Pelecehan yang tak disadari….


Baru-baru ini, saya dapat kiriman sebuah foto dari teman lama yang isinya delapan anak laki-laki bertelanjang dada, bercelana panjang abu-abu khas SMA/SMU. Saya adalah salah satunya. Semua penuh gaya, di tengah kebun kelapa di sekitar Desa Kukusan, Beji, Depok. Saat ini, lokasi itu letaknya sekitar 100 meter di seberang Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Berawal dari bubar sekolah setelah ujian semester, kita mau merayakan sejenak kemerdekaan dari baca buku sekolah. Jadilah kita mengunjungi teman sekelas yang punya rumah di Depok. Sebagian besar kampus UI masih berupa kebun karet dan kebun buah, termasuk rambutan, kecapi, dan kelapa. Adem, ijo royo-royo. Nah, ke sanalah tujuan kita. Kebun milik orangtua dari teman kita.

Tak lama setelah tiba di lokasi, buah rambutan masak bercampur mentah sudah menumpuk dikelilingi anak remaja berseragam putih abu-abu. Persis sekelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang menemukan sumber pakan. Untuk memudahkan visualisasi, ini jenis monyet yang paling banyak jadi artis topeng monyet. Sebagaimana umumnya monyet, kita semua duduk “ngangkang” di atas tanah berumput atau jongkok sambil menguliti si buah berambut halus tanpa pilih kasih.

Zainal, kawan kita yang jadi tuan rumah, yang pasti sudah bosan makan buah rambutan hanya nyengir, lalu mulai memanjat pohon kelapa. Nah kalau yang ini, mirip beruk (Macaca nemestrina) yang sudah terkenal lihai memanjat kelapa. Di lihat dari namanya, ya masih satu marga dengan monyet juga. Satu per satu, kelapa muda meluncur dari atas pohon. Asli, semuanya kelapa muda. Makin mirip lah dengan beruk yang juga jago memilih kelapa tua yang harus dipetiknya.

Di bawah keteduhan pohon, segarnya air kelapa membasahi kerongkongan, dan daging kelapa mudah yang lembut dikeruk-keruk dengan kulit kelapa yang dibentuk seperti sendok. Ketawa-ketiwi, obrolan, candaan, dan teriakan-teriakan tanpa makna menghiasi lomba memenuhi mulut dengan kelapa muda.

Tanpa disadari, seorang bapak datang menghampiri. Putih, tinggi besar dengan kumis hitam tebal seperti sikat gigi. Bercelana jeans, berkemeja rapi. Dia menenteng sebuah kamera, menyapa kami dengan ramah. Pertanyaan standar pembuka obrolan digelontorkan, dari SMA mana, tinggal di mana, gimana ujian semesternya, ke sini naik apa. Lalu dia mengenalkan dirinya, dan niatnya hendak membeli tanah di sekitar kebun itu. Ujungnya, dia menawarkan diri untuk memfoto kita semua. “Buat kenang-kenangan. Nanti fotonya saya kirim ke Zainal”, katanya.

Ya zaman dulu itu, jangan harap ada henpon buat selfie. Kamera saku dengan film gulungan aja masih beberapa orang yang punya. Jadi begitu ada yang relawan baik hati yang mau memotret tingkah polah kita, ya tanpa banyak komando, semua bergaya. Entah sudah berapa gaya yang terekam dalam kamera itu, lalu bapak ramah itu menyarankan kita semua membuka semua kancing baju. “biar keren,” katanya. Klak-klik-klak-klik, foto dari berbagai arah, dan kita semua makin bergaya dengan baju seragam berkibar-kibar.

“Biar kelihatan macho, ayo semuanya buka bajunya. Nah gitu, wuih keren. Bagus nih dengan latar belakang kebun,” ujar si bapak yang masih antusias memotret kita. Walau badan berkeringat, dan jadi model foto dadakan bertelanjang dada, kita semua senang, dorong-dorongan, ketawa-tawa sambil gaya. Kali ini gayanya nggak mirip monyet. Setelah kita semua kehabisan gaya, si bapak pamit pulang dengan janji akan memberikan hasil cetaknya.

Seminggu kemudian si bapak memenuhi janjinya. Belasan foto diberikan kepada Zainal, ahli waris kebun kelapa. Hasilnya fantastis. Macam sekelompok anak muda yang pamer otot dalam iklan televisi. Terekam sempurna dalam kertas foto seukuran kartu pos. Semua berebut minta jatah menyimpan foto itu.

Beberapa bulan kemudian, bapaknya Zainal memberitahu bahwa yang punya tanah tidak mau menjual kepada si bapak ramah itu. Usut punya usut, ternyata si bapak itu penggemar sesama jenis. Sialan, pantesan kita semua disuruh buka baju, badan kita dipuji-puji. Pantesan dia megang-megang lengan kita buat mengatur posisi dan gaya. Hebatnya lagi, kita nurut aja ditarik, didorong ke sana ke sini demi sebuah gaya. Dulu kita mikirnya, itu sebuah ke-blo’on-an yang seru dan fantastis, sekarang saya pikir itu saru dan nggak pantassss.

Jadi, waspadalah….banyak hal yang terjadi tanpa kita sadari.

2 thoughts on “Pelecehan yang tak disadari….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s