President Idol Indonesia, akrobat lima tahunan


tintatandaMenyaksikan atraksi capres-cawapres dalam lima kali debat seperti menyaksikan acara Indonesian Idol atau Indonesia Mencari Bakat dan sejenisnya. Sama-sama menghibur tapi President Idol (PI) lebih menjengkelkan daripada ajang Pencarian Bakat (PB). Pencarian Bakat (PB) biasanya dimulai dari audisi di berbagai kota, lalu tersaring 12 besar. Sedangkan PI ditentukan oleh partai-partai yang punya kursi di DPR kecuali Partai Demokrat yang melalui tahap audisi tetapi gagal ikut babak final PI. Akhirnya hanya ada dua kontestan di babak final. Apa persamaan dan perbedaannya?

MC/Pembawa Acara

Pembawa acara di PB biasanya artis professional yang memang sering membawakan acara, ceria, dan banyak celotehnya untuk memeriahkan suasana. Sedangkan di PI, pembawa acaranya bergelar Doktor, bahkan professor, akademisi yang sering jadi narasumber/moderator di tivi dan luar tivi. Tetapi nyatanya kaku dan grogi juga untuk mengatakan “kita akan kembali setelah jeda berikut ini..” atau “ya, sekarang boleh tepuk tangan..”.

Panel Penanggap

Di PB, terdapat 4 orang penanggap yang juga artis tingkat tinggi, mereka memberi pendapat, memuji, mengkritik, bahkan mencela dengan serius. Di PI, tak ada penanggap walau untuk sekedar mengatakan “kalo saya sih…yes dengan calon nomor sekian”.

Penonton

Di PB dan PI sama-sama ada penontonnya. Sama-sama ada yel-yel untuk mendukung gacoannya. Bedanya, di PB, penonton boleh teriak-teriak dan membentangkan foto jagoannya, tapi di PI, semua kudu duduk manis, menyimak serius, dan tepuk tangan dengan tingkat kesopanan tinggi. Namun naluri urakan tak terbendung juga pada debat capres ke 5, suara-suara yel silih berganti seperti acara kuis-kuis di tivi. Norak sih, tapi ya gitu deh.

Peserta PB menampilkan kelebihan dan bakatnya untuk menarik simpati panel penanggap, para pendukung, dan penonton agar mengirimkan sms dukungan. Mereka bersaing dalam damai, menonjolkan bakat dan kelebihan tanpa peduli kelemahan kompetitornya. Nah, peserta PI menampilkan visi-misi, pencitraan, kehebatan konsep, berbagai pendapat, retorika, dan janji-janji untuk menarik simpati para pendukung dan penonton untuk memilihnya di hari pencoblosan. Tak cuma menonjolkan diri, peserta PI ini juga “menyerang” dengan pertanyaan “ngetes” untuk menjatuhkan peserta lainnya. Sampai di sini, atraksi kandidat sudah seperti acara reality show Penghuni Rumah Terakhir, yang membolehkan peserta mengumbar emosi untuk menaikkan citra dirinya dan menjatuhkan lawannya. Peserta PI mustinya belajar dari peserta PB yang bisa bersaing dengan damai, menonjolkan kemampuannya tanpa perlu melecehkan lawan.

Tim sukses

Di acara PB, hanya program “X-Factor” yang pesertanya punya tim sukses/mentor yang sekaligus menjadi penanggap. Tim sukses ini membela tetapi tidak terlalu membabi buta. Pembelaan pun hanya diberikan saat peserta tampil. Bandingkan dengan Tim Sukses peserta PI yang membela mati-matian dengan berbagai cara dan wahana. Tim sukses PI juga tega mencela, mengejek, dan membuka aib lawan yang dikenal dengan negative campaign, bahkan menyampaikan fitnah (black campaign). Tim sukses kedua kandidat berlomba menarik perhatian masyarakat dengan menyudutkan kandidat lainnya, dengan cara halus dan brutal, di media massa maupun media maya. Hinaan dalam bentuk tulisan, karikatur, foto, dan modifikasi foto. Ada yang memang lucu, tapi ada juga yang kejam tanpa perasaan demi membela jagoannya. Saya sih ngeliatnya udah nyaris muntah dengan kelakuan orang-orang berpendidikan ini.

Hasil sementara

Dalam PB, secara periodic ditampilkan hasil pilihan sementara tanpa lembaga survey. Peserta yang rendah nilainya, akan menggenjot penampilannya agar dapat dukungan tambahan. Bahkan kalau perlu membagikan pulsa kepada pendukungnya. Nah, di PI, peringkat sementara itu dihasilkan oleh beberapa lembaga survey. Peserta yang nilainya lebih rendah, akan melancarkan berbagai siasat untuk mendongkrak, termasuk mengatakan tidak akuratnya hasil survey karena lembaga survey itu dibayar pihak lawan. Tapi kalau nilainya lebih tinggi, ya digembar-gemborkan di berbagai media. Jika persentasenya rendah, serangan di dunia maya makin brutal, dan tentu saja akan selalu ada alasan pembenaran untuk apa yang mereka lakukan.

Pemenang dan Pemilih

Semua peserta PB dan PI dipilih oleh pendukung dan rakyat Indonesia dengan cara dan syarat yang berbeda. Pemenang PB dan PI biasanya akan bergembira ria, berterima kasih dengan tulus/basa-basi kepada para pemilih yang tidak dikenalnya. Setelah itu, para pemenang akan menikmati kemenangannya dengan segala hadiah dan lupa dengan para pemilihnya yang telah membuatnya menang. Kalau beruntung, pemenang PB akan masuk dapur rekaman. Kalau beruntung, tim sukses pemenang PI akan kecipratan rejeki dan jabatan.

Saya akui, Pilpres 2014 ini paling seru dibandingkan pilpres sebelumnya (saya gak ngomongin pilpres versi MPR lho ya). Pilpres kali ini menjadi gerakan yang membuat kawan menjadi lawan, musuh menjadi teman, saling serang, saling ejek, saling dukung, saling pamer di panggung televisi, radio, Koran, media sosial, bahkan SMS. Aroma persaingan itu menular ke berbagai lapisan masyarakat yang kelak menjadi juri penentu kemenangan.

Dalam beberapa jam ke depan kita akan menentukan siapa pemenang President Idol dan Wakilnya. Kita lah yang akan menentukan pemenangnya. Grand Final ini pasti lebih mendebarkan daripada PB karena yang kalah dan menang suka menuding lawannya melakukan kecurangan.

Tidak lama lagi, kita akan tahu siapa yang akan jadi pemenang President Idol. Selamat bagi yang menang, tapi tak perlu menghina yang kalah, karena semuanya tetap WNI. Bagi yang kalah, anggap aja belum beruntung, bisa coba lagi 2019. Buat para pendukung yang dalam dua bulan terakhir ini berseteru dan memanaskan berbagai media, saatnya berdamai. Jangan terkecoh dan terjebak oleh perilaku politikus yang memang dari sononya menganut ideologi “TIDAK ADA TEMAN ABADI, TIDAK ADA MUSUH ABADI, YANG ABADI ADALAH KEPENTINGAN”. Saat ini mereka berseberangan, besok bergandengan tangan.

Salam jari kelingking. Usahakan jangan ngupil dengan kelingking bertinta, ntar hidungmu jadi biru…. Selamat memilih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s