Bacaan Iseng: Babad Tanah Jawi…


Beberapa waktu lalu, saya iseng mampir ke toko buku dan melihat buku berjudul Babad Tanah Jawi. Kayaknya seru nih baca sejarah Jawa tempo doeloe, batinku. Buku dibalut plastik tipis, jadi boro-boro mau liat isinya, ngintip daftar isinya aja gak mungkin. Yang bikin penasaran nih, di sampul belakang tertulis gini “Babad Tanah Jawa dikumpulkan di masa pemerintahan Raja Paku Buwana I pada awal abad 18 hingga masa pemerintahan Paku Buwana III.” Paten banget dah, batinku lagi.

Dalam pengantarnya, si Penerbit Narasi (2011) mengatakan bahwa Babad ini telah diterbitkan dalam berbagai versi, salah satunya yang ditulis warga Belanda bernama W.L. Olthof tahun 1941. Buku itulah yang menggoda saya untuk meminangnya dengan mahar Rp. 69.000.

SmallBabadTanahJawi IMG-20140428-04328Judul orsinili dari buku ini adalah Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647 (Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647). Didalamnya mengisahkan silsilah raja-raja di tanah Jawa yang menjadi alat legitimasi melanggengkan kekuasaan keluarga para raja. Komplit banget nih kayaknya…

Dengan tekun saya baca lembar demi lembar serat bertuah ini dengan dahi berkerut-kerut, mata menyipit mengernyit, manggut-manggut, geleng-geleng kepala, lalu nyengir pasrah. Ikhlas saya menyimpulkan Babad Tanah Jawa ini sebagai buku “multidimensi” alias gado-gado yang bikin hati dan pikiran galau mengenai kebenarannya. Buku ini mencampur aduk beberapa fakta sejarah, mitos, gho’ib, fiksi, dan legenda-legenda di tanah Jawa.

“Babad tanah Jawa dimulai dari Nabi Adam, berputra Sis, Esis berputra Nurcahya, Nurcahya berputra Nurasa. Nurasa berputra Sanghyang Wening. Sanghyang Wening berputra Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal berputra Batara Guru. Batara Guru berputra lima, yaitu Batara Sambo, Batara Brama, Batara Maha-Dewa, Batara Wisnu, dan Dewi Sri. Batara Wisnu menjadi raja di pulau Jawa bergelar Prabu Set. Kerajaan Batara Guru ada di Sura-Laya”. Berdasarkan kisah selanjutnya, saya menduga Sura-Laya ini identik dengan surga.

Itulah kalimat pembuka di halaman pertama, yang langsung bikin saya melongo. Saya berusaha keras untuk open mind dan open heart saat membacanya, tapi tetap sulit menerima, mosok sih keturunan Nabi Adam kok malah pada jadi dewa-dewi? Siti Hawa-nya manaaaa????

Lebih nggilani bin keqi pada potongan kisah bahwa Batara Guru punya “simpanan” putri cantik dari Negara Mendang (silakan deh cari di Google Earth…) yang mau diangkat Batara Guru ke Surga, tapi keburu diperistri Batara Wisnu. Nah lohh…Batara Guru marah dong, simpenannya diperistri sama anaknya. Terusirlah Batara Wisnu dari negerinya lalu bertapa di bawah tujuh pohon beringin. Sampai situ, cerita selesai.

Kisah demi kisah berganti. Kekonyolan demi kekonyolan susul menyusul. Ada kisah mengenai Batara Guru yang takut dengan kesaktian Prabu Watu Gunung dari negeri Giling Wesi yang mau melamar bidadari di Sura-Laya. Nggak ada dewa-dewa yang berani melawan kecuali si Batara Wisnu. Dipanggilah Batara Wisnu untuk menghadapi Watu Gunung. Duhhh…sampai sini saya merasa kenyang dikibulin sama buku ini. Kayaknya sakti mandraguna banget nih, para prabu dan batara bisa semaunya datang dan pergi ke Sura-Laya.

Sudah kadung beli, jadi saya coba telen dulu deh beberapa kisah-kisah legendaris berbau mitos dan magis seperti Jaka Tingkir, Jaka Tarub, dan Siyung (Ciung) Wanara. Diceritakan pula kehadiran dan peran Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Ampel, dan Sunan Kali Jaga dalam kerajaan di tanah Jawa. Gak banyak pesan-pesan agamanya, namun para Sunan itu memang dihormati dan didengar oleh para raja-raja sebelum dan saat Mataram dibangun. Ada pula tokoh-tokoh yang kita kenal dalam sejarah perjuangan kerajaan-kerajaan kecil melawan kumpeni VOC, seperti Sultan Agung, Truna Jaya, Raden Patah, dan Untung Surapati.

Misalnya nih ya. Tokoh Siyung Wanara dikisahkan mengkudeta Prabu Pajajaran yang tak disebutkan namanya. Lalu anak Prabu Pajajaran yang bernama Raden Sesuruhan kabur. Sesuai petunjuk orang sakti bernama Ajar Cemara, si Raden disuruh berjalan ke timur dan berhenti jika menemui satu pohon maja yang hanya berbuah satu dan pahit rasanya. Di tempat itulah Raden Sesuruh membangun kerajaan baru dengan nama MAJAPAHIT!!!! Gajah Mada dihadirkan sebagai Patih pada masa Raja Brawijaya yang merupakan cicit dari Hayam Wuruk. Sampai sini, pemahaman saya mengenai sejarah berdirinya Majapahit luluh lantak dan porak poranda!!

Untungnya, kisah-kisah asesoris itu berhenti pada halaman 124, karena sejak itu mengalirlah penggalan-penggalan kejadian cikal-bakal Kerajaan Mataram. Tapiiii….kita gak tahu mana yang fakta, mitos, dan fiksi. Asli multidimensi…

Alkisah, Ki Pamanahan yang mengabdi di Kesultanan Pajang, diberi hadiah perang berupa tanah seluas 800 karya di Mataram. Ki Pamanahan mengganti namanya menjadi Ki Ageng Mataram yang telah diramal Sunan Giri bahwa kelak keturunan Ki Ageng akan menjadi raja besar yang menguasai tanah Jawa. Anak Ki Pamanahan yang kemudian bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga melanjutkan membesarkan Mataram.

Di awal pemerintahannya, Panembahan Senopati sempat mendatangi penguasa laut Rara Kidul, sementara Ki Juru Martani (penasihat spiritualnya) memohon kepada Tuhan di puncak Gunung Merapi. Panembahan Senopati diceritakan berasyik masyuk dengan Rara Kidul di kerajaan Laut Selatan selama tiga malam. Rara Kidul pun berjanji akan membantu Panembahan disaat sulit dengan mengerahkan pasukan makhluk halusnya. Pantesan ya, Keraton Yogya seringkali dihubung-hubungkan dengan Gunung Merapai dan Ratu Pantai Selatan. Believe it or not deh…

Mataram semakin luas wilayahnya pada masa Sultan Agung (cucu dari Panembahan Senopati). Pada masa itulah, pasukan Sultan Agung menyerang benteng VOC di Jakarta, mengalahkan tentara kumpeni, lalu diampuni oleh Sultan Agung. Perasaan, di buku-buku sejarah nggak gitu ya ceritanya.

Waktu silih berganti, tak peduli dirinya sakti, yang hidup pasti akan mati. Sisa buku ini mengisahkan berbagai peperangan, penaklukan, pengkhianatan, kecurangan, hasutan, tipuan dan strategi perang di kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mulai dari Sura-Baya hingga Tegal, Blambangan hingga Banyumas. Keributan di dalam dan luar keraton, demi kekuasaan. Tak henti-hentinya saling bunuh dan saling menguasai hingga akhir kisah di halaman 800. Kumpeni VOC pun ikut menyelam minum air, membantu tentara dan senjata dengan imbalan tanah. Hingga akhir kisah, saya tidak tahu apakah buku sekedar roman sejarah atau kumpulan dongeng dari mulut ke mulut. Lagian, iseng amat sih sampe mikirin pritilan begitu? Ya namanya juga komentar iseng ngelantour…

Akhirnya, benarlah kata bijak don’t judge the book by the cover. Tapi gimana mau lihat isinya kalau bukunya masih terbungkus plastik? Hwaaa…. Rekomendasinya, buku ini cuma bacaan iseng, jangan diambil hati. Daripada beli, mendingan numpang baca aja di perpustakaan, itupun kalau ada….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s