Referensi singkat untuk semua
30 Jan 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in Conservation
Dengan segala keterbatasan, saya coba bikin halaman khusus Reference. Kalau ada teman-teman punya artikel yang mau dibagi dengan kawan-kawan lain, silakan kirim ke sini, atau dimuat dalam blog masing-masing, dengan semangat berbagi referensi untuk kita semua. Moga-moga berguna. Sila klik halaman Reference
Reference ini merupakan kumpulan referensi artikel dari jurnal ilmiah atau buku yang kebetulan saya miliki. Daripada numpuk tanpa pernah ada yg baca, ya iseng-iseng aja saya bagi di sini walau hanya berupa sedikit ringkasan dan ulasan.
Banyak loh peneliti-peneliti dari dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di Indonesia, lalu mempublikasi dalam jurnal-jurnal ilmiah dari luar negeri. Bisa jadi karena jurnal dalam negeri belum dianggap mumpuni dan berkualitas dunia. Yang bikin miris, jurnal-jurnal itu gak gampang didapatkan oleh peneliti kita sendiri. Ujung-ujungnya, kita sendiri gak tau sumberdaya apa yang kita miliki, riset apa yang telah terjadi, dan apa hasilnya. Beruntung kalau publikasi/ artikel yang mau kita cari tersedia gratis di internet. Mungkin kalau di browsing, artikel-artikel yang saya sampaikan di bawah ini juga tersedia gratis di internet. Saya sih belum coba cari hehehe….mau coba? silakan…
Masih adakah burung-burung itu di Kampus UI Depok?
06 Sep 2010 3 Komentar
in Biodiversity, Conservation Tag:Burung
Sebagai kota satelitnya Jakarta, kemajuan Kota Depok bersaing ketat dengan Bekasi dan Tangerang. Sampai dekade 1980-an, hanya ada satu ruas jalan dari Pasar Minggu-Depok yang mesti ditempuh dengan bis Miniarta dan Sukma Jaya, mesti melintasi 5 perlintasan kereta api yang tentunya kalo lagi sial ya mesti ikut ngantri nonton rangkaian besi itu melintas. Singkat kata, Depok ini tempat jin buang anak dah. Terus, apa hubungannya sama judul burung di kampus? Ya pasti ada. Tapi apakah korelasi itu signifikan atau enggak, ya mesti uji balistik, eh, statistik Spearmann Correlation.
Ketika awal beroperasinya kampus tahun 1987-1988, di area seluas 320 hektar itu masih banyak tegakan pohon karet, sawah, danau, sungai kecil, semak belukar dan alang-alang. Adapula lingkungan buatan berupa danau buatan dan hutan buatan yang didominasi Akasia. Di sanalah burung penyuka air, penggemar serangga, burung berkicau dan pendiam bersemayam memadukan dirinya memanjakan hidup. Sebagaimana umumnya yang terjadi di muka bumi, pembangunan dan pengembangan adalah hak segala bangsa, sehingga makhluk hidup tak ber “KTP” yang gratis menghuni keasrian alam asli, harus mengalah demi makhluk ber KTP dari jenis Homo sapiens. Singkat cerita, pasti ada perubahan dalam skala mikro dan makro. Wuidiihhh…
Alkisah, dalam rangka beres-beres rumah, terkuaklah sebuah dokumen laporan yang kalo dibuang sayang, dibaca bikin bersin-bersin karena debu dan jamur yang nempel di kertas, tentang burung di kampus UI Depok.
Konon, pada tanggal 13 Agustus 1988, terbentuklah Kelompok Pengamat Burung SYMBIOSE di Jurusan Biologi, FMIPA-UI Depok, dengan pemrakarsa Mochamad Indrawan dan Martarinza, mahasiswa Biologi angkatan 1982 dan 1985. Antara Agustus-Oktober 1988, dilakukanlah inventarisasi jenis burung (macam sensus penduduk lah) di kampus UI Depok. Tiga kali seminggu, pada jam 6-10 pagi dan 3-6 sore, gerombolan mahasiswa ini menelusuri kampus dengan bekal teropong, alat perekam, kamera, dan buka panduan. Waktu itu, buku panduan yang paling top adalah Ben King terbitan 1975, yang bertajuk A field guide to the birds of South East Asia. Kemudian dibantu dengan kaset rekaman suara-suara burung karya Bas van Ballen.
Pengamatan itu berhasil menemukan 51 jenis burung di kampus UI Depok, padahal di DKI pada waktu itu tercatat hanya 100 jenis. Danau rektorat yang terletak di sebelah balairung, kala itu sedang mengalami pendangkalan, tetapi kita masih melihat Pecuk padi (Phalacrocorax sulcirostris), Mandar batu (Gallinula chloropus), dan belibis (Dendrocygna javanicus) berenang, bermain, dan mencari makan. Demi alasan estetika, danau dibenahi dan kaburlah burung-burung itu. Setelah itu, setiap tahun, dilakukan pengamatan jenis burung oleh mahasiswa biologi yang praktik kuliah ekologi atau taksonomi hewan, atau anak-anak SYMBIOSE yang iseng-iseng birdwatching. Bahkan ada juga yang jadi sarjana gara-gara mengamati burung di kampus UI. Pelan-pelan, jumlah jenis yang tercatat bertambah banyak. Tapi sekarang, mungkin pelan-pelan, jumlah jenisnya bertambah dikit.
Burung-burung yang ada di UI ini sebagian pernah saya lihat langsung. Ada juga yang cuma terdengar suaranya macam si cabak maling alias Caprimulgus macrurus yang tiap menjelang magrib rajin teriak-teriak. Ada yang nekat masuk gedung kuliah seperti burung hantu Tyto alba. Bahkan ada yang nebeng hidup di sela-sela genting kampus, seperti burung dara. Kotorannya, sering kita jumpai di tangga dan lantai gedung kuliah.
Berikut adalah daftar jenis burung yang teridentifikasi berada di areal kampus UI Depok antara 1988-1991. Monggo ditengok lagi, mana tau jumlah jenisnya bertambah atau malah berkurang. Ini dia jenis-jenis burung yang pernah tercatat dalam sejarah burung-burung di kampus UI Depok. Ada yang punya daftar tambahannya?
Tabel daftar nama jenis burung di kampus UI Depok, 1988-1991
| No | Nama ilmiah |
| 1 | Phalacrocorax sulcirostris |
| 2 | Ixobrychus cinnamomeus |
| 3 | Ixobrychus sinensis |
| 4 | Dendrocygna javanica |
| 5 | Turnix suscicator |
| 6 | Porzana cinerea |
| 7 | Amarournis phoenicurus |
| 8 | Gallinula chloropus |
| 9 | Rostratula benghalensis |
| 10 | Streptopelia chinensis |
| 11 | Geopelia striata |
| 12 | Centopus bengalensis |
| 13 | Centropus sinensis |
| 14 | Cacomantis merulinus |
| 15 | Caprimulgus macrurus |
| 16 | Otus lempiji (bakkamoena) |
| 17 | Collocalia fuciphaga |
| 18 | Collocalia linchi |
| 19 | Alcedo meninting |
| 20 | Alcedo caerulescens |
| 21 | Halcyon chloris |
| 22 | Picoides macei |
| 23 | Picoides moluccensis |
| 24 | Hirundo tahitica |
| 25 | Pericrocotus cinnamomeus |
| 26 | Aeghitina tiphia |
| 27 | Pycnonotus aurigester |
| 28 | Pycnonotus goiavier |
| 29 | Dicrurus macrocercus |
| 30 | Parus major |
| 31 | Copsychus saularis |
| 32 | Timalia pileata |
| 33 | Prinia familiaris |
| 34 | Prinia flaviventris |
| 35 | Prinia subflava |
| 36 | Prinia polychroa |
| 37 | Orthotomus sepium |
| 38 | Orthotomus sutorius |
| 39 | Gerygone sulphurea |
| 40 | Rhipidura javanica |
| 41 | Lanius schach |
| 42 | Acridotheres javanicus |
| 43 | Anthreptes malacensis |
| 44 | Nectarinia jugularis |
| 45 | Aetophyga siparaja |
| 46 | Dicaeum trochileum |
| 47 | Passer montanus |
| 48 | Ploceus manyar |
| 49 | Lonchura punctulata |
| 50 | Lonchura leucogastroides |
| 51 | Zosterops palpebrosa |
| 52 | Galinago galinago |
| 53 | Galus gallus |
| 54 | Ictinatus malayensis |
| 55 | Haliastur indus |
| 56 | Columba livia |
| 57 | Oriolus chinensis |
| 58 | Corvus enca |
| 59 | Cacomantis variolosus |
| 60 | Dicrurus macrocercus |
| 61 | Pericrocotus flammeus |
| 62 | Acridhoteres javanicus |
| 63 | Apus affinis |
| 64 | Artamus leucorynchus |
| 65 | Cisticola juncidis |
| 66 | Orthotomus ruficeps |
| 67 | Lonchura leucogaster |
| 68 | Merops philippinus |
| 69 | Tyto alba |
Taman Nasional di Indonesia, sudah (cukuplah) 50 unit
27 Agu 2010 4 Komentar
in Conservation
Secara statistik, Indonesia termasuk negara yang top markotop dalam hal keanekaragaman hayatinya, walaupun angka-angka itu ada yang sudah angka final, ada pula yang kiralogi (ya mana tau nanti ada ilmu tentang mengira-ngira). Biar dramatis kayak sinetron, luas daratan di permukaan bumi konon cuma 1,3% tetapi di Indonesia terdapat 90 jenis ekosistem. Indonesia menyumbangkan 12% jenis mamalia yang ada di dunia, 17% burung-burung dunia, 16% reptil dan amfibi dunia, 25% ikan tawar dan laut dunia, serta 10% tumbuhan berbunga dunia. Cihuy kan?
Nah keanekaragaman hayati itu ada yang hidup di kawasan konservasi dan ada juga yang pelintas batas. Ada yang pelintas batas antar benua, antar negara, antar provinsi, bahkan melintas keluar kawasan konservasi. Ya mohon maklum karena mereka gak tau batas-batas kawasan konservasi. Jangankan satwa liar, kita aja seringkali (pura-pura) gak tauk di mana batas-batas kawasan. Apa aja jenis-jenis kawasan konservasi di Indonesia?
Berdasarkan data tahun 2006, begini komposisi kawasan konservasi di Indonesia.
| Jenis kawasan | Jumlah (unit) | Luas (ha) |
| Cagar Alam | 249 | 4.928.928,92 |
| Suaka Margasatwa | 77 | 5.342.379,74 |
| Taman Nasional | 50 | 16.375.253,31 |
| Taman Wisata Alam | 124 | 1.041.345,21 |
| Taman Hutan Raya | 21 | 347.427,34 |
| Taman Buru | 14 | 224.816,04 |
| TOTAL | 535 |
Nah data tabel tadi, didapat dari Buku Informasi 50 Taman Nasional di Indonesia, terbitan Dephut RI yang bekerjasama dengan LHI dan JICA. Bagi yang sudah punya, coba deh cek, jumlah cagar alam katanya ada 249 unit, tapi perinciannya 214 unit di darat dan 8 unit darat dan perairan. Kalau dijumlah kok jadi 222 unit ya? Beda sama jumlah total ya? Kalau mau tambah iseng lagi, dalam tabel disebutkan 50 taman nasional itu total luasnya 16.375.253,31 hektar. Begitu kita lakukan perincian sebagaimana ditampilkan dalam daftar tabel taman nasional di bawah ini, ternyata total luasnya adalah 16.323.811,83 hektar. Ada selisih 51.441,48 hektar. Di mana selisihnya?
Di TN Lorentz, penyusun buku 50 taman nasional ini bingung, mau pakai luas 2.450.000 ha atau 2.505.600 ha. Langkah amannya, kedua angka luasan itu disebutkan saja sebagai luas taman nasional. Lha yang bener yang mana? Pada Buku Panduan 41 Taman Nasional di Indonesia yang diterbitkan oleh Dephut RI tahun 2003, luas TN Lorentz tertulis 2.450.000 ha. Walahualam..mungkin salah cetak. Entah yang mana yang salah cetak. Yang pasti benar, mestinya yang tercantum di dalam Surat Keputusan Menteri yang menunjuk/menetapkan kawasan itu menjadi taman nasional. Dan yang semestinya punya arsipnya tentu sudah jelas, tak perlu kita bahas kan?
Kalau sudah bicara soal jumlah dan luasan, kadang kita gemes, sambil senyum simpul. Bagaimana kita dapat mengelola kawasan itu kalau luas areanya saja masih belum akurat, padahal luas itu tercantum di dalam keputusan menterinya. Ditambah lagi dengan tekanan perambahan di hampir semua kawasan konservasi. Maka menjadi sulit untuk dikhayalkan penentuan prioritas program konservasi yang terukur dan terevaluasi dengan baik, jika data masih dianggap sekedar angka.
Dengan kata lain, bagi yang gemes dan pengen tahu berapa jumlah dan luas sebenarnya di atas kertas, ya cari data dan hitung sendiri dengan menggunakan berbagai sumber. Pakai satu sumber saja, kita sudah dibuat bingung, apalagi sumbernya beda-beda. Itu baru di atas kertas, apalagi kalau di atas kawasannya? Jangan gemes apalagi geram, ntar disuruh ngitung sendiri lho…
Saya pernah geram, dan akhirnya mencoba mengajak otoritas untuk menentukan di mana sih titik-titik batas kawasan untuk wilayah sepanjang 3 km saja. Walhasil, 3 kali pengukuran oleh lembaga yang memang berkompeten dan memang punya otoritas pengukuran, toh hasilnya tetap tak bisa dipakai karena tiga hasil tersebut saling meniadakan. Tambah bingung kita. Si pengukurnya? Tampaknya cuek aja tuh, karena si pengukur kan bukan pengelola kawasan. Kalau hasil ukurannya tidak pas dan timbul konflik, kan itu jadi urusan pengelola kawasan. Haduh..
Ah, kok jadi ngelantur. Taman Nasional tuh apa ya? Kalau ada taman nasional, apa ada taman daerah atau taman internasional? Ketentuan mengenai taman nasional di Indonesia di atur dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Taman daerah? Belum ada aturannya. Taman Internasional? Mungkin secara interpretasi dan dali aqli, bolehlah kita menganggap bahwa taman nasional yang sudah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia, Cagar Biosfer, dan Ramsar sebagai taman internasional. Mestinya lagi, kawasan berstatus internasional itu juga dikelola dengan standar internasional. Mestinya lho…
Di Indonesia terdapat 6 taman nasional yang telah ditetapkan oleh UNESCO (atas permintaan Pemerintah Indonesia) sebagai cagar biosfer, 6 taman nasional sebagai Warisan Dunia, dan 2 sebagai situs Ramsar. Terdapat dua taman nasional berstatus cagar biosfer dan warisan dunia, yaitu TN Gunung Leuser dan Komodo. Apa itu cagar biosfer, warisan dunia, dan ramsar? Nanti aja lah kita bahas ya.
Berikut ini adalah daftar taman nasional berdasarkan pulau yang dikutip dari buku informasi 50 taman nasional di Indonesia. Masih ada upaya kawasan yang diusulkan sebagai taman nasional, dan ada pula yang ingin berstatus warisan dunia, tapi sungguh bijak jika Kementerian Kehutanan tidak menambah dulu kalau belum siap lahir batin, belum siap sumber daya manusia dan finansial.
Pulau Sumatera, punya 11 taman nasional dengan total luas 3.865.390,45 hektar
| No | Nama | Tahun | Luas (ha) | Provinsi |
| 1 | Gunung Leuser 1,2 | 1980 | 1.094.692 | NAD, Sumut |
| 2 | Batang Gadis | 2004 | 108.000 | Sumut |
| 3 | Siberut1 | 1993 | 190.500 | Sumbar |
| 4 | Bukit Tiga Puluh | 2002 | 144,223 | Riau, Jambi |
| 5 | Kerinci Seblat2 | 1996 | 1.389.509,87 | Jambi, Sumbar, Bengkulu, Sumsel |
| 6 | Tesso Nilo | 2004 | 38.576 | Riau |
| 7 | Bukit Dua Belas | 2000 | 60.500 | Jambi |
| 8 | Berbak3 | 1992 | 150.982,27 | Jambi |
| 9 | Sembilang | 2003 | 202,896.31 | Sumsel |
| 10 | Bukit Barisan Selatan2 | 1982 | 355.511 | Bengkulu, Lampung |
| 11 | Way Kambas | 1999 | 130.000 | Lampung |
1 Cagar Biosfer, 2 Warisan Dunia, 3 Ramsar
Pulau Jawa memiliki 12 taman nasional dengan total luas 679.327,9 hektar
| No | Nama | Tahun | Luas (ha) | Provinsi |
| 1 | Ujung Kulon 2 | 1980 | 120.551 | Banten |
| 2 | Gunung Halimun Salak | 1992 | 113.357 | Jawa Barat, Banten |
| 3 | Gunung Gede Pangrango1 | 1980 | 21.975 | Jawa Barat |
| 4 | Kepulauan Seribu | 1995 | 107.489 | DKI Jakarta |
| 5 | Gunung Ciremai | 2004 | 15.500 | Jawa Barat |
| 6 | Kepulauan Karimunjawa | 1988 | 111.624,7 | Jawa Tengah |
| 7 | Gunung Merbabu | 2004 | 5.725 | Jawa Tengah |
| 8 | Gunung Merapi | 2004 | 6.410 | Jawa Tengah, DI Yogyakarta |
| 9 | Bromo Tengger Semeru | 1997 | 50.276,2 | Jawa Timur |
| 10 | Meru Betiri | 1997 | 58.000 | Jawa Timur |
| 11 | Baluran | 1997 | 25.000 | Jawa Timur |
| 12 | Alas Purwo | 1992 | 43.420 | Jawa Timur |
1 Cagar Biosfer, 2 Warisan Dunia,
Di Bali dan Nusa Tenggara terdapat 6 taman nasional dengan total luas 333.039,48 hektar.
| No | Nama | Tahun | Luas (ha) | Provinsi |
| 1 | Bali Barat | 1995 | 19.002,89 | Bali |
| 2 | Gunung Rinjani | 1997 | 41.330 | NTB |
| 3 | Komodo 1,2 | 1980 | 132.572 | NTT |
| 4 | Manupeu-Tana Daru | 1998 | 87.984,09 | NTT |
| 5 | Laiwangi-Wanggameti | 1998 | 47.014 | NTT |
| 6 | Kelimutu | 1997 | 5.136,50 | NTT |
1 Cagar Biosfer, 2 Warisan Dunia,
Di Pulau Kalimantan terdapat 8 taman nasional dengan total luas 3.745.959 hektar
| No | Nama | Tahun | Luas (ha) | Provinsi |
| 1 | Gunung Palung | 1990 | 90.000 | Kalbar |
| 2 | Danau Sentarum3 | 1999 | 132.000 | Kalbar |
| 3 | Betung Kerihun | 1995 | 800.000 | Kalbar |
| 4 | Bukit Baka-Bukit Raya | 1992 | 181.090 | Kalbar, Kalteng |
| 5 | Tanjung Puting 1 | 1984 | 415.040 | Kalteng |
| 6 | Sebangau | 2004 | 568.700 | Kalteng |
| 7 | Kayan Mentarang | 1996 | 1.360.500 | Kaltim |
| 8 | Kutai | 1982 | 198.629 | Kaltim |
1 Cagar Biosfer, 3 Ramsar
Di Pulau Sulawesi terdapat 8 taman nasional dengan total luas 3.026.485 hektar
| No | Nama | Tahun | Luas (ha) | Provinsi |
| 1 | Taka Bonerate | 1992 | 530.765 | Sulsel |
| 2 | Bantimurung-Bulusarung | 2004 | 43.750 | Sulsel |
| 3 | Wakatobi | 1996 | 1.390.000 | Sultra |
| 4 | Rawa Aopa Watumohai | 1990 | 105.194 | Sultra |
| 5 | Lore Lindu1 | 1993 | 217.991 | Sulteng |
| 6 | Kepulauan Togean | 2004 | 362.605 | Sulteng |
| 7 | Bogani Nani Wartabone | 1991 | 287.115 | Gorontalo, Sulteng |
| 8 | Bunaken | 1991 | 89.065 | Sulut |
1 Cagar Biosfer
Di Maluku dan Papua terdapat 5 taman nasional dengan total luas 4.673.610
| No | Nama | Tahun | Luas (ha) | Provinsi |
| 1 | Aketajawe-Lolobata | 2004 | 167.300 | Maluku Utara |
| 2 | Manusela | 1997 | 189.000 | Maluku |
| 3 | Teluk Cendrawasih | 1993 | 1.453.500 | Papua Barat |
| 4 | Lorentz2 | 1997 | 2.450.000 | Papua |
| 5 | Wasur | 1997 | 413.810 | Papua |
1 Cagar Biosfer, 2 Warisan Dunia
Nah, apakah pengelolaan taman nasional itu sudah memberikan barokah dan faedah bagi kita? Bagi pemerintah daerah yang gemar membangun? Apakah pembentukan taman nasional itu sudah sesuai dengan cita-cita pendiriannya? Barangkali ada pembaca yang iseng ingin berkomentar, ya silakan.
Gedung Linggarjati: angker tapi menawan
30 Okt 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Tourism
Ketika Taruners Sowan ke Gedung Linggarjati, Kuningan…
Kita sering melihat rombongan klub otomotif konvoi di jalan raya. Begitu juga kalau mereka nongkrong di kafe, lokasi off-road, atau pusat-pusat wisata massal. Tapi mungkin belum banyak klub otomotif bertandang ke tempat bersejarah. Nah, dalam rangka Jambore yang disponsori Tabloid Otomotif, klub Taruna Owners (TO) mencoba bertandang ke Gedung Naskah Linggarjati-Kuningan. Ada apa sih di Linggarjati?
Sekedar mengingatkan, Linggarjati adalah nama desa tempat perundingan antara Belanda dan Indonesia pada tanggal 10-15 Nopember 1946. Perundingan dilakukan di sebuah gedung tua (mungkin dulu sih termasuk modern) yang berlokasi di desa Linggarjati, kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Perundingan itu membuat Belanda mengakui keberadaan Republik Indonesia, meski baru sebatas Jawa, Madura, dan Sumatera.
Pada hari ke-delapan bulan ke-tujuh tahun ke-2006, empat puluh anggota keluarga besar TO berkunjung ke “Gedung” yang jaraknya 25 km dari kota Cirebon. Sekitar jam 10 pagi, rombongan sudah mulai parkir di seberang “Gedung”.
Ternyata apa yang dikatakan “Gedung” itu adalah rumah kuno gaya bangunan Belanda tempo dulu. Sepertiga dindingnya tersusun dari batu kali, dan sisanya tembok. Gedung bercat putih itu tidak tampak angker, tapi Farhan (5 tahun) mendadak menangis sambil berteriak ketakutan saat mendekati halaman depan. Setelah ditenangkan dan diinterogasi orangtuanya, ternyata si anak mengaku melihat kakek tua berjenggot putih. Hiii….
Tidak ada biaya resmi untuk berkunjung, kecuali dana sukarela. Salah satu dari empat petugas segera menceritakan sejarah singkat Linggarjati. Suaranya datar tanpa emosi, mirip anak SD yang sedang menghapal. Mungkin karena sudah ratusan kali harus mendiktekan hal yang sama pada pengunjung. Entah berapa orang yang mendengarkan cerita itu karena rombongan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Dalam 15 menit, sebagian besar Taruners sudah berada di taman belakang yang didominasi pohon Flamboyan..
Gedung Naskah Linggarjati ini luasnya 800m2, berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektar. Terdapat dari enam kamar untuk anggota delegasi, satu kamar untuk mediator, satu ruang makan, dua ruang tamu, tiga kamar mandi dan dapur. Di setiap kamar itu terdapat dua tempat tidur, kursi, dan lemari. Hampir semua perabotan di dalam gedung itu adalah replika kecuali piano dan empat kursi di ruang makan. Benda yang juga masih asli dari jaman baheula adalah lantai di ruang utama, beberapa jendela dan pintu.
Sulit sekali membayangkan, bahwa bangunan yang pemilik pertamanya bernama ibu Jasitem (1918) telah berulang kali berubah fungsi. Tahun 1930 dijadikan rumah oleh Van Ost Dome, tahun 1935 dijadikan Hotel Rustoord, 1942 diganti namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan, 1945 dirubah lagi menjadi Hotel Merdeka, 1948 menjadi markas Belanda, 1950-1975 dirubah menjadi SD Negeri Linggarjati. Baru tahun 1976 (30 tahun kemudian), gedung itu diproklamirkan sebagai gedung bersejarah dan museum.
Sayang, tidak ada suvenir khas Gedung Naskah Linggarjati kecuali fotokopian sejarah perjanjian Linggarjati seharga Rp. 2000. Dalam total waktu 30 menit, rombongan Taruners meninggalkan lokasi untuk melanjutkan acara Jambore yang membahas regenerasi organisasi.
Ngintip burung
26 Okt 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in Conservation
Siapa dari kita yang tidak mengenal binatang yang namanya burung? Entah itu melihatnya di sangkar, di pasar burung, di jalanan, di sawah, atau di hutan. Yang menjadi ciri utama burung adalah adanya sayap sehingga mempunyai kemampuan untuk terbang. Namun ada pula jenis burung yang mempunyai sayap tapi jarang menggunakan kemampuannya untuk terbang, misalnya ayam hutan. Adapula burung yang sayapnya mengecil sehingga tidak bisa terbang lagi, misalnya burung penguin. Ciri lainnya yang mencolok adalah adanya paruh sebagai alat pengganti mulut dan berkaki dua, sebagian memiliki cakar/kuku atau selaput di kakinya.
Peranan burung dalam kehidupan manusia sangat beragam. Menurut sudut pandang manusia ada burung yang menguntungkan, misalnya Kutilang (Pycnonotus sp) yang memakan serangga perusak tanaman, dan ada yang merugikan, misalnya burung Emprit (Lonchura leucogastroides) yang memakan padi. Tetapi sesungguhnya, setiap makhluk hidup memiliki peran dan fungsinya sendiri di muka bumi.
Burung seringkali ditangkap manusia dengan tiga tujuan utama, yaitu dimakan, dijual atau untuk dipelihara. Tipe burung yang ditangkap untuk di makan biasanya memiliki daging yang relatif besar dan pemakan buah/biji-bijian, seperti Kumkum (Centropus celebensis), Ayam Hutan, Bango, dan Belibis. Sedangkan tipe burung yang ditangkap untuk dijual biasanya memiliki warna yang indah, seperti Jalak dan Nuri, bersuara merdu seperti Murai (Monticola solitarius) dan Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), atau kedua-duanya, seperti Beo dan Tiung.
Hanya itukah? Ada pula manusia yang menangkap burung dengan tujuan iseng. Contohnya, banyak anak-anak yang menangkap burung dengan ketapel atau senapan angin hanya untuk membuktikan keahliannya menembak. Bila burungnya mati, dibuang saja di pinggir hutan.
Di Indonesia terdapat lebih dari 1500 jenis burung, sehingga termasuk negara dengan keragaman jenis burung terbesar ke 5 setelah Columbia, Peru, Brazil, dan Ekuador. Namun Indonesia berada pada urutan pertama di dunia berdasarkan banyaknya daerah burung endemik, dan banyaknya jenis burung yang terancam punah. Di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango) terdapat tidak kurang dari 260 jenis. Sedangkan di Bodogol dapat dijumpai 150 jenis burung.
Kehadiran jenis burung pada suatu tempat dipengaruhi oleh banyak faktor dan kondisi. Dengan demikian, satu jenis burung yang berada di satu lokasi belum tentu ada di lokasi lain. Oleh karena itu ada jenis burung yang sangat bersifat endemik lokal. Apa sajakah, faktor dan kondisi yang mempengaruhi kehadiran burung di suatu lokasi?
Burung dan Habitatnya
Habitat adalah rumah/tempat tinggal suatu jenis makhluk hidup dalam sebuah kompleks kehidupan (ekosistem). Variasi habitat pada suatu lokasi akan mempengaruhi keragaman jenis burungnya karena burung memiliki kecenderungan untuk menempati suatu habitat yang khas. Hal itu seringkali berkaitan dengan ketersediaan makanan, iklim, pesaing, atau pemangsa. Dengan demikian, rusak atau hilangnya sebuah habitat akan mengakibatkan berkurang atau hilangnya jenis-jenis burung di suatu lokasi.
Habitat burung terbentang mulai dari tepi pantai hingga ke puncak gunung. Burung yang memiliki habitat khusus di tepi pantai tidak dapat hidup di pegunungan dan sebaliknya. Namun adapula jenis burung-burung generalis yang dapat dijumpai di beberapa habitat. Misalnya burung Cipo (Aegithina sp), Cabean (Prionochilus) dan Kutilang dapat dijumpai pada habitat bakau hingga pinggiran hutan dataran rendah.
Secara garis besar, di Bodogol misalnya, terdapat beberapa habitat bagi kehidupan burung yaitu: semak belukar, hutan sekunder, hutan primer, sungai, dan perkebunan. Burung yang hidup di semak belukar masih bisa dijumpai di daerah perkebunan, dan tepi hutan sekunder tetapi jarang ditemukan di hutan primer. Sedangkan burung di hutan primer terkadang dapat dijumpai di hutan sekunder tapi sulit ditemukan di semak belukar. Hal itu dapat terjadi karena jenis makanan yang tersedia di antara habitat-habitat tersebut sangat berbeda.
Burung dan Musuhnya
Burung juga memiliki musuh. Biasanya berupa pemangsa (predator). Misalnya predator dari burung-burung kecil adalah burung Elang. Selain musuh, burung juga memiliki saingan (kompetitor). Saingan itu bisa berasal dari sesama jenisnya, maupun dari jenis lain. Adanya musuh dan saingan itu mengakibatkan burung memiliki strategi dalam hidupnya. Strategi itu dapat berupa perbedaan jenis makanan, perbedaan waktu hidup (siang/malam), perbedaan daerah hidup (strata atas atau bawah), dan ada pula yang memiliki teritori.
Burung Srigunting (Dicrurus sp) dan Kekep adalah mangsa bagi Elang yang suka memakan telur atau anak Srigunting dan Kekep. Jika pernah melihat Srigunting mengejar Elang, jangan berpikir bahwa mereka sedang bercanda, tetapi sebuah bentuk perlawanan untuk mengusir Elang, sang predator.
Burung dan Makanannya
Makanan burung bervariasi tergantung jenisnya. Ada jenis burung pemakan khusus serangga/insektivora, seperti Butbut, Srigunting; pemakan buah/frugivora (Kumkum, Betet); pemakan daging/karnivora seperti Elang, Bangau, dan Burung Hantu; pemakan segala/omnivora seperti Rangkong (Buceros sp), Ayam hutan, dan Kutilang. Biasanya burung omnivor memakan buah, serangga, telur burung, katak, ular, tikus, kelelawar, dan mamalia kecil lainnya. Tentunya tergantung ukuran burung. Kutilang tidak mungkin memakan ular, tetapi rangkong/enggang biasa memakannya. Persamaan makanan antara satu jenis burung dengan jenis lainnya menyebabkan kompetisi/persaingan. Persaingan bisa dihindari dengan cara membagi relung (ruang dan waktu). Misalnya, Elang dan Burung Hantu (Otus sp), sama-sama pemakan daging, tapi mereka berbagi relung waktu. Elang mencari makan siang hari, sedangkan Burung Hantu mencari makan malam hari.
Burung dan Stratanya
Sesuai dengan habitat dan makanan yang disukainya, burung ada yang tinggal di tingkatan/strata bawah, seperti Prenjak (Prinia sp); di tengah kanopi, seperti Sesap Madu; di kanopi, seperti Sepah Gunung (Pericrocotus miniatus); atau di tanah seperti Burung Puyuh (Haematortyx sanguiniceps). Mengapa bisa begitu? Itulah bentuk adaptasi atau penyesuaian sebagai salah satu akibat dari adanya kompetisi. Proses adaptasi itu berlangsung lama, bahkan bisa memakan waktu puluhan tahun. Jika mereka tidak berbagi strata, maka burung-burung itu harus rela kucing-kucingan dengan kompetitornya. Misalnya Elang dengan Alap-alap.
Burung dan Waktu Hidupnya
Sebagian besar burung hidup pada siang hari (diurnal), tetapi ada pula burung yang hidup pada malam hari (nokturnal), seperti Burung Hantu dan Cabak Maling (Caprimulgus macrurus). Nah, pembagian waktu aktif juga terjadi sebagai bentuk adaptasi demi kelangsungan hidupnya. Bentuk dan warna tubuh burung yang hidup malam dan siang hari sangat berbeda. Mata Burung Hantu terlihat besar dan menyeramkan, dengan warna tubuh yang tersamar. Suara burung malam tidak semerdu burung pada siang hari. Suaranya satu-satu, cong… cong… memecah keheningan malam. Bentuk-bentuk yang khas dari burung malam ternyata berfungsi untuk memudahkan mendapatkan makanan. Pada siang hari, burung malam seringkali tidur dan sembunyi di tempat gelap yang sulit dilihat manusia. Demikian halnya dengan burung siang, akan tidur pada malam hari.
Burung dan Perkawinan
Setiap jenis burung memiliki masa kawin/berbiak yang berbeda. Ada yang dapat berbiak setiap saat dan adapula yang tergantung musim buah. Pada masa kawin, beberapa jenis burung menunjukkan sifat teritori/agresif terhadap musuh dan saingannya, misalnya burung Rangkong. Teritori adalah daerah yang secara sengaja dilindungi oleh sepasang atau sekelompok individu dari satu jenis burung terhadap gangguan dari jenis burung yang sama atau jenis burung lain.
Ada pula jenis burung yang menandai masa kawinnya dengan warna bulu yang lebih cantik dari biasanya, seperti burung Merak (Pavo muticus). Ekor merak jantan akan bertambah panjang dan dipamerkan kepada betina pada masa-masa kawin. Ada jenis burung yang setia dengan pasangannya (monogami), misalnya Rangkong, Kumkum. Adapula jantan yang kawin dengan beberapa betina (poligami), misalnya Merak, Ayam Hutan.
Burung dan Sarangnya
Setelah melalui masa bercumbu, biasanya burung akan segera mencari atau membuat sarang untuk bertelur. Kebanyakan burung membuat sarangnya sendiri dengan menggunakan bahan-bahan berupa rumput/daun/ranting kering. Adapula burung yang membuat lubang sarangnya di tanah seperti Raja Udang (Alcedo sp), atau di pohon seperti Jalak. Burung Rangkong juga memanfaatkan lubang pohon untuk bersarang walau tidak mampu membuat lubangnya sendiri. Burung Eudynamis tergolong burung yang nakal karena tidak mau membuat sarang melainkan meletakkan telurnya di sarang burung lain.
Sepanjang jalan menuju Bodogol, mulai dari Lido akan dijumpai aneka burung dengan aneka warna. Tapi itu dulu….gak tauk sekarang…dah lama gak namu ke Bodogol