Ratusan anak sungai berukuran kecil hingga sebesar Sungai Roffaer dari arah barat dan Sungai Idenburg dari arah timur membentuk raksasa Sungai Mamberamo. Berkelok-kelok, mengular, melebar menuju pantai utara Papua.

Di lembah Sungai Mamberamo inilah terletak Suaka Margasatwa Rouffaer seluas 310.000 hektar dan SM Pegunungan Foja seluas 1.018.000 hektar. Di area ini pula sempat diusulkan pembangungan bendungan raksasa yang akan merendam lembah Mamberamo beserta keanekaragaman hayatinya.

Beningnya air Sungai Furu seolah ditelan bulat-bulat oleh raksasa Mamberamo yang bertubuh coklat. Dari sungai inilah masyarakat mendapatkan ikan mas dan lele dumbo seukuran betis orang dewasa. Bahkan di sinilah tempat berburu buaya air tawar Crocodylus novaeguinea yang kulitnya bernilai jual. Saya cukup beruntung mendapatkan makan siang berupa seekor lele dumbo yang dibakar tanpa bumbu, tanpa nasi (Note: Lele dumbo dan ikan mas ini bukan asli Papua. Puanjaaaang ceritanya sampai ikan-ikan itu menghuni Mamberamo).

Sore hari menjelang magrib, saya sudah kembali ke Camp Furu, tempat seluruh peserta kegiatan ini bermarkas. Tenda dome berbaris dinaungi terpal biru di tepi Sungai Furu.

Doni, anggota tim urusan logistik, tampak berlari tergesa-gesa menemui saya.

“Mas…Gawat mas…, gawaaatt!!!” teriaknya dengan tampang pucat dan gugup.

“Eh, kenapa kau?”, tanya saya heran.

“orang kampung Dabra marah sama kita, mas. Mereka mau ke sini, bawa parang sama tombak!”

“Hah?….ini ada apa sih? Sini..sini..tenang…ceritain kenapa mereka tiba-tiba marah, ada masalah apa?”.

Antara bingung dan panik, Doni terduduk lemas di tepi Sungai Furu. Saya panggil Farid, rekan kerja saya di Jayapura untuk mendengarkan.

“Gini mas. Tadi saya ke kampung. Belanja sayur dan buah. Ternyata di kampung lagi heboh, ada anggota DPRD dari Jayapura”.

“lha hubungannya sama kita apa?,” potong saya. Gantian saya yang nggak sabar.

“Masyarakat melaporkan kita meracuni air Sungai Furu. Ada warga yang menemukan banyak ikan ngambang di sungai. Orang DPRD bilang mau laporkan kasus ini ke Jayapura. Tetua adat jadi ikut marah, terus masyarakat mau mengamuk. Jadi sekarang mereka sedang berperahu ke sini. Banyak sekali mas. Mereka bawa parang dan tombak. Makanya saya cepat-cepat kembali, takut mereka mau serang kita!”.

Eh busyeeettt….!!!

Saya dan Farid saling bertatapan. Kening mengkerut, melongo, membisu. Sedangkan para peneliti yang tidak tahu apa-apa masih asyik ngobrol dan tertawa. Ada yang memainkan GPS, menulis di buku, dan melihat-lihat hasil jepretan foto di kameranya.

Kacau nih! Siapa biang keroknya sih! Baru juga hari kedua, udah ada masalah kayak gini. Setahu saya hanya tim ikan dan amfibi yang main air, tapi mereka kan nggak main racun.

Saya membayangkan puluhan laki-laki tinggi besar berotot, dengan wajah tegang dan garang, tangan kokohnya pegang senjata tajam. Berteriak-teriak marah dengan suara tinggi melengking. Modiarrr…..

“Waaah..bahaya kita ini, gimana ini mas?”, tanya Farid dengan logat Makassarnya yang sekental kopi tubruk, mencoba berbisik, tetapi tetap terdengar keras. Buyarlah lamunan saya.

“Gini aja. Kalian berdua, tolong beritahu kawan-kawan di dapur, kita akan kedatangan tamu. Ingat ya, para pemandu kita kan juga dari Dabra, jadi jangan cerita macam-macam yang bikin heboh”. Mereka mengangguk lalu menyeberangi Furu menuju tenda dapur.

Saya langsung lari ke tendanya Jeri. Saya mau penjelasan dari ahlinya kenapa banyak ikan yang mati ngambang. Coba matinya tenggelem, kan nggak keliatan!. Uhhh…

Jeri sedang duduk dekat tendanya sambil menulis di buku catatannya. Tanpa basa-basi, saya langsung ceritakan adanya warga yang marah karena mereka menemukan banyak ikan mati di Sungai Furu. Ia tampak terkejut, menunduk, menutupi wajahnya dengan satu tangan, lalu terdengar suara lirih,”Ooohhh…my Goddd…”.

Gerak tubuh dan intonasinya sudah cukup bagi saya untuk meyakini something went wrong.

“Pak Jeri.., those angry people will be here anytime. So please tell me what’s happen?”

Shame on me…”, kata Jeri sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Dengan ringkas Jeri mengaku salah mengestimasi kecepatan aliran air ketika pertama kali menaburkan rotenon. Hasilnya mengecewakan sehingga dia menaburkan lagi rotenon di area yang sama. Ia baru menyadari akibatnya ketika menemukan ikan yang terapung dan hanyut di arah hilir. Mereka telah berusaha mengumpulkan ikan-ikan yang hanyut itu. Namun ternyata kegiatan itu sempat terlihat oleh beberapa warga Dabra yang melintasi Sungai Furu.

Damn!!! Assumption is a mother of fuck up!!!, pikir saya dalam hati.

Belum sempat mengatur strategi, suara-suara ribut mulai terdengar dari arah Sungai Furu. “Mana kepala rombongannya?”, seseorang berteriak lantang.

Ahh, tamu-tamu saya sudah tiba. Begitu juga kontraksi di perut saya. Sebentar ya….

 

* Kesamaan nama dalam tulisan ini semata-mata karena takdir, sehingga  tidak sepenuhnya sebuah kebetulan belaka.

Catatan Kakiku: Mistakes occur through haste, never through doing a thing leisurely (Kata bijak dari China). Sepandai-pandainya ahli melompat, suatu saat kepleset juga.

Pesan dari sebutir gigi

Selama tiga dasawarsa lebih menghuni bumi, saya tak pernah ke dokter gigi karena tak pernah sakit gigi. Hingga suatu senja, sang gigi mulai cari perhatian. Seperti gesekan biola yang mendengking naik lima oktaf. Ngilunya itu mememilukan. Mata terpicing menahan nyeri hingga mulut mendesis.

Cenat-cenut itu timbul, hilang, timbul, hilang, timbul lagi seperti gelombang yang tak bosan menerpa pantai. Teman menyarankan minum air garam. Puihhh…. nggak manjur. Makin perih, makin ngilu, dan bonus rasa asin pahit.

Gawat nih. Besok saya harus ke Jakarta. Gigi ini tak boleh menggagalkan rencana. Dengan pasrah saya datangi klinik gigi dekat pasar Jayapura, di ujung jalan Diponegoro. Kliniknya sepi. Hanya seorang perempuan di ruang tunggu, dengan suara lembut dan tatapan sendu. Apa semua pegawai klinik gigi bertampang sendu kayak gitu? Biar kelihatan simpati, gitu?

Lelaki setengah baya, rambut dan kumisnya nyaris putih merata, berkemeja dengan jas putih khas dokter menyambut saya. Diiringi senyum tipis, saya diminta duduk di kursi pasien. Sebuah kursi santai setengah terlentang, berwarna hitam dengan sandaran tangan berlapis kulit imitasi. Lampu sorot kecil dengan kaca kusam dan seperangkat alat berbahan stainless steel terletak di sisi kanan dan kiri kursi santai ini.

Tanpa banyak bicara, saya tiduran dengan mulut menganga, terbuka selebar-lebarnya. Berbekal dua alat di tangan, dokter tua ini mulai mengorek, menggoyang, dan mengetuk-ngetuk gigi saya.

Saya kontan menjerit,”dzzok…zangan zigezok zong, zakik izu…!”.

Nggak ngepek. Si dokter malah menjawab santai, ”giginya berlubang nih, sudah retak, dicabut aja ya”. Eeebuzzettt….

“Dok, saya baru kali ini sakit gigi, masa’ langsung main cabut aja. Nggak mau ah…”, jawab saya setelah tidak ada alat di rongga mulut.

“Ya sekarang ditambal dulu, kalau sudah tidak sakit baru dicabut”.

“Kalau udah nggak sakit berarti sembuh dong,” bantah saya.

Dokternya hanya sekilas menatap saya dengan raut muka datar, lalu memberi kode agar saya membuka mulut. Cara jitu membungkam pasien cerewet. Mangap…

Sekitar lima belas menit, ngilu itu perlahan lenyap, aroma cengkeh merebak di rongga mulut. Enak banget nih dokter gigi. Dapat penghasilan dari mulut orang. Lha kalau kita kan dapat penghasilan dari mulut sendiri, ngomong di sana, presentasi di sini. Ah sudahlah, episode pertama prahara gigi selesai.

—–

Penerbangan Jayapura-Jakarta berjalan tanpa derita hingga tiba di rumah. Satu jam di rumah, sekali lagi, hanya satu jam sodara-sodara. Si gigi bertingkah lagi. Nyeri itu merambat dari satu simpul ke simpul syaraf lainnya, menular cepat, merangsang derita baru di pipi kiri.

Saking paniknya, saya ingin telpon rumah sakit untuk kirim ambulan. Eits, apa pernah ada dalam sejarah, ambulan nguing-nguing menerobos kemacetan untuk membawa satu pasien sakit gigi? Ah, kelamaan nunggu ambulan. Ojek solusinya, RS. Azra di Bogor tujuannya, 30 menit waktunya.

Nyeri ngilu itu terus berdenyut tanpa belas kasihan. Dengan kondisi begini, jangan sampai ada yang nyanyi “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi iiiini, biar tak mengapa….”.  Saya pastikan ada batu melayang ke jidatnya..!

Antrian pasien dokter gigi membuat saya nyaris histeris. Mereka duduk tenang dan khusyuk. Sedangkan saya harus menggeretakkan gigi dan mendesis. Sang gigi seolah sedang melancarkan demo anarkis kepada pemiliknya yang tak peduli. Semoga gigi sialan ini tidak menghasut gigi lainnya untuk ikut demo.

Saya terbawa arus lamunan.

“Aku kan stakeholder pertama dan utama dalam proses pencernaan makanan untuk tubuhmu. Kenapa kau tak merawatku?”, protes Gigi.

“Saya kan sudah sikat gigi tiap hari”

“Nggak cukup, tauk….”. Cetuttt…Satu rumpun syaraf gigi dibetotnya. Arkhh….

“Tttapi…tapi…itu kan TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) kalian untuk memotong, menghancurkan, dan melumat makanan sebelum kutelan?,” jawabku membela diri.

“Kalau itu tupoksi kami, so what? Apa kami dapat membersihkan karang gigi sendiri? Menambal lubang gigi sendiri?”.

“Kalian bertanya atau menggugat sih?”

“eeh, masih nanya? Coba bayangkan, jika gigi itu sama dengan hutan yang tidak kalian rawat dengan baik, lalu kalian robohkan pohon-pohonnya, kalian bunuh hewannya. Siapa yang kelak menderita?”

Jlebb..! Pikiran saya langsung melintir ke gugusan hutan pegunungan Cagar Alam Cyclops di Jayapura. Selama ini hutan Cyclops telah menjalankan TUPOKSInya sebagai sumber air dan udara bersih. Masyarakat Jayapura, Abepura, Sentani, dan puluhan desa di sekeliling Cyclops sangat tergantung pada kesehatan hutan Cyclops.  Apa jadinya jika hutan Cyclops makin bolong dan berlubang? Silakan cek di toko sebelah, adakah berita kekurangan air, banjir, erosi, longsor, dan pendangkalan Danau Sentani?

Alamaak. Lebih banyak jenis deritanya daripada sakit gigi. Lebih banyak pula orang yang terkena dampaknya. Tak ada makanan yang lezat ketika sakit gigi, dan tak ada makan enak di tenda pengungsian banjir. Lalu siapa yang harus peduli dan merawat “gigi-gigi” di hutan Cyclops?

Saatnya menghadap Drg. Tjut. Orangnya menyenangkan. Banyak senyum, banyak cerita. Ruang praktiknya jauh lebih bersih dan nyaman. Dengan bantuan asistennya, ritual pemeriksaan dilakukan. Dia katakan ada yang retak, tapi coba ditambal dulu. Adonan putih rasa cengkeh pun tertanam di lubang gigi. Saya harus kembali dua minggu lagi untuk tambal permanen. Syaraf-syaraf gigi tentram.

Seperti filem-filem holiwud, dua episode tidak cukup bagi gigi untuk membalaskan dendamnya. Usia tambalan permanen hanya sebulan. Terpaksa dibongkar lagi, lagi, dan lagi. Biaya setiap kunjungannya EMPAT kali lipat daripada di Jayapura. Hadeuh… Seandainya saya mendengarkan saran dokter gigi setengah baya di Jayapura.

Ibarat kasus hukum, sudah vonis di pengadilan negeri, masih ada banding di pengadilan tinggi, kasasi di mahkamah agung, lalu Peninjauan Kembali, Peninjauan Kembali lagi, lalu capek, lalu bosan.

Setelah lima kali bolak-balik, Yang Mulia Drg. Tjut mengeluarkan vonis. Gigi sialan itu terbukti secara sah dan meyakinkan sebagai penyebab sakit gigi berkelanjutan. Oleh karenanya, Gigi itu harus dicabut keberadaannya dari  rongga mulut, dan pemilik gigi menanggung seluruh biaya dokter gigi !!!

Gigi mengingatkan saya untuk memperhatikan saran dan pendapat Senior Berpengalaman di lapangan sebelum bertindak. Pangkat, jabatan, golongan, gelar akademis tak sebanding dengan pengalaman mereka melindungi hutan dengan hati dan simpati.

Mungkin permasalahan di hutan-hutan konservasi sama dengan gigi saya. Kurang terpelihara. Asyik dengan diri sendiri, mengobati gejala secukupnya, dan tidak segera mencabut akar masalahnya. Akibatnya kita butuh lebih banyak biaya, waktu, dan tenaga plus bonus derita berkelanjutan. Jika ada yang berprinsip banyak masalah itu banyak rezeki, cobalah merasakan sakit gigi.

Catatan Kakiku: Yang tua memang kurang gaya, tapi pengalaman sejati tak pernah bohong. Ini bukan masalah kemampuan, tetapi kemauan.

Pet Detective van Java

 

Tugas yang aneh. Target Operasi: owa jawa (Hylobates moloch) yang dipelihara masyarakat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berasa disuruh nyari jerami ditumpukan jarum gak sih?

Kalau sudah ketemu, mau diapain? Nah ini dia, cuma sedot sedikit darahnya atau cabut beberapa helai rambutnya. Gampang? Bah!!!! Mana ada owa jawa yang ikhlas sukarela jadi donor darah atau dicabut rambutnya?

Terus buat apa darah dan helaian rambut itu? Kayak nggak ada kerjaan lain aja. Yeee emang nggak ada.

Sebagaimana yang diketahui masyarakat ilmiah, si Owa jawa hanya ada di pulau Jawa, alias endemic. Penyebarannya terbatas di kantung-kantung kawasan konservasi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Mengingat tempat hidupnya sudah terbelah-belah oleh jalan, perkotaan, pemukiman, dan pertanian sejak lama, maka diduga adanya penurunan keragaman gentik.

Ilustrasinya begini. Keluarga owa jawa di Ujung Kulon sudah tak mungkin kawin dengan owa Jawa di Gunung Pangrango, apalagi dengan populasi di Gunung Slamet. Secara alami mereka kawin dengan individu yang ada toh? Nah, sifat-sifat genetika yang diturunkan menjadi kurang bervariasi. Bandingkan dengan orang jawa yang kawin dengan berbagai suku bangsa, maka tampilan genetikanya makin beragam kan?

Dengan logika ilmiah seperti itu, Pusat Studi Biodiversitas Universitas Indonesia ingin memastikan apa betul telah terjadi penurunan keragaman genetika owa jawa. Dengan bantuan teknologi canggih, kita sudah dapat mengidentifikasi keragaman genetika suatu spesies dari materi genetik berupa darah, feces, dan akar rambut. Maka pada tahun 1995-1996, dibentuklah tim pet detective untuk “berburu” owa jawa.

Idealnya materi genetik itu didapatkan dari satwa yang hidup di alam liar. Tapi asal tau aja nih, untuk bisa melihat owa jawa di hutan alami itu pekerjaan setengah mati. Apalagi merayu owa untuk turun dari atas pohon, lalu kita ambil darahnya atau cabut bulunya. Serius, itu pekerjaan dua kali setengah mati!!

240px-Silbergibbon_mit_Nachwuchs

Photo from id.wikipedia.org

Owa jawa hidup dalam norma keluarga kecil bahagia (bapak-ibu dan 1-2 anak) di bagian tengah dan kanopi pohon. Bergeraknya dengan tangan (brakiasi), bergayutan dari pohon ke pohon, mirip akrobat sirkus dengan kecepatan naujubilah. Kita hanya sempat dengar grusak…grusakkk…beberapa detik kemudian si Owa memandang kita dengan tatapan sedih dari kejauhan, “Suck my blood if you can, bro…”

Kalau kita yang lebih dulu melihat owa, lalu mereka kaget, dan kabur terkencing-kencing sambil buang kotoran dari ketinggian. Akibatnya, kotoran padat dan cair itu berhamburan kayak hujan. Di situ kadang saya merasa sedih campur senang menjadi…. shit collector!!!

Untuk menyiasati kesulitan itu, kita juga mencari owa jawa di kebun binatang dan yang dipelihara masyarakat. Dari masyarakat? Jangan kaget dulu ah, waktu itu Undang-Undang Konservasi umurnya masih balita. Peraturan Pemerintahnya juga belum lahir. Sebagai kebijakan transisi, masyarakat yang memelihara satwa liar dilindungi wajib lapor ke BKSDA. Satwanya dianggap milik Negara yang “dititipkan” ke masyarkat untuk jangka waktu tertentu. Jika habis jangka waktunya, ya harus lapor lagi. Hebat kan?

Berbekal daftar satwa yang yang dilaporkan masyarakat ke BKSDA Jawa Barat dan Jawa Tengah, pet detective mulai beraksi. Rute perjalanan dari kota ke kota disusun berdasarkan alamat para pemelihara owa jawa.

Bakal banyak sampel nih, pikir saya penuh harap dan keyakinan. “wah, hadu pemburu berdarah owa nih kita,” kata Roso, teman perjalanan saya. Mobil Jimni biru tahun 1984 menjadi saksi bisu perjalanan berdarah ini.

Dua puluh alamat target telah kita telusuri, tujuh ratus kilometer telah kita jalani. Rasa frustrasi saya itu tergambarkan sempurna pada lagunya Ayu Tingting, Alamat Palsu. “Ke mana, ke mana, ke mana…kuharus mencari ke mana…”. Gimana gak palsu coba, ketua RTnya saja tidak tahu alamat yang kita sodorkan. Arghh…

Ketika alamat berhasil ditemukan, eh…satwanya sudah mati. Apakah masyarakat lapor ke BKSDA setelah satwanya mati? Jiaaah….ujan bekelir deh kalo mereka lapor...

Di beberapa alamat juga ditemukan jenis satwa yang berbeda dengan yang dilaporkan ke BKSDA. Lapornya owa jawa, ternyata pelihara siamang. Apakah masyarakat tidak tahu jenis satwa yang dipelihara ATAU pegawai BKSDA tidak memverifikasi jenis yang dilaporkan? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. Yang pasti bukan ATAU…

Saya salah. Seharusnya saya berharap pada Tuhan, bukan pada sebuah daftar buatan manusia. Sigh!!!

Dengan kondisi seperti itu, bagaimana pihak berwenang memonitor kesehatan satwa-satwa dilindungi yang katanya “milik Negara” itu? Apakah surat penitipan satwa itu diperpanjang para pemelihara satwa? Tentu tidak.

Bukankah surat itu dapat di salahartikan dan disalahgunakan pemelihara satwa sebagai bukti kepemilikan? Bagaimana kita tahu bahwa satwa yang “dititipkan” itu tidak dijual beserta surat penitipan itu? Ah, lebih baik kita tanya pada yang berenang saja, karena yang berwenang juga kemungkinan tidak tahu.

Sudah kadung berkelana, perburuan owa jawa harus dikombinasi dengan metode tanya sana-sini secara acak di setiap kota. Itu jelas bukan random sampling method. Itu metode kepepet random. Tanya pemilik hotel, warung makan, bengkel mobil, tukang tambal ban, bahkan supir truk dan mobil boks yang sedang rehat. Hasilnya lumayan. Kita menemukan owa jawa yang dipelihara di kampung dan di kota, dan tidak terdeteksi pihak berwenang.

Girangnya kami saat menemukan owa jawa yang dipelihara itu seperti Archimedes, cuma kita tidak teriak-teriak Eureka..Eureka..!!!. Cukup senyum bahagia, lalu melancarkan jurus bujuk rayu agar kita diizinkan mencabut beberapa helai rambut sampai ke akarnya atau sedot darah.

Kebanyakan owa jawa dipelihara di kandang yang sempit, sekitar 1Mx1Mx1,5M. Itu lebih tepat disebut penjara daripada kandang. Jarang ada kandang yang memungkinkan owa bergelantungan dan bergerak bebas.

Makanannya bukan ala carte, tapi ala kadarnya. Beruntung jika ada yang memberinya pisang, pepaya, singkong, ubi, dan nasi sisa pemeliharanya. Ada satu owa jawa yang baru mau menjulurkan tangan untuk dicabut bulunya setelah diberi permen. Bukan sembarang permen, musti merek kopiko! Belagu sih, tapi kasihan kan? Pemiliknya pasti punya hobi ngemut-ngemut.

Lain lagi dengan Wagimin yang tinggal di Tegal. Dia sangat keqi dengan owa jawa jantan dewasa yang dipeliharanya. “Galak kalau didekati laki-laki mas. Nurutnya cuma sama istri nyong”, kata Wagimin dengan logat Tegalnya yang mirip pelawak Kholiq. Asli lho…

Memang brutal sekali owa tegal ini. Dia ogah mengambil pisang yang kita sodorkan, malah “angop” sambil pamer gigi taring. Kalau kita terlalu dekat, dia akan goyang-goyang kandangnya. Well, demi beberapa helai rambutnya, kita terpaksa nunggu istrinya Wagimin pulang dari pasar. Asemmm!

“Bukan cuma galak mas, binatang ini juga kurang ajar,” jelas Wagimin.

“kurang ajar gimana pak?”, tanya saya penasaran.

“Itu lho, kalau istri nyong ngelus-ngelus tangannya, khewan ini jadi napsu. Jadi berdiri burungnya…”.

Hah? Saya nyerah menahan tawa. Udah modulasinya kayak Kholiq, intonasinya pun melooooow banget.

“Jadi cemburu nih, ceritanya?, ledek saya.

“Walah…mosok inyong cemburu sama monyet”.

“Makanya pak, dilepas aja, atau dikawinin”, pancing Roso yang baru kelar ngakaknya.

“Ya kalau ada pasangannya, sini inyong kawinin. Tapi mas kawinnya apa ya? Hahaha…”

 

Catatan Kakiku: Owa jawa dan satwa liar yang dipelihara juga sama dengan manusia, punya kebutuhan biologis dan perlu kasih sayang…

Sang LSM

Bagi orang yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat, naik pesawat di kelas bisnis tergolong langka. Bahkan setelah bekerja di organisasi PBB pun, saya tidak punya hak untuk duduk di kelas bisnis. Bukannya tabu atau tak mampu, tapi malu hati untuk menganggarkannya. Toh penumpang yang duduk di kelas bisnis dan ekonomi akan tiba di tempat tujuan yang sama, pada waktu yang sama. Paling penumpang bisnis boleh turun dari pesawat lebih dulu.

Namun ketika Tuhan sudah berkehendak, maka tak ada pilot atau pramugari yang sanggup menghalangi kita untuk mencicipi kelas bisnis. Banyak hal dapat terjadi dengan cara Tuhan yang tidak kita duga sebagai bantuan Tuhan kepada hambaNya. Termasuk menempatkan saya di kelas bisnis Merpati Airlines dalam penerbangan dari Jayapura ke Jakarta via Makassar.

Kok Merpati? Sabar kawan,….tempus delictinya lima belas tahun lalu. Trayek Jakarta-Jayapura hanya dilayani oleh Garuda dan adiknya si Merpati yang hari terbangnya bergantian.

Hanya ada enam orang yang menghuni kelas bisnis, sementara di kelas ekonomi penuh sesak. Perbedaan yang mencolok hanyalah ukuran tempat duduk yang lebih besar, lebih empuk, dan ruang kaki lebih lega plus alat makan yang bebas plastik. Di deretan kursi paling belakang kelas ekonomi, biasanya dialokasikan bagi para ahli hisap. Ingat, saat itu masih banyak armada yang memanjakan para perokok. Sekarang? Don’t even think about it.

Di atas lautan antara Biak dan Maluku, ada desakan yang mengharuskan saya ke toilet. Letak toilet di bagian depan, antara pintu pilot dan lorong “dapur pramugari”. Ah, ternyata toiletnya sama dengan yang di kelas ekonomi. Kirain ada shower dan bak mandinya.

Ketika keluar dari toilet, mata saya langsung terpaku pada seorang bapak yang berdiri di lorong dapur pramugari. Tinggi besar, gagah, kulit sawo matang banget, berkumis tebal, rambut kriting pendek, berkemeja, dan celana jins. Perlente lah. Ia asyik ngobrol dengan pramugari. Penumpang lain tak dapat melihat adegan ini karena adanya tirai yang menghalangi antara kabin dan lorong dapur.

Yang membuat saya keqi adalah benda yang terjepit antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Sebatang rokok yang menyala. Eh buset…kontan saya bertanya,”Lho pak, emang boleh ngerokok ya?”.

Hening sejenak. Pandangan saya berpindah-pindah dari si bapak dan pramugari.

“Nggak apa-apa lah. Kan cuma sebentar,” jawab si bapak. Pramugari tetap diam lalu menjauh.

“Lho kalau bapak boleh, saya juga ikutan lah”.

“Yaudah, sini temenin saya”. Senyumnya merekah

Saya pun merapat ke sebelahnya. Dengan ramahnya si bapak menawarkan kopi lalu meminta pramugari membuatkannya untuk saya.

Arghhh…apakah ini salah satu layanan kelas bisnis? Jangan-jangan ini bosnya Merpati? Asap pun mengudara dan tersedot ke dalam kisi-kisi yang ada di pojok atas. Dua pramugari terlihat mojok di sudut dekat pintu keluar.

Mengalirlah obrolan yang bermula dari mana, mau ke mana, tinggal di mana, hingga menjurus ke profesi.

“Kerja di mana dik?”, tanya si bapak.

“Di LSM konservasi, kalau bapak?”

“Sama dong, saya juga LSM”

Belum sempat saya nanya lebih lanjut, si bapak membombardir saya dengan pertanyaan kegiatan yang dilakukan lembaga tempat saya bekerja. Setengah sadar, saya ceritakan kegiatan-kegiatan pelatihan, penelitian, pendidikan lingkungan, pemantauan illegal logging dan perdagangan satwa liar di Papua.

“Wah menarik juga ya. Sudah ke Pasar Hamadi belum? Kayaknya di situ masih ada yang jualan binatang ya?”

“Lha itu. Selama ada permintaan, pasti ada yang suplai lah”.

“Saya dengar di Jakarta juga banyak yang jual burung dari Papua”.

“Banyak jalan menuju Jakarta pak. Mana sanggup kita mendeteksi semua kapal barang, termasuk kapal perang yang menuju Jakarta”.

“Kapal TNI maksudnya?”

“Lhaaaa… emang yang punya kapal perang siapa? Ini yang paling susah. Saya sih belum pernah lihat, tapi ada yang bilang kapal perang itu sudah seperti kebun binatang saat berangkat dari Jayapura membawa pasukan. Siapa sih yang berani inspesksi kapal perang, coba? Belum lama kan ada tuh kasus puluhan burung yang disita BKSDA Papua dari kapal perang? Tapi ya…ujung-ujungnya satwa terpaksa dikembalikan”.

“Hmmm gitu ya? Gimana kalau kapan-kapan adik mampir ke kantor, nanti saya kumpulkan anak buah saya. Biar tambah wawasannya, terutama soal perdagangan satwa”.

“Oh dengan senang hati pak,”sambut saya dengan cepat. “Ngomong-ngomong, bapak ini LSMnya bidang apa sih?, terus kapan kembali dari Surabaya?”

“Kelautan”, jawabnya singkat sambil menyeruput sisa kopi yang sudah dingin.

Mendadak saya ingat, sudah lebih satu jam kita ngobrol tapi belum kenalan. Saya merogoh dompet untuk mengeluarkan kartu nama. Awak kabin mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Makassar sekaligus perintah agar penumpang kembali ke habitatnya masing-masing.

“Waduh kita belum kenalan nih. Saya juga belum tahu di mana kantor bapak. Ini kartu nama saya pak”. Si bapak mengambilnya, membaca sebentar, lalu mengambil selembar kartu nama dari dompetnya. Saya terima kartunya tanpa sempat membaca karena sudah diusir pramugari dengan santun.

“Minggu depan saya sudah di Jayapura lagi kok. Kabar-kabari ya kalau mau mampir,” katanya dengan ramah sambil menjabat tangan saya. Deretan gigi putih dan kumis hitam lebatnya terpapar di wajahnya. Abis dah pasaran anak LSM yang masih jomblo…

Jarang-jarang nih ada orang LSM yang gagah kayak gini. Berapa banyak ya anak buahnya? Bagus juga sih kalau ada LSM kelautan yang memantau perdagangan satwa laut dan pesisir, pikir saya.

Setelah duduk, saya lihat kartu nama yang tadi saya kantungi di saku baju. Gleg…saya tertegun sejenak. Posisi duduk saya makin tegak sambil menatap kartu nama lekat-lekat.

Nama “LSM” yang tertulis di bagian atas kartu nama adalah Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V Jayapura (sekarang sudah jadi Lantamal X). Nama si bapak tadi adalah Laksamana Pertama Frenky K****** dengan jabatan Komandan.

Sialan…. jadi tadi tuh dia bilang LSM itu maksudnya Laksamana? Mampus dah gua… Si bapak tampak duduk di bagian depan kelas bisnis dengan antengnya.

Begitulah rencana Tuhan yang sempurna. Melalui sang LSM ini, terbukalah jalan saya untuk bertemu dengan Pangdam Cendrawasih dan Kapolda Papua, yang selanjutnya memuluskan program Enforcement Economics of illegal logging and wildlife trade di Papua selama tiga tahun. Alhamdulillah.

Catatan Kakiku: Tuhan selalu punya rencana terbaik yang tak pernah kita duga.

Visum et conservatum

Tuingg….henpon saya berdenting. Sore menjelang maghrib, saya menerima pesan singkat, setengah perintah dengan tanda tanya tiga kali.

“Mas, besok bisa pergi ke Lampung kan???” 

Eh buset…Apaan nih, pikir saya. Itu pesan dari Rano, salah satu Kepala Subdit di Kementerian Kehutanan.

Lebih dari satu dasawarsa saya mengenal bapak satu ini, sejak sama-sama bekerja di LSM konservasi internasional. Bahkan dalam lima tahun terakhir, kerjasama kami lebih intensif. Kasus-kasus perambahan di kawasan konservasi menjadi trending topic di dunia kehutanan Indonesia.

“Tombol darurat” telah dipencet nih, batin saya. Tuingg…SMS lagi. “tiketnya sudah disiapkan mas….pantau operasi di TNBBS.”. Jiaah…Gimana mau nolak coba?

Tanggal 4 Oktober 2011, berangkatlah saya ke Lampung bersama tiga pegawai kehutanan. Pak Toto mewakili Direktorat Kawasan Konservasi, Bu Titi mewakili Direktorat Perlindungan dan Pengamanan Hutan, dan Tata mewakili Biro Hukum. Mereka semua mewakili Direktorat Jendral PHKA yang membawahi semua kawasan konservasi di Indonesia. Cuma saya satu-satunya makhluk non pegawai kehutanan yang kebetulan menjadi anggota Tim Penanggulangan Perambahan Kehutanan. Ngeri…

Catatan pertama, saat ini semua nama-nama lembaga yang disebutkan di atas sudah berubah. Catatan kedua, inilah pertama kalinya saya melakukan perjalanan dengan para tokoh yang baru saya kenal ini. Catatan ketiga, semua nama dalam tulisan ini bukan nama sebenarnya, kalaupun ada kesamaan, semata-mata hanya kebetulan belaka. Nama aslinya tetap menjadi rahasia Negara. Ngeri kan….?

Baru jam 8 pagi, Bandara Radin Inten II sudah ramai dengan manusia-manusia berkoper yang hilir mudik. Tiga kelompok manusia berkoper di bandara, yaitu awak kabin, penumpang, dan…porter. Ada yang pergi, ada yang pulang.

Pikiran saya kembali ke misi pemantauan ini. Ibarat skripsi, saya berangkat ke lokasi tujuan tanpa bab pendahuluan, tanpa metodologi, tanpa pengarahan. Langsung ke bab Hasil dan Diskusi. Ini pertama kali saya memantau operasi penertiban perambah yang melibatkan Polisi Kehutanan (Polhut), Polisi, dan TNI.

Sambil menunggu jemputan, kita sarapan di salah satu warung kopi di dekat pintu keluar bandara. Hanya ada enam meja dan semuanya penuh terisi. Saya berharap ada briefing dari pak Toto, yang pasti menjadi ketua tim. Beliaulah yang paling senior, paling tinggi pangkat, jabatan, dan golongan kerjanya dari tim kecil ini.

Setelah lima menit berbasa basi, mulailah keluar kalimat penting yang membuat saya duduk tegak.

“Gimana Ta, visumnya sudah disiapkan?”, tanya pak Toto ke Tata, anggota tim yang paling muda. Biasanya, yang paling muda ini akan menjadi liaison officer, alias ngurusin segala macam.

“Beres pak,” jawab Tata sambil meniup-niup kopinya.

“Jangan sampai ada yang kelewatan lho. Ini kan tujuan kita,”sambung bu Titi dengan wajah serius.

Anjrit…VISUM!!! Apaan nih? Visum Perambahan? Visum di bidang kehutanan?

Selama saya belajar hukum, istilah “visum” ini merujuk pada penanganan kasus-kasus pidana yang menyangkut manusia dan kedokteran. Visum et repertum. Salah satu bukti hukum yang sah. Lha ini visum operasi penertiban perambahan?

Saya terlalu malu dan gengsi untuk bertanya. Udah belajar hukum kok nggak ngerti visum? Diam-diam saya gugling apakah ada makna visum kehutanan? Hasilnya nihil. Saya mulai merinding. Modiarrr….

Saya lihat lagi SMS dari pak Rano. Perintahnya cuma satu: Pantau operasi penertiban perambahan di Rata Agung. Informasinya singkat: Di Pekon (Kelurahan) Rata Agung, Kabupaten Pesisir Barat Lampung terdapat hamparan kawasan TN Bukit Barisan Selatan (BBS) yang ditanami kopi. Tujuan operasi: Keluarkan perambah, musnahkan pondok dan kopi di dalam kawasan.

Waduh. Visum macam apa yang mau kita lakukan ditengah-tengah operasi penertiban perambahan? Apakah akan ada korban yang harus divisum? Pondok perambah dan kopi mau divisum? Apakah memang ada metoda visum dalam pidana kehutanan? Kok selama ini saya nggak pernah dengar ya? Ini ilmu baru. Saya bertekad untuk belajar dari mereka.

Saya masih stadium GALEM, Galau tapi Kalem. Kita singgah ke kantor Balai KSDA Lampung. Maklum, rombongan “orang pusat”, jadi musti sowan sana-sini. Sambil menunggu mobil KSDA yang akan mengantar ke TKP, kita ngobrol-ngobrol di ruangan Kepala Sub-Bagian Tata Usaha (KSBTU) BKSDA.

“Visumnya nunggu kepala balai atau gimana pak?”, tanya pak Toto ke pak Bakri, sang KSBTU.

“Aman itu. Nanti saya urus. Kita ngopi-ngopi aja dulu”, jawab pak Bakri.

Halahhh….Visum lagi. Rupanya visum ini standar kehutanan. Saya tahu pak Bakri ini lulusan hukum, jadi anteng saja dia ngomongin visum.

Saya minum kopi lampung yang terkenal, tapi air hitam yang mengepul itu rasanya seperti air panas manis. Apa yang harus saya lakukan untuk memenuhi visum dalam pemantauan ini? Apa yang harus saya laporkan ke pak Rano? Saya hanya bawa kamera saku, buku catatan, dan GPS. Alat apa lagi nih yang dibutuhkan untuk visum? Ahh..tadi kan si Tata bilang semuanya beres, jadi pasti dia sudah bawa semua alat.

Stadium Galem naik ke GALUT, Galau kalut. Nggak lagi-lagi deh saya pergi tanpa arahan yang jelas.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Balai Besar TNBBS di Kota Agung, Tanggamus, Lampung. Dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Saya mencoba menikmati kota-kota kecil yang dilintasi, persawahan, perbukitan, pantai, birunya laut dan langit yang cerah, baliho dan poster wajah orang-orang yang berusaha dikenal masyarakat. Sejumlah poster dipaku dipohon-pohon yang berjejer di tepi jalan. Woi…pohon dipaku, kayak kuntilanak aja.

Sesekali kata visum itu mengganggu pikiran. Sayangnya, tidak ada percakapan dan diskusi mengenai visum selama perjalanan. Tidak ada pembagian tugas dari ketua tim untuk melengkapi visum. Mungkin nanti ada pengarahan di kantor taman nasional, pikir saya pasrah.

Kantor Balai Besar TNBBS terletak dipinggir jalan utama Tanggamus, tidak jauh dari batas Kota Agung, ibukota Kabupaten Tanggamus. Halamannya luas, gedungnya megah berpilar. Di tengah halaman terdapat patung badak, gajah, dan harimau yang hmmm….mirip gak dengan hewan aslinya ya?

Waktu menunjukkan pukul 13.30. Tidak ada penyambutan. Kebanyakan pegawai berada di TKP. Satu-satunya pejabat, yaitu Kepala Bagian Tata Usaha sedang pulang untuk makan siang.

“Kita harus menunggu,” kata pak Toto ketika saya tanya kenapa kita nggak langsung ke TKP supaya tidak kemalaman di jalan. “kita bereskan visum dulu,”sambungnya.

Hah!!!! Visum sudah dimulai dari sini???? Stadium Galut berubah menjadi GALPANIK, Galau Panik Keqi.

That’s it!!!. Dari tadi pagi ngomong visam visum visam visum tapi nggak pernah njelasin apa yang harus divisum, siapa yang harus divisum, kapan mulai visum, siapa melakukan apa di mana. Nggak sistematis banget sih nih kerjanya. Ah, menggerutu tanda tak mampu. Mengeluh tak selesaikan masalah. Saya harus bertindak. Titik.

Saya kirim SMS ke tiga teman saya di markas besar kehutanan untuk menanyakan apa maksudnya visum dalam operasi penertiban perambah. Yang pertama Pak Rahmat, seorang Penyidik Pegawai Negeri Sipil senior yang sudah menyidik ratusan perkara pidana kehutanan. Kedua Hendra, pegawai kehutanan berlatar belakang hukum. Ketiga Wahyu yang sudah belasan tahun menjadi pegawai kehutanan di daerah dan pusat.

Pak Rahmat yang pertama kali merespon. Saya terima telponnya di halaman kantor supaya tak terdengar anggota tim lainnya.

“Lagi di mana?”

“Di kantor TNBBS kang. Mantau operasi di Rantau Agung. Gimana tuh kang, visum tuh ngapain sih?,” saya langsung nyerocos.

“ Sebentar, lagi rapat, nanti saya telpon lagi,”bisik pak Rahmat. Klik. Mati. Yaaah..

Tuinggg….SMS masuk, dari Hendra.

“Hahahahahaha….”. itu isi SMSnya.

“Kampret. Nanya serius kok malah ketawa!!!”, balas saya lewat SMS

“Maaf kang. Reflek, sambil senyum2. Hehe. Untk spj mmg perlu visum (sppd/surat perintah perjalanan dinas) yg ditandatangani pjbt tmpt tujuan. Untk substansi ya yg sabar aja kang n kalo perlu misah dg yg laen untk lbh nyaman n mksimal. Demikian kang”, balas Hendra.

Hah? Belum habis rasa takjub saya membaca isi SMS itu, henpon saya berbunyi lagi. SMS dari Wahyu.  Jawabannya terlihat serius dan resmi.

Visum = meminta ttd ke pejabat terkait di atas SPPD/surat perintah perjalanan dinas, agar admintrasi pertanggung jawaban anggaran dpt diterima

Singkat, padat, nikmat, dan menjelaskan semuanya.

Hampir tujuh jam sodara-sodara, sekali lagi… TUJUH JAM saya disandra oleh istilah visum. Setengah mati saya membangun perkiraan teknik dan metoda pemantauan operasi penertiban perambahan. Sampai saya menduga-duga namanya Visum et Conservatum. Ternyata visum tak lebih dari legalisasi dokumen perjalanan yang 100% bukan kompetensi saya. Siapa sih biang kerok yang nyiptain istilah visum di pemerintahan?

Lessons Learned: “MALU BERTANYA, SESAT DIPIKIRAN”.

04-Monumen-DSC_7598

Yang tersisa, yang terbakar, yang tersia-sia

PENGALAMAN BEGO INI JANGAN DITIRU (1. Pajak Progresif)

Manusia itu tempatnya salah. People make mistakes. Hayoo…apalagi jargon yang biasa kita gunakan sebagai alasan pemaaf dan pembenar? Tak ada gading yang tak retak? Halah, bawa-bawa gading segala. Macam udah pernah neliti gading aja. Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga? Jiahhh, emang pernah liat tupai jatuh?

Yang jelas, kita semua pernah berbuat kesalahan karena kekhilafan (tau tapi lupa) atau sengaja (tau tapi tetap berbuat sambil berdoa nggak ketahuan). Itu alasan yang biasa termuat dalam peraturan. Tapi ada juga yang melakukan sesuatu karena ketidaktahuan alias masih bego. Nah, perbuatan bego ini ada yang berdampak hukum, tapi ada juga yang dampaknya cuma malu yang bikin kita mesem-mesem sambil njedotin kepala ke bantal.

Sebego-begonya manusia adalah yang tidak belajar dari kesalahannya sendiri atau kesalahan orang lain. Nah, biar nggak ikutan bego, berikut ini hal-hal bego yang harus kita hindari terkait dengan pajak progresif kendaraan bermotor.

Pajak kendaraan bermotor (PKB) merupakan salah mata pencaharian pemerintah daerah. DKI Jakarta saja mentargetkan sekitar Rp.6 triliun pada tahun 2015. Bahkan dengan alasan mengurangi kemacetan, pemerintah DKI dan Jawa Barat telah menerapkan pajak progresif. Seseorang yang memiliki kendaraan lebih dari satu, maka kendaraan ke dua dan seterusnya akan dikenai persentase PKB yang lebih besar, yang nilainya diatur berdasarkan peraturan daerah.

Perda DKI No.2 tahun 2015 menentukan PKB untuk kendaraan pertama adalah 2% dari nilai jual kendaraan. Setiap tambahan kendaraan akan dikenai tambahan pajak 0,5% hingga kendaraan ke 17. Jadi kendaraan ke-2 kena 2,5%, ke-3 kena 3% dan seterusnya hingga kendaraan ke 17 akan terkena 10%. Kalau ada orang Jakarta yang punya mobil lebih dari 17, nah…ini belum kepikiran sama pembuat peraturan. Sedangkan Provinsi Jawa Barat, sesuai Perda No.13/2011, kendaraan pertama dikenai PKB 1,75%, ke-2 kena 2,25%, ke-3 kena 2,75%, ke 4 kena 3,25%, ke 5 dan seterusnya terkena 3,75%% dari nilai jual kendaraan. Mayan kan?

Secara naluriah, kita cenderung menghindari pajak progresif. Selama ini pengenaan pajak progresif didasari oleh nama kepemilikan. Sehingga tiga kendaraan atas nama tiga orang dengan alamat yang sama, belum dikenai pajak progresif. Namun sejak pertengahan 2015, pengenaan pajak progresif sudah memperhitungkan alamat pemilik. Jadi suami, istri, dan anak yang masing-masing punya kendaraan atas nama masing-masing, akan dikenai pajak progresif sepanjang alamatnya sama. Itu kata peraturannya. Praktiknya, ya ntar kita cari tahu deh ya…

Apa yang terjadi ketika kita menjual kendaraan lalu membeli kendaraan lagi?. Buruan lapor ke kantor Samsat (sistem administrasi satu atap) di mana kendaraan terdaftar, untuk menghapus nama kita sebagai pemilik kendaraan yang telah dijual. Istilahnya blokir kendaraan. Dengan cara itu, pembeli mobil kita harus mengurus proses balik nama kendaraan atas namanya sendiri. Maka terbebaslah kita dari pajak progresif.

Nah, dalam lika-liku pajak progresif inilah dapat terjadi sedikitnya tiga jenis kekhilafan atau kebegoan akibat ketidaktahuan.

Kebegoan pertama. Seorang kawan membeli mobil bekas dari temannya tanpa mau mengurus proses balik nama. “Yang jual kan temen, pinjem KTPnya aja saat bayar pajak kendaraan”, begitu alasannya.

Belakangan dia agak keqi. Nilai PKBnya lebih besar akibat pajak progresif. Dia lupa, temannya itu punya mobil banyak hehehe…

Beberapa dari kita juga ada yang nekat “nembak KTP” (ini praktik yang salah, jangan ditiru) untuk perpanjangan STNK (istilah umum untuk bayar PKB) mobil bekas yang dibelinya. Nah, andaikata si penjual itu tidak punya mobil lagi, maka modus itu bisa menguntungkan si pembeli. Lalu jika si penjual itu membeli mobil baru tanpa memblokir mobilnya yang sudah dijual, otomatis mobil barunya ditandai sebagai mobil kedua, dan terimalah pajak progresif itu dengan duka lara. Inilah jenis kebegoan kedua.

“lha mobil yang lama kan udah dijual, jadi mobilku ya cuma satu ini. Kok dituduh sebagai mobil kedua,” keluh seorang kawan yang mengalami kebegoan jenis kedua.

Lha iya lah bos. Bisa jadi mobil yang lama belum waktunya bayar pajak, belum ganti kepemilikan, jadi mobil itu masih terdaftar sebagai milik penjual.

“terus gimana dong, mosok saya musti bayar pajak progresif terus?”

Ya makanya, buruan gih blokir mobil yang lama supaya tahun depan gak kena pajak progresif lagi. Itung-itung bantu pemerintah dapat tambahan penghasilan dari biaya balik nama.

Caranya gampang kok. Gak perlu biro jasa, modalnya cukup waktu dan energi ke kantor Samsat dimana kendaraan terdaftar. Walau caranya gampang, pastikan tidak melakukan kebegoan jenis ketiga, yaitu sok tau. Sebelum mengurus pemblokiran, coba cek dulu ke Samsat target melalui telpon atau websitenya. Tanyakan apakah kendaraan atas nama kita masih terdaftar. Siapa tahu si pembeli mobil kita (setelah baca tulisan ini…ge er banget sih) sudah memproses balik nama kendaraan. Tujuannya satu, jangan sampai kita repot-repot ke kantor Samsat, eh ternyata pembeli mobil kita sudah mengganti nama kepemilikannya.

Nah, untuk blokir ini hanya perlu 4 langkah. Pertama, siapkan fotokopi KTP sesuai nama yang tertera di STNK dan Kartu Keluarga (masing-masing dua lembar). Kedua, menuju konter/meja bagian “pajak progresif” untuk meminta formulir pernyataan (blokir). Ketiga, isi formulirnya. Formulir blokir itu tanpa judul, berupa surat pernyataan atas kendaraan yang masih dimiliki dan yang sudah dijual/hilang. Isinya berupa nama pemilik kendaraan, alamat, nomor KTP, nomor telpon, jenis kendaraan, tahun pembuatan, dan nomor polisi kendaraan.

Langkah terakhir, fotokopi formulir yang telah diisi dan ditandatangani di atas materai Rp. 6.000, lalu serahkan kembali ke petugas layanan khusus/pajak progresif. Beres dah.

Ngomong-ngomong, saya tergolong makhluk dengan kebegoan jenis ketiga ini karena nekat ke samsat tanpa pengecekan lebih dulu. Hasilnya luar biasa percuma. Saya memblokir kendaraan yang sudah tidak terdaftar lagi di Samsat. Kamprettt…

Nah itu kebegoan saya. What’s yours?

Pelecehan yang tak disadari….

Baru-baru ini, saya dapat kiriman sebuah foto dari teman lama yang isinya delapan anak laki-laki bertelanjang dada, bercelana panjang abu-abu khas SMA/SMU. Saya adalah salah satunya. Semua penuh gaya, di tengah kebun kelapa di sekitar Desa Kukusan, Beji, Depok. Saat ini, lokasi itu letaknya sekitar 100 meter di seberang Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Berawal dari bubar sekolah setelah ujian semester, kita mau merayakan sejenak kemerdekaan dari baca buku sekolah. Jadilah kita mengunjungi teman sekelas yang punya rumah di Depok. Sebagian besar kampus UI masih berupa kebun karet dan kebun buah, termasuk rambutan, kecapi, dan kelapa. Adem, ijo royo-royo. Nah, ke sanalah tujuan kita. Kebun milik orangtua dari teman kita.

Tak lama setelah tiba di lokasi, buah rambutan masak bercampur mentah sudah menumpuk dikelilingi anak remaja berseragam putih abu-abu. Persis sekelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang menemukan sumber pakan. Untuk memudahkan visualisasi, ini jenis monyet yang paling banyak jadi artis topeng monyet. Sebagaimana umumnya monyet, kita semua duduk “ngangkang” di atas tanah berumput atau jongkok sambil menguliti si buah berambut halus tanpa pilih kasih.

Zainal, kawan kita yang jadi tuan rumah, yang pasti sudah bosan makan buah rambutan hanya nyengir, lalu mulai memanjat pohon kelapa. Nah kalau yang ini, mirip beruk (Macaca nemestrina) yang sudah terkenal lihai memanjat kelapa. Di lihat dari namanya, ya masih satu marga dengan monyet juga. Satu per satu, kelapa muda meluncur dari atas pohon. Asli, semuanya kelapa muda. Makin mirip lah dengan beruk yang juga jago memilih kelapa tua yang harus dipetiknya.

Di bawah keteduhan pohon, segarnya air kelapa membasahi kerongkongan, dan daging kelapa mudah yang lembut dikeruk-keruk dengan kulit kelapa yang dibentuk seperti sendok. Ketawa-ketiwi, obrolan, candaan, dan teriakan-teriakan tanpa makna menghiasi lomba memenuhi mulut dengan kelapa muda.

Tanpa disadari, seorang bapak datang menghampiri. Putih, tinggi besar dengan kumis hitam tebal seperti sikat gigi. Bercelana jeans, berkemeja rapi. Dia menenteng sebuah kamera, menyapa kami dengan ramah. Pertanyaan standar pembuka obrolan digelontorkan, dari SMA mana, tinggal di mana, gimana ujian semesternya, ke sini naik apa. Lalu dia mengenalkan dirinya, dan niatnya hendak membeli tanah di sekitar kebun itu. Ujungnya, dia menawarkan diri untuk memfoto kita semua. “Buat kenang-kenangan. Nanti fotonya saya kirim ke Zainal”, katanya.

Ya zaman dulu itu, jangan harap ada henpon buat selfie. Kamera saku dengan film gulungan aja masih beberapa orang yang punya. Jadi begitu ada yang relawan baik hati yang mau memotret tingkah polah kita, ya tanpa banyak komando, semua bergaya. Entah sudah berapa gaya yang terekam dalam kamera itu, lalu bapak ramah itu menyarankan kita semua membuka semua kancing baju. “biar keren,” katanya. Klak-klik-klak-klik, foto dari berbagai arah, dan kita semua makin bergaya dengan baju seragam berkibar-kibar.

“Biar kelihatan macho, ayo semuanya buka bajunya. Nah gitu, wuih keren. Bagus nih dengan latar belakang kebun,” ujar si bapak yang masih antusias memotret kita. Walau badan berkeringat, dan jadi model foto dadakan bertelanjang dada, kita semua senang, dorong-dorongan, ketawa-tawa sambil gaya. Kali ini gayanya nggak mirip monyet. Setelah kita semua kehabisan gaya, si bapak pamit pulang dengan janji akan memberikan hasil cetaknya.

Seminggu kemudian si bapak memenuhi janjinya. Belasan foto diberikan kepada Zainal, ahli waris kebun kelapa. Hasilnya fantastis. Macam sekelompok anak muda yang pamer otot dalam iklan televisi. Terekam sempurna dalam kertas foto seukuran kartu pos. Semua berebut minta jatah menyimpan foto itu.

Beberapa bulan kemudian, bapaknya Zainal memberitahu bahwa yang punya tanah tidak mau menjual kepada si bapak ramah itu. Usut punya usut, ternyata si bapak itu penggemar sesama jenis. Sialan, pantesan kita semua disuruh buka baju, badan kita dipuji-puji. Pantesan dia megang-megang lengan kita buat mengatur posisi dan gaya. Hebatnya lagi, kita nurut aja ditarik, didorong ke sana ke sini demi sebuah gaya. Dulu kita mikirnya, itu sebuah ke-blo’on-an yang seru dan fantastis, sekarang saya pikir itu saru dan nggak pantassss.

Jadi, waspadalah….banyak hal yang terjadi tanpa kita sadari.