Pisces

Banyak istilah teknis taksonomi yang ribet yak? ya..pelan-pelan aja bacanya. Inget pesen orangtua, ambil informasi yang bagus dan penting-penting aja..hehehe…selamat membaca.

Reff # Ikan-New Species 01-2000-20120121
Amblypomacentrus clarus, a new species of damselfish (Pomacentridae) from the Banggai Islands, Indonesia.

by Gerald R. Allen & Mohammad Adrim.          Published in 2000 at Records of the Western Australian Museum 20: 51-55.

Abstract — A new species of pomacentid fish, Amblypomacentrus clarus, is described from 4 specimens, 26.1-40.3 mm SL from the Banggai islands, off central-eastern Sulawesi, Indonesia. It closely resembles A. breviceps, the only other species in the genus. Colour pattern differences constitute the main criteria for separating the two species. The pattern of three dark bars is more highly contrasted in A. claris and this species lacks rows of light blue sports on the side and a yellow suffusion on the lower body, features usually evident in A. breviceps. There are also differences in lower limb gill-raker counts and tubed lateral-line scales, with 16 lower-limb rakers and 15 tubed scales in A. breviceps. Amblypomacentrus clarus is known only from the type locality, where it is sympatric with A. breciveps, affording ready comparison of the two species.

My Notes: Penggunaan nama “clarus” dari bahasa Latin yang artinya jelas/nyata (clear, distinct), Penemuan spesies ikan baru di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah yang dideskripsikan berdasarkan 4 spesimen yang berada di Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-Jakarta dan Western Australian Museum, Perth. Bayangin, cuma dari 4 spesimen, Gerry (panggilan akrabnya Gerald Allen) bisa menentukan ikan itu sebagai jenis baru. Jangan heran, lebih dari separuh hidupnya dihabiskan bersama ikan. Beliau ini layak disebut Gerry manusia ikan. Entah, berapa jenis ikan lagi yang akan diidentifikasi oleh Gerry sebagai jenis baru. Penemuan ini salah satu produk sampingan dari Marine Rapid Assessment Program di Kepulauan Togean-Banggai
*
Reff # Ikan-New Species 02-2001-20120123
Description of two new gobbies (Eviota, Gobiidae) from Indonesian seas

by Gerald R. Allen & Mohammad Adrim. Published in 2001 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 4: 125-130

Abstract—two new species og Gobiidae are described from Indonesia. Eviota raja is described from 16 specimens, 12.7-23.8 mm sl, collected at the Raja Ampat Islands, Papua. It is closely related to E. bifasciata, a sympatric species that is distributed across the Indo-Australian Archipelago. The second  new species, Eviota mikiae, is described on the basis of 9 specimens, 12.6-19.1 mm SL, collected at Pulau Weh, Aceh. It is similar in appeareance to E. pellicuda of the western pacific, but differs in having more segmented rays in the second dorsal fin.

My Notes: Badan Eviota raja ini berwarna oranye cerah dengan garis kuning di bagian tengah badan. Kecil banget ukurannya, Cuma 2,3 cm. ditemukan pada kedalaman 8 meter di Pulau Pef, Kepulauan Raja Ampat. Sedangkan Eviota mikiae ukurannya 2 cm, juga bergaris kuning dibagian tengah badan tetapi warna tubuhnya tidak cerah. Ditemukan pada kedalaman 18 m di pulau Weh. Gak sembarang orang bisa ngeliat ikan ini, apalagi ngebedain sama jenis ikan lain yang nyelem sedalam itu. Specimen-spesimen dari spesies ikan baru itu disimpan di Puslitbang Oseanologi dan Western Australian Museum. Nama “raja” diambil dari nama tempat ditemukannya yaitu Raja Ampat. Nama “mikiae” sebagai penghargaan kepada Miki Tonozuka.
* *
Reff # Ikan-New Species 03-2001-20120124
Two new species of Cardinalfish (Apogonidae) from the Raja Ampat Islands, Indonesia.

by Gerald R. Allen. Published in 2001 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 4 (4): 143-149.

Abstract—Two new species of apogonid are described from the Raja Ampat Islands, off western New Guinea (Indonesian Province of Irian Jaya, based on specimens collected during a Conservation International Survey in March-April 2001. Apogon leptofasciatus is described from three specimens, 48.2-50 mm SL, collected from a depth of 15 m. It is most similar to A. nigrocinctus (northern Australia and Philippines) and A. jenkins (Australia to Japan), both of which possess similar black markings on the dorsal fins and caudal fin base. However, adults of these species lack narrow stripes on the upper body, and A. jenkins also differs in having a black spot on each side of the nape. Apogon oxygrammus is described on the basis of three specimens, 30.8-38.7 mm SL, collected from a depth of 46 m. it differs from all known species in the genus on the basis of color pattern and jaw dentition.

My Notes:  Dalam artikel aslinya memang masih tertulis Irian Jaya. Sekarang udah jadi Propinsi Papua Barat. Penemuan spesies baru ini merupakan hasil sampingan dari Marine RAP-Conservation International. Spesies “leptofasciatus” artinya (thin-striped) garis tipis sebagai warna penanda jenis, sedangkan “oxygrammus” (sharp-line) berupa garis hitam yang tebal di bagian tengah badannya. Seluruh specimen disimpan di Puslitbang Oseanologi Jakarta dan Western Australian Museum.
Bayangin deh, dari satu kali kunjungan riset dan penyelaman di Kepulauan Raja Ampat, Sorong, Papua Barat, sedikitnya tiga jenis baru dideskripsikan oleh Gery Allen. Ngiri dot com deh…
* * *
Reff # Ikan-New Species 04-1999-20120125
Descriptions of two new wrasses of the genus Cirrhilabrus (Labridae) from Indonesia.

by Gerald R. Allen & Rudie H. Kuiter. Published in 1999 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 3 (4): 133-140.

Abstract—Two new species of labrid fishes are described from Indonesian seas. Cirrhilabrus aurantidorsalis, new species is decribed from a single male specimen, 84.1 mm SL, collected off Togean Islands in Tomini Bay, Indonesia. It is closely allied to C. solorensis, but differs on the basis of male colour pattern, particularly the bright orange area on the upper back and dark violet “crown” on the forehead. Cirrhilabrus tonozukai, new species, is described from three specimens, 55.8-58.1 mm SL, collected at the Banggai Islands off central eastern Sulawesi, Indonesia. It is closely related to C. filamentosus, but males have a shorter dorsal fin filament and differ in colour pattern, as well as attaining a smaller size. These two speces differ from other members of the genus (hence their placement in the subgenus Cirrhilabrichthys) by a combination of characters that include a prolonged, filamentous extension of the posterior dorsal spines in males, a rounded caudal fin, and a single row of cheek scales.

My Notes: Penemuan jenis baru ini merupakan hasil sampingan dari Marine Rapid Assessment Program-nya Conservation International di Kepulauan Togean dan Banggai, Sulawesi Tengah. Jenis C. aurantidorsalis ditemukan saat menyelam di Pulau Batudaka, Kepulauan Togean pada 30 Oktober 1998 di kedalaman 15m. Nama spesies “aurantidorsalis” berasal dari bahasa latin yang berarti orange di bagian dorsal/belakang). Keberadaannya cukup melimpah di sekitar Togean, tapi kudu nyelem pada kedalaman 10-25 m.  Jenis C. tonozukai ditemukan di Pulau Tumbak dan Kenau, Kep. Banggai pada 4-5 November 1998 di kedalaman 20-30m. Nama spesies “tonozukai” berasal dari nama fotografer bawah laut Tono Tonozuka. Semua specimen yang menjadi dasar deskripsi spesies tersebut disimpan di Puslitbang Oseanologi Jakarta dan Western Austalian Museum (jika diperoleh lebih dari satu specimen).
* * * *
Reff # Ikan-New species 05-1999-20120131
Descriptions of three new wrasses (Teleostoi: Perciformes: Labridae: Paracheilinus) from Indonesia and North-western Australia with evidence of possible hybridisation.

by Rudie H. Kuiter & Gerald R. Allen. Published in 1999 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 3 (3): 119-132.

My Notes: Dalam artikelnya kali ini, Rudie dan Gerry melaporkan tiga ikan spesies baru dari genus Paracheilinus yang ditemukan di perairan Indonesia dan barat laut Australia. Spesies baru yang pertama adalah Paracheilinus cyaneus, dideskripsikan dari dua specimen yang berasal dari Kepulauan Banggai, Sulawesi (48,7-52,2 mm SL). Spesies kedua adalah Paracheilinus flavianalis, dideskripsikan dari 20 spesimen yang berasal dari Bali, Indonesia dan karang Scott-Seringapatam, Australia Barat (20,2-53,0 mm SL). Spesies yang ketiga adalah Paracheilinus togeanensis yang dideskripsikan dari satu specimen asal Kepulauan Togean, Sulawesi (47,8 mm SL).

Penentuan jenis itu umumnya diketahui secara morfologis, termasuk warna dan siripnya. Dalam artikelnya ini, Gerry juga menampilkan foto-foto dari spesies ikan yang dideskripsikan dan spesies lain yang mirip sebagai pembanding. Nama “cyaneus” berasal dari bahasa Yunani yang artinya biru; nama “flavianalis” berasal dari bahasa latin yang artinya kuning dibagian dubur); nama “togeanensis” berasal dari nama tempat ditemukannya ikan tersebut, yaitu Togean. Penemuan spesies ikan baru merupakan salah satu hasil dari survey Marine Rapid Assessment-Conservation International tahun 1998 di Kepulauan Togean dan Banggai. Sekali lagi, Gerry membuktikan dedikasinya sebagai ilmuwan. Spesimen ikan tersebut disimpan di Puslitbang Oseanologi Jakarta dan Western Australian Museum. Untuk specimen ikan yang jumlahnya satu, disimpan di Puslitbang Oseanologi.
* * * * *
Reff # Ikan-New species 06-1999-20120201
New species of freshwater gobies from Irian Jaya, Indonesia (Teleostei: Gobioidei: Sicydiinae)

by Ronald E. Watson & Gerald R. Allen. Published in 1999 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 3 (3): 113-118.

Abstract: Sicydiine gobies from Irian Jaya, Indonesia and the region, are listed in the introduction. Three species are described as new. Lentipes crittersius, new species, differs from congeners in having 19 pectoral rays, scales restricted to posterior half of body with some ctenoid scales on midline, and midlateral stripe slightly ventral to septum. Lentipes dimetrodon, new species, differs from congeners in having 15 pectoral rays, first dorsal spines erect with tips flexing posteriorly only slightly, cycloid scales restricted to posterior half of body, and pore D usually absent. Sicyopus (Smiloscyopus) mystax, new species, is distinguished from others in the genus with canine teeth in both jaws, in having 14 pectoral rays and no sexual dimorphism in jaw length.

My notes: Penggunaan kata Irian Jaya dalam artikel ini merujuk pada Propinsi Papua saat ini. Artikel ini salah satu bukti, Gerry tidak hanya main di air laut, tapi juga di air tawar. Ikan L. crittersius berukuran 31,3mm ini ditemukan di sungai Aiyindor, Biak, Papua tahun 1997. Nama crittersius berarti hewan kecil. Ikan L. dimetrodon yang berukuran antara 18,5 mm – 23,5 mm ditemukan di Sungai Omamerwai, Papua tahun 1995. Nama “dimetrodon” digunakan untuk mengenai genus reptil yang telah punah pada pertengahan jaman Permian. Ikan Sicyopus (Similosicyopus) mystax berukuran antara 30,4-40,4 mm, ditemukan di sungai Aiyindor, Biak, Papua tahun 1997. Nama mystax dari bahasa Yunani yang berarti kumis. Dalam reprint aslinya, kita dapat melihat foto berwarna dari spesies baru tersebut yang cantik. Seluruh specimen spesies baru ini disimpan di Museum Zoologi Bogor, sisanya ada di Western Australian Museum.
* * * * * *
Reff # Ikan-New species 07-200-20120202
Lentipes multiradiatus, a new species of freshwater goby (Gobiidae) from Irian Jaya, Indonesia
by Gerald R. Allen. Published in 2001 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 4 (3): 121-124.

Abstract—A new species of freshwater gobiid, Lentipes multiradiatus, is described on the basis of a single male specimen, 27.4 mm SL, collected from the Cyclops coast, near Jayapura, Irian Jaya Province, Indonesia. The species is characterized by a combination of features that include: dorsal rays VI-I, 10; anal rays I,10;  pectoral rays 20; first dorsal fin connected basally to second dorsal fin; four oculoscapular sensory pores; and the absence of both bilobed urogenital structures and a sac of replacement teeth on the upper jaw. It is the only species of Lentipes, except for L. watson from southern Papua New Guinea, in which males possess a small black spot at the beginning of the second dorsal fin.

My Notes: Propinsi Irian Jaya saat ini sudah bernama Propinsi Papua. Dengan satu specimen, Gerry dapat mengetahui dan memastikan ikan yang ditangkapnya di sungai Danyamo, Cagar Alam Pegunungan Cyclops pada Agustus 2000 sebagai spesies baru. Satu-satunya specimen ini disimpan di Museum Zoologi Bogor. penemuan ini terjadi ketika Gerry menjadi salah satu pelatih dalam kegiatan pelatihan survey biologi yang diselenggarakan oleh Conservation International Program Papua. Nama “multiradiatus” berasal dari bahasa Latin yang berarti “having many rays”. Ray di sini istilah teknis, dan saya gak sanggup nerjemahinnya. Dalam reprint aslinya, terdapat foto yang membedakan spesies baru ini dengan sepupunya Lentipes watsoni dari Papua New Guinea. Gerry juga membandingkan spesies baru ini dengan spesies dari genus yang sama. Seneng juga, dari hasil kegiatan yang saya lakukan Cyclops, ada nilai tambah berupa penemuan jenis baru.🙂
* * * * * * *
Reff # Ikan-New species 08-1998-20120202
Three new species of rainbowfishes (Melanotaeniidae) from Irian Jaya, Indonesia
by Gerald R. Allen & Samuel J. Renyaan. Published in 1998 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 3 (2): 69-80.

Abstract—Three new melanotaeniid fishes are described from Irian Jaya. Melanotaenia batanta sp.n. is desrbed from 12 specimens, 39.1-87.4 mm SL, collected at Batanta Island. It is most closely related to M. fredericki, but has a higher modal number of dorsal fin rays and fewer cheek scales. The remaining two species were collected in the Wapoga River system of northern Irian Jaya. Melanotaenia rubripinnis sp.n. is described from 51 specimens, 25.0-102.3 mm SL. It is most closely allied to M. vanheurni, but differs in colour, and generally has fewer soft dorsal rays and fewer cheek scales. Glossolepis leggetti, sp.n. is decribed from 79 specimens, 35.4-92.9 mm SL. It is most closely related to G. multisquamatus, but usually has a higher number of soft dorsal rays, fewer predorsal scales and more slender body shape in adult males.

My notes: Artikel ini merupakan hasil sampingan dari dua dua survey di dua tempat yang berbeda. Nama spesies “batanta” merupakan nama salah satu pulau tempat ditemukannya spesies ini. Batanta merupakan salah satu dari empat pulau besar dalam gugusan Kepulauan Raja Ampat. Ikan M. batanta ini berwarna perak dengan beberapa garis kuning sejajar tubuhnya. Nama spesies “rubripinnis” dari bahasa Latin yang artinya sirip merah). Itu sebabnya nama inggrisnya menjadi Red-finned rainbowfish. Ikan M.rubripinnis memang berwarna cerah banget. Sirip ke pungguh berwarna merah-orange, ditengah tubuhnya garis sejajar warna biru lalu kuning dan perak. Sirip bawahnya merah-orange. Singkat kata: cantiiiikkkk. Nama spesies “leggetti” sebagai penghormatan kepada ahli ikan air tawar kawasan Australia dan New Guinea, yaitu Ray Legget dari Brisbane-Queensland. Ikannya berwarna perak biru-kekuningan dengan garis sejajar tubuh berwarna Hijau.  Seluruh specimen tersebut disimpan di Museum Zoologi Bogor dan Western Australian Museum. Dalam reprint terdapat foto berwarna dari spesies baru tersebut dan juga spesies pembandingnya. Rainbowfishes alias ikan pelangi, emang cantik walau ukurannya bervariasi antara 6-9 cm. I love it…
* * * * * * * *
Reff # Ikan-New species 09-2001-20120204
Meiacanthus urostigma, a new species Fangblenny from the Northeastern Indian Ocean, with discussion and examples of mimicry in species of Meiacanthus (Teleostei: Bienniidae: Nemophini)
by William F. Smith-Vaniz, Ukkrit Satapoomin, & Gerald R. Allen. Published in 2001 at Aqua Journal of Ichthyology and Aquatic Biology 5 (1): 25-43.

My notes: Artikel ini mendeskripsikan satu spesies ikan baru yang diberi nama Meiacanthus urostigma, yang ditemukan di Pulau Surin, Thailand dan Pulau Weh, Aceh, Indonesia. Kata “urostigma” berasal dari bahasa Yunani, yaitu Oura (ekor) dan stigma (bintik/spot). Artikel ini juga memberikan kunci identifikasi untuk mengenali jenis ikan dari genus Meiacanthus. Selain itu juga membahas perilaku mimikri/meniru ikan dari genus ini sehingga mirip dengan spesies lain sebagai strategi, salah satunya untuk mencari makan. Canggih ya? kayak bunglon aja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s