Aves

 

A new species of Muscicapa Flycatcher from Sulawesi, Indonesia. by Harris JBC, Rasmussen PC, Yong DL, Prawiradilaga DM, Putra DD

Abstract–The Indonesian island of Sulawesi, a globally important hotspot of avian endemism, has been relatively poorly studied ornithologically, to the extent that several new bird species from the region have been described to science only recently, and others have been observed and photographed, but never before collected or named to science. One of these is a new species of Muscicapa flycatcher that has been observed on several occasions since 1997. We collected two specimens in Central Sulawesi in 2012, and based on a combination of morphological, vocal and genetic characters, we describe the new species herein, more than 15 years after the first observations. The new species is superficially similar to the highly migratory, boreal-breeding Gray-streaked Flycatcher Muscicapa griseisticta, which winters in Sulawesi; however, the new species differs strongly from M. griseisticta in several morphological characters, song, and mtDNA. Based on mtDNA, the new species is only distantly related to M. griseisticta, instead being a member of the M. dauurica clade. The new species is evidently widely distributed in lowland and submontane forest throughout Sulawesi. This wide distribution coupled with the species’ apparent tolerance of disturbed habitats suggests it is not currently threatened with extinction.

for the detailed, please see Harris JBC, Rasmussen PC, Yong DL, Prawiradilaga DM, Putra DD, et al. (2014) A New Species of Muscicapa Flycatcher from Sulawesi, Indonesia. PLoS ONE 9(11): e112657. doi:10.1371/journal.pone.0112657.

Full article: http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0112657

 

Reff # Hornbill Ecology 01-1993-20120124
Preliminary observation on the breeding biology of the endemic Sulawesi red-knobbed hornbill (Rhyticeros cassidix)

By Margaret F. Kinnaird & Timothy G. O’Brien. Published in 1993 at the Tropical Biodiversity 1 (2): 107-112.

 

Abstract—Observation on 16 nests of the endemic Sulawesi red-knobbed hornbill (Rhyticeros cassidix) were made during the 1992/1993 nesting season In Tangkoko-Dua Sudara Nature Reserve, North Sulawe

 

 

si. Nests were found in large (x=115 cm DBH), living trees more than 13 m above the ground. Nesting begin in July and ended by mid-January. The nesting period for two pairs followed from sealing for fledging lasted 133 days. Females sealed or partially sealed themselves in cavities using fecal material. Females remained incarcerated, on average 93 days before emerging to assist the male in feeding the chick. Diet items delivered to the nest were primarily figs. The breeding biology and diet of R. cassidix is broadly similar to that reported for the Wreathed hornbill, R. undulates in Thailand.

My Note; Tulisan ini

 

merupakan laporan awal ketika dimulainya penelitian Sulawesi Rainforest Project. Jenis pakannya relative lebih bervariasi saat berbiak daripada non-berbiak. Ya wajarlah, kan si betina ngerem di dalam lubang, perlu lebih banyak energy buat mengerami satu-satunya telur.

*
Reff # Hornbill Ecology 02-1994-20120125
Food preferences of the Sulawesi red-knobbed hornbill during the non-breeding season

By Suer Suryadi, Marg

 

aret F. Kinnaird, Timothy G. O’Brien, Jatna Supriatna & S. Somadikarta.   Published in 1994 at Tropical Biodiversity 2 (3): 377-384

Abstract—Feeding p

 

references of the Sulawesi red-knobbed hornbill Rhyticeros cassidix were studied during the non-breeding season at Tangkoko-Dua Sudara Nature Reserve, North Sulawesi. Hornbills selected fruits of 24 species from five families. Fig species were the most important compo

 

 

nent of the diet. Hornbills preferred red and purple fruits over other colors, and they preferred large, heavily fruits over smaller fruits. Color likely provides a cue to ripeness, while large crops of heavy fruits harvested more efficiently than smaller fruits, reducing the search time required to meet daily energetic time budgets. Hornbills flock size and the amount of time spent feeding in trees increased significantly with a higher fruit preference index.

My note: Sebetulnya nggak fair saya beri komentar tulisan ini. Tapi sekedar refleksi, sekarang kok saya mikir, ngapain ya saya blusak blusuk nyari tau makanan yang disukai rangkong? Lah kalau udah tau preferensinya, terus gimana? What next?  Banyaklah teori yang secara bahasa “seharusnya”, dapat digunakan sebagai alasan untuk meggunakan informasi tersebut. Tapi ujung-ujungnya ya terserah si pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan. Lebih ujung lagi, saya gak tau apakah data dan informasi di atas memang berguna buat pengelolaan kawasan cagar alam dan pelestarian rangkong. Sinis ya? Iya sih… 

* *

Reff # Hornbill Ecology 03-1996-20120205
Population fluctuation in Sulawesi red-knobbed hornbills: Tracking in space and time

by Margaret F. Kinnaird, Timothy G. O’Brien & Suer Suryadi. Published in 1996 at the Auk 113 (2): 431-440.

My notes:Agak serius nih. Artikel ini membahas variasi populasi Rangkong Sulawesi Rhyticeros cassidix dalam ruang dan waktu yang dikaitkan dengan ketersediaan buah pakan selama dua tahun di Cagar Alam Tangkoko DuaSudara, Sulawesi Utara. Produksi buah di dalam hutan tidak menunjukkan perbedaan pola yang tampak selama 22 bulan pengamatan. Buah beringin selalu ada selama penelitian. Kepadatan populasi rangkong berfluktuasi sepanjang tahun, rata-rata 51 ekor/km2 dengan rentang antara 9-82 ekor/km2.

Jumlah rangkong itu sangat bergantung dengan kelimpahan dan distribusi beringin. Jumlah rangkong lebih banyak ditemukan pada daerah dengan kepadatan pohon beringin yang tinggi. Ketika beringin berbuah pada suatu tempat, maka jumlah rangkong dan kepadatannya juga ikut meningkat. Hubungan beringin dan rangkong tampaknya sebuah hubungan yang mutualistik. Hampir semua rangkong yang ada di Asia, umumnya penggemar buah beringin. Sementara itu, sebagai penggemar buah, rangkong juga menjadi penyebar biji dari buah-buahan yang dimakannya, termasuk beringin. Jadi wajar dong kalo kita bilang, We need forest, forest need hornbills, and hornbill need human to conserve nature.
* * *
Reff # Hornbill Ecology 04-1994-20120207
Notes on the density and distribution of the endemic Sulawesi tarictic hornbill (Penelopides exarhatus) in the Tangkoko Dua Saudara Nature Reserve, North Sulawesi

by Margaret F. Kinnaird & Timothy G. O’Brien. Published in 1994 at the Tropical Biodiversity 2(1): 252-440.

Abstract—The genus Penelopides is represented in North Sulawesi by the subspecies of P.e.exarhatus. The Asian Hornbill Working Gorup classifies  P.e.exarhatus safe but potentially threatened by land clearing. Using line transect surveys, the population of  P.e.exarhatus in the 8,867 ha Tangkoko-Dua Saudara Nature Reserve was estimated at 44 groups consisting of 176 individuals (average 4 birds/group, range 2-10 individuals/group).  P.e.exarhatus probably live in family groups and appear to be cooperative breeders. Groups are distributed uniformly across the northern half of the reserve and occur primarily from sea level to 650 m asl. The home range size for two study groups was estimated at approximately 1.5-2.0 km2. The primary threat to  P.e.exarhatus in North Sulawesi, and in Tangkoko Dua Saudara Nature Reserve in particular, is degradation or loss of habitat due to forest fires, logging, and agriculture. Because of the rapid loss of lowland forest inside and outside protected areas, we recommend that the status of  P.e.exarhatus be changed from safe to vulnerable.

My notes: Tulisan ini merupakan catatan awal dari  P.e.exarhatus (Kangkareng Sulawesi) yang ada di cagar alam tersebut. Ketika tulisan ini dibuat, pemahaman mengensi spesies ini masih minim. Sejumlah informasi yang ditampilkan seperti home range size (daerah jelajah) masih berupa perkiraan yang memerlukan pembuktian lebih lanjut. Ketika tulisan ini dibuat, penulis belum yakin bahwa P.e.exarhatus hidup dalam kelompok dan berperilaku cooperative breeders. Perilaku cooperative breeder ini jelas ditemukan pada Kangkareng coklat/Brown Hornbill di Thailand. Mengingat tulisan ini merupakan catatan awal, jadi ya kita harus maklum lah. Lagi pula, memang agak sulit menemukan spesies ini karena ukurannya yang relatif lebih kecil dibandingkan Rangkong Sulawesi, dan warnanya kurang mencolok.

Mengingat saya dan penulis berada di lokasi yang sama, pada waktu yang nyaris sama, saya jadi bisa lebih memahami kondisi saat penelitian ini dilakukan. Hehehe… Mungkin (ikut-ikutan berkata mungkin) karena keterbatasan lubang di pohon, kami melihat ada satu pohon sarang yang digunakan bergiliran antara Rangkong Sulawesi dan kangkareng Sulawesi. Sekedar ngasi gambaran aja, yang dimaksud cooperative breeders adalah situasi di mana anak-anak dari kangkareng, ikut bantu ayahnya memberi makan ibunya yang sedang bertelur/mengerami telur di dalam sarang. Itung-itung latihan alias magang buat si anak sebelum kawin..Hehehe…
* * * *

Reff # Hornbill-Ecology 05-20120210
Evidence for effective seed dispersal by the Sulawesi Red-knobbed hornbill, Aceros cassidix

by Margaret F. Kinnaird. Published in 1998 at Biotropica 30 (1): 50-55.

Abstract—  The Sulawesi Red-knobbed Hornbill (Aceros cassidix) is a large-bodied, frugivorous bird that nests in high densities in the Tangkoko-DuaSudara Nature Reserve, North Sulawesi, Indonesia. I measured seedling abundance and species richness, diversity, and dominance in plots placed below and immediate behind 20 active nest sites to evaluate the role of red-knobbed hornbill as agents of seed dispersal. Comparison of treatment (below nests) and control plots (behind nests) show that hornbills affect the abundance and distribution of diet species seedlings. Non diet and nest tree seedlings did not differ between control and treatment plots suggesting that differences in diet species were the result of additional input by hornbills rather than by random or other dispersal events. Significantly greater numbers of diet seedlings germinated below nests, and the diversity of diet species was greater than that on nondiet species. Dominance of a few species in the treatment plots is consistent with the hypothesis that hornbills are effectively dispersing seeds of some, but not all, of thei diet species. Although seedlings under nests may eventually experience density-dependent motrality survived at least 12 months, indicating that red-knobbed hornbills were effectively dispersing seeds and influencing the initial fate of seeds of severed tropical forest tree species.

My Notes:  Artikel ini menganalisa keragaman jenis dan kelimpahannya semai yang ada di bawah lubang dari pohon tempatnya bersarang. Dibandingkan dengan bagian belakang dari pohon sarang sebagai kontrol. Plot dibuat dengan ukuran 10m x 5 m. Dari 60 lubang sarang aktif yang digunakan rangkong, penelitian ini mengambil 20 sarang untuk dijadikan bahan penelitian. Hasilnya membuktikan bahwa rangkong termasuk jenis yang secara efektif mampu menyebarkan biji dari buah yang dimakannya.

Nah, kemampuan menyebarkan biji itu karena buah yang dimakannya tidak sampai merusak bijinya. Sehingga ketika rangkong buang hajat, biji-biji itu ikut keluar bersama kotorannya. Biji yang jatuh di atas tanah hutan yang subur, berhasil menetas, ah…bukan menetas tapi bertunas. Cuma satu masalahnya, kalau biji-biji itu jatuh pada tempat yang sama, nanti tunas-tunas itu akan berkompetisi secara alamiah. Biji dengan kualitas baguslah yang akan menghasilkan tunas bagus dan terus bertahan.

Kalo gitu, pepatah yang mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya masih relevan yak? Tapi gak menjamin tunasnya akan ada di sekitar induk. Salah satunya ya akibat kerjaan si rangkong ini. Kita mesti berterima kasih sama rangkong. Kalo gak ada rangkong, buah yang jatuh dekat induknya, belum tentu jadi tunas. Kalaupun jadi tunas, persaingan hidupnya akan tinggi banget. So, makasih rangkong…
* * * *

Reff # Hornbill-Ecology 06-20120217
Behavioural ecology of the North Sulawesi Tarictic Hornbill (Penelopides exarhatus exarhatus) during the breeding season

by Timothy G. O’Brien. Published in 1997 at IBIS 139: 97-101

Abstract—  Two nests of the North Sulawesi tarictic hornbill Penelopides exarhatus exarhatus were monitored for one breeding season (April-July). The females sealed themselves into the nest cavities and remained there for 70-90 days. Incubation eas estimated at 16-19 days, and at both nests two offspring fledged. Tarictic hornbills are cooperative breeders with up to three helpers at the nest and defend foraging territories of 72-139 ha. Food items delivered to the nest included fruits of 34 species (85% of diet items) and invertebrates. Provisioning by helpers allowed breeding males to reduce investment in parental care and may accelerate the development rates in chicks. Constraints on dispersal probably result from habitat saturation rather than living in an upredictable environment.

My Notes: Dalam tulisan aslinya, di abstrak gak ditulis lokasi penelitiannya di Cagar Alam Tangkoko Dua Saudara, Sulawesi Utara. Yawda, gak usah dipersoalkan, toh udah saya kasih tau kan? Hehehe..

Di artikel sebelumnya (Reff # Hornbill Ecology 04) tentang Penelopides exarhatus exarhatus alias kangkareng sulawesi masih banyak berupa kirologi. Sekarang udah terbukti adanya perilaku cooperative breeding, adanya “pembantu” untuk memberi makan anak yang baru lahir. Tiap sarang yang diamati, berhasil menetaskan dua anak. Menurut penulis, emaknya anak-anak keluar dari lubang sarang karena lubang sarangnya sesak atau karena kesian sama bapaknya yang bolak-balik nyari makan. Kehadiran “pembantu” untuk mencari dan memberi makan ini menjamin ketersediaan makanan buat si jabang bayi kangkareng. Sebanyak 84% makanannya berupa buah dari 34 spesies, terutama spesies beringin. Sisanya berupa serangga.
* * * * * *

Reff # Hornbill-Ecology 07-20120220
Home ranges and daily movements of the Sulawesi red-knobbed hornbill during the non-breeding season.

by Suer Suryadi. Part 1- Movement patterns of the Sulawesi Red-Knobbed Hornbill, Aceros cassidix in Tangkoko-Dua Saudara Nature Reserve, North Sulawesi.  Master thesis in Conservation Biology, University of Indonesia, 1997

Abstract—  Enam ekor rangkong sulawesi (Aceros cassidix) diteliti dengan teknik radiotelemetri sejak Oktober 1994 hingga Juni 1995 di Cagar Alam Tangkoko-Dua Saudara, Sulawesi Utara. Rangkong dipantau dari beberapa stasiun penerima yang terletak di puncak bukit atau menari di sekitar kawasan cagar alam. Rangkong dipantau selama 3 hari dalam seminggu; pagi hari (06.00-12.00), siang hari (12.00-18.00) dan satu hari penuh (06.00-18.00) dengan total waktu 24 jam seminggu. Dua pengamat dari stasiun penerima yang berbeda secara bersamaan memantau arah setiap burung selama tiga menit dengan interval satu jam. Luas daerah jelajah dihitung berdasarkan minimum convex polygons dari 600 jam data. Daerah jelajah bervariasi antara 39,8 dan 55,8 km2. Rata-rata jarak jelajah harian adalah 10,49 km/hari, tetapi ada yang pernah tercatat terbang sejauh 37 km dalam sehari. Rangkong lebih banyak terdeteksi di Tangkoko, tetapi ditemukan juga di Dua Saudara, Batuangus, dan Hutan Lindung Wiau. Daerah jalajah rangkong diduga dipengaruhi oleh ketersediaan buah beringin (Ficus sp.), tetapi data fenologi (ketersediaan buah) tidak mendukung hipotesis tersebut. Hal itu mungkin disebabkan oleh luas area studi fenologi yang terlalu kecil dibandingkan pergerakan rangkong sulawesi.

My Notes: Cuma sedikit info tambahan. Awalnya saya berhasil menangkap 8 ekor rangkong, tetapi dua radio pemancar terlepas dari punggung rangkong. Jadi ya..cuma 6 yang bisa dianalisa.
* * * *

Reff # Hornbill-Ecology 08-20120220
Movement of the Sulawesi red-knobbed hornbill, Aceros cassidix: Are they nomadic?

by Suer Suryadi. Part 2- Movement patterns of the Sulawesi Red-Knobbed Hornbill, Aceros cassidix in Tangkoko-Dua Saudara Nature Reserve, North Sulawesi.  Master thesis in Conservation Biology, University of Indonesia, 1997

Abstract—  Penelitian ini dilakukan terhadap enam jantan rangkong sulawesi (Aceros cassidix) pada masa tidak berbiak di Cagar Alam Tangkoko-Dua Saudara (TDS), Sulawesi Utara. Teknik radiotelemetri digunakan untuk mengetahui arah burung, sedangkan metoda triangulasi digunakan untuk menentukan posisinya. Peta TDS berskala 1: 50.000 di digitized dengan program CAMRIS, sebuah perangkat keras komputer untuk sistem informasi geografi. Hasil tersebut digunakan untuk menganalisa lokasi burung pada setiap elevasi. Irisan dari rata-rata lokasi mingguan dihitung untuk menduga tingkat kesetiaan pada tempat (site fidelity) dari rangkong terhadap lokasi pergerakannya. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rangkong cenderung untuk tinggal di wilayah Tangkoko, khususnya dari ketinggian 0 hingga 400 m dari permukaan laut. Rangkong yang diteliti menunjukkan pergerakan harian yang cukup jauh tetapi tetap kembali ke lokasi asalnya. Rangkong bergerak dari wilayah Tangkoko (daerah sarang) ke wilayah Batuangus atau Dua Saudara yang diduga sebagai wilayah pergerakannya dan tidak menunjukkan pola nomadis. Ketersediaan pakan, terutama buah beringin (Ficus sp.) diduga berperan penting untuk mempengaruhi pola pergerakannya, termausk pada sifat kesetiaan dan distribusi berdasarkan ketinggian.

My Notes: Totally no comment … hehhehe
* * * * * * * *

Reff # Hornbill-Ecology 09-20120304
Beberapa perilaku ekologi Enggang Sumba Rhyticeros everitti

by Deddy Juhaeni. Skripsi di Fakultas Biologi Universitas Nasional. 1992

Sinospsis: Penelitian dilakukan antara bulan Juli 1992 hingga September 1992 dengan tujuan mengetahui Organisasi sosial enggang sumba, pemanfaatan strata pohon pakan, dan perilaku penguasaan teritori pohon pakan antar pasangan enggang sumba. Pengamatan dilakukan antara pukul 6-10 pagi dan 3-6 sore. Penelitian ini menemukan enggang sumba hidup berpasangan dan dapat berkelompok hingga 20-25 ekor. Mereka berkelompok untuk mencari makan, istirahat dan di pohon tidur.Enggang sumba banyak beraktivitas pada tajuk atas, tengah, dan bawah pohon. Pakan utamanya buah beringin dengan saingan utamanya monyet ekor panjang, Macaca fascicularis. Jumlah garis pada paruh bagian atas dari enggang menunjukkan hirarki, sehingga yang lebih banyak garis akan lebih dominan menguasai sumber pakan.

My notes: Enggang Sumba ini spesies endemic di Pulau Sumba. Sebagaimana rangkong sulawesi, enggang sumba jantan dan betina memiliki warna di leher yang berbeda.Jarang sekali penelitian terhadap spesies ini. Populasi enggang sumba juga relative rendah loh, dulu aja tahun 1996 diperkirakan tinggal 5000 ekor. Gak tau ya saat ini tinggal berapa, secara kebutuhan lahan semakin besar di Sumba, apalagi ada pemekaran kabupaten.

**********

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s