RBM Mengganggu Zona Nyaman


Karya Anonim, alias bukan ciptaan saya

Karya Anonim, alias bukan ciptaan saya

Orang yang sudah merasakan nikmatnya berada di zona nyaman, sedikitnya memiliki tiga pilihan dalam karirnya. Mempertahankan zona nyaman, memperluas zona nyaman, atau mencari zona nyaman baru. Tinggal tergantung tipe manusia seperti apakah kita dalam menghadapi resikonya. Penting gituh ngomongin zona nyaman?

Nah, pada pelatihan SMART-RBM di Manado awal April 2014, seorang peserta dengan jujur berpendapat dan menanyakan soal zona nyaman.

“Sebagai tenaga fungsional, sejujurnya saya merasa nyaman sekali. Fasilitas enak, aksesibilitas lancar, resiko minim. Gimana ya caranya kita keluar dari zona nyaman untuk optimalisasi RBM?”, tanya peserta yang bertugas di kantor Balai KSDA Manado. Jlebbb…Sejenak saya bingung. Ini ngetes atau emang mau tau bangets atau lagi galau bin bosen di zona nyaman yang sekarang?

Mengingat RBM/Resort based management ini merupakan perubahan pola pikir dan paradigma pengelolaan yang mengembalikan fokus konservasi di lapangan, maka disinyalir ada yang bakal terganggu zona nyamannya. Kalau cukup cerdik, para pegawai akan terjadi adaptasi dan seleksi alam seperti hukum evolusi Wallace dan Charles Darwin. Kalau enggak, ya akan terjadi mutasi yang hasilnya bisa jadi lebih baik atau malah cacat jiwa raga.

Kita kudu lihat, sejauh mana tingkat kecanduan seseorang pada zona nyamannya. Kalau sudah stadium gawat meringis, sulit membayangkan ada yang mau meninggalkan zona nyaman dengan sukarela kecuali dipaksa atasan atau ada motivasi lain yang menggiurkan. Sekedar keputusan pimpinan nggak cukup cespleng, kudu dipaksa. Law enforcement!!. Ini adalah tiga contoh buktinya.

Kasus Pertama. Si A ditetapkan sebagai Kepala Seksi kawasan konservasi di suatu tempat. Pada saat pelantikan, si A melihat lokasi penempatannya di daftar hadir. Sontak dia tinggalkan lokasi pelantikan, dan pulang tanpa pernah dilantik. Kok bisa? Ya bisa, itulah hebatnya beliau ini. Berani menanggung segala resiko pada karirnya.

Kasus Kedua. Si B ditetapkan sebagai Kepala Seksi yang kurang “ramai” kegiatannya. Dengan alasan ini dan itu (rahasia ah, ntar pada nyontek perilaku ini), si B berani menghadap yang paling berkuasa menentukan jabatan, lalu meminta agar tidak menjabat di tempat baru. Bahkan rela menjadi staf biasa, asalkan tetap ditugaskan di ibukota provinsi. Kok bisa? Yeaahhh…masih nanya. Itulah hebatnya beliau.

Kasus Ketiga. Si C dan D. Ini pegawai golongan II (kira-kira setingkat sersan lah). Ditugaskan pimpinannya ke daerah resort lain yang jauh dari rumahnya. Awalnya dua minggu di tempat tugas baru, lalu dua minggu “libur” di rumahnya. Terjadi adaptasi, seminggu di tempat kerja, tiga minggu di rumah. Akhirnya 0 (nol) hari di tempat kerja, berbulan-bulan di rumahnya. Kok bisa? Ya bisa dong, atasannya yang tau kelakuan anak buahnya aja cuma diem, kok masih aja nanya “kok bisa?”

Itulah fakta dan realita. Seseorang sebaiknya keluar dari zona nyaman atas kemauan sendiri untuk mencari tantangan baru, mengembangkan diri dan kapasitas. Ada kata bijak Eagle flies, chicken stays. Elang sebagai simbol para pemberani akan terbang mengangkasa, sedangkan ayam sebagai simbol penakut akan tetap di darat.

Seseorang nyeletuk, “ya itu kan udah kodratnya ayam gak bisa terbang kayak elang”.

Nah, yang begini nih. Kita kan gak lagi ngomongin kodrat bro, kita lagi ngomongin nasib yang gak akan berubah kalau kita sendiri gak mau mengubahnya! Kalau ngomong kodrat, sekarang saya tanya, ayam apa yang bisa berenang, hayoo? * jawabannya liat di bagian akhir deh.

Jujur aja nih, siapa sih yang gak mau kerja dalam kondisi nyaman aman tentram kerto raharjo? Tiap orang akan mencari zona nyamannya sendiri. Ada yang suka dengan zona nyaman dan mempertahankan mati-matian ketika ada perubahan yang berpotensi mengganggu kenyamanannya. Adapula yang bosan dengan zona nyaman sehingga melakukan “pemberontakan” dalam arti luas seluas samudera untuk mencari kenyamanan baru sesuai teori keseimbangan alam.

Secara teori lagi nih, Zona Nyaman merupakan situasi dan kondisi yang dirasakan dan dinikmati seseorang dalam menjalankan pekerjaannya dengan usaha minimal hasil maksimal, minim kecemasan, minim resiko, minim tantangan. Seseorang yang sudah berada dalam posisi nyaman cenderung menikmati yang sudah ada dan tidak mendorong dirinya untuk meraih hal yang lebih baik lagi serta sudah merasa puas dengan keadaan saat ini. Tapi kalau ada yang menuduh nggak kerja, wuihhh… marahnya udah kayak ayam mau bertelur

Jadi tergantung karakter orang-orang di zona nyaman. Jika ia tergolong ayam, biasanya sudah cukup puas dan senang jaga kandang, kawin, bertelur, mengerami, dapat makan tiap hari untuk suatu saat menghadapi kematian di meja makan. Jika ia tergolong elang, maka ia akan berani keluar dari sarang, menguasai angkasa raya, mencari makan dengan keahliannya sendiri.

Kembali ke kawan kita yang tadi bertanya. Secara positif, saya menduga, kawan kita ini ingin berpartisipasi lebih banyak dalam penerapan RBM di kantornya tanpa mengganggu zona nyamannya. Lha coba aja kalau pimpinan menilainya, “wah hebat gagasan kamu. Gimana kalau mulai bulan depan, kamu pindah ke Sangir-Talaud untuk menerapkan RBM?”

Kalau orangnya tipe ayam, bakalan bilang,“jiahhh, jangan saya dong. Saya kan sibuk di sini. Ntar, siapa yang kasih ide-ide brilian lagi ke bapak?”

Kalau orangnya tipe elang yang suka tantangan dan petualangan pasti akan jawab,”Nah, itu dia perintah bapak yang sudah saya tunggu dari tahun lalu. Ayo pak, kita sama-sama pindah ke Sangir..”. Jrenggg….

 

* Ayam yang bisa berenang? ayam swimming

One thought on “RBM Mengganggu Zona Nyaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s