Piyu Nababan, Pahlawan Restorasi Hutan Cintaraja TNGL


RestopiyuDSC_0083

Mangasa “Piyu” Nababan, 1935-2014

Mengenang bapak Mangasa “Piyu” Nababan

Di dalam struktur pegawai pemerintah, terdapat golongan pegawai honorer yang kastanya setingkat lebih baik daripada pegawai kontrak karena berpotensi diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun tidak semua pegawai honorer beruntung mencapai jenjang PNS. Salah satunya adalah Pak Piyu, yang telah mengabdi sebagai honorer pegawai kehutanan sejak 1972. Setelah bekerja selama 33 tahun, pak Piyu terpaksa dipensiunkan sebagai tenaga honorer tanpa pernah mencicipi uang pensiun ketika usianya hampir 70 tahun!. Konon beberapa pimpinannya telah berupaya agar ia diangkat sebagai PNS, tetapi lelaki jebolan Sekolah Rakyat itu tak berhasil menembus sistem kepegawaian, walau untuk golongan IA sekalipun (inilah serendah-rendahnya golongan PNS).

Di awal Januari 2009, dalam sebuah tenda di tepi hutan Tangkahan TNGL, saya mengenalnya untuk pertama kali. Dalam wujud seorang kakek setinggi 150an cm, berkumis putih, dengan rambut dua warnanya yang menjadi saksi ketangguhannya. Langkahnya perlahan namun tidak tertatih-tatih. Matanya teduh namun kadang tajam menyelidik. Tidak bicara jika tidak ditanya. Lebih banyak mendengarkan. Belakangan saya tahu, itu merupakan sikap kehati-hatiannya pada orang yang baru ia kenal.
Mangasa Nababan namanya, tapi lebih beken dengan nama Pak Piyu. Sebuah nama yang dia sandang karena kecerdikannya mengelabui para penebang kayu liar di hutan Sekundur-Besitang yang berusaha mengeluarkan kayu dari dalam kawasan konservasi. Pak Piyu, pernah mendapatkan Ijin Pemanfaatan Kayu seluas 250 hektar di hutan Sekundur pada tahun 1959. Namun pada tahun 1972, daerah konsesinya dinyatakan sebagai bagian dari Suaka Margasatwa Sekundur. Walau ada kecewa, tapi ia tinggalkan daerah konsesinya yang masih berhutan.

Pengetahuan pak Piyu mengenai pohon-pohon kayu dan hutan wilayah hutan Sekundur, membuat pemangku kehutanan merekrutnya menjadi tenaga honorer kehutanan pada tahun 1972 (waktu itu bernama PPA, Perlindungan dan Pelestarian Alam). Walaupun nama kantornya berganti dari Sub-Balai KSDA menjadi TNGL pada tahun 1980an, ia tetap setia sebagai honorer mengawal konservasi di TNGL wilayah Langkat.

“Hampir semua pelosok hutan dari Besitang hingga Bukit Lawang telah aku lewati. Dulu kami jalan kaki, bawa bekal seadanya, keluar masuk hutan, nginap pun di rumah warga”, katanya dengan suara rendah, tanpa nada sombong. Jika kita tanya mengenai batas-batas kawasan dan kondisi hutan tempo dulu, matanya berbinar-binar dan berbagi cerita dengan semangat. Namun matanya kembali meredup ketika menceritakan kondisi kawasan saat ini yang dirambah secara terang-terangan. “Macam penyakit menular itu lah, malu aku, macam mana wibawa kita sebagai petugas”, keluhnya pasrah.

Mengingat pengetahuannya mengenai hutan dan pohon kayu, pak Keleng yang menjadi Kepala Resort Cintaraja mengusulkan untuk mengajak pak Piyu bergabung dalam kegiatan restorasi ekosistem di Cintaraja TNGL. Itulah yang menjadi alasan kami berjumpa. Awalnya, pak Piyu tampak ragu, curiga, dan enggan. Pria yang pernah membantu survey WWF dan Unit Patroli Gajah itu telah banyak menelan kekecewaan dalam kegiatan penghijauan, reboisasi, rehabilitasi. “Jadi saya mau tau dulu, apa itu restorasi?”, katanya penuh tanya.
“Restorasi ekosistem di Cintaraja ini kita lakukan dalam luasan yang kecil pak, kita fokus pada jenis-jenis pohon hutan, kita bibitkan, kita tanam, kita rawat, dan kita jaga. Kita tidak mau sekedar menanam, lalu sisanya diserahkan pada Tuhan”, jawabku. Beliau hanya diam, menyimak. Saya jelaskan tahap demi tahap kegiatan dan berharap beliau mau membagi ilmunya.

Akhirnya pak Piyu menjawab, “Kalau kegiatan ini serius, aku mau bantu. Dulu waktu muda aku banyak menebang pohon, dan aku mau menggantinya sebanyak-banyaknya. Aku maulah tinggal di lokasi, tapi tiap sabtu sore aku harus pulang supaya bisa ibadah minggu”.Opung satu ini memang dikenpiyu DSC_0137al taat pada agama yang dianutnya. Kami bersalaman, sepakat. Sudah mulai ada senyum tipis dari opung.

Hari demi hari pun pak Piyu lalui di Pondok Restorasi yang sederhana di tepi hutan Cintaraja-TNGL, Desa Namosialang, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. Tekun dan telaten beliau mencampur tanah dengan teletong (kotoran sapi yang sudah kering dan menjadi remah-remah), dimasukkan ke dalam plastik polibag, memasukkan satu demi satu bibit yang dicarinya, disusunnya dengan hati-hati seperti menyusun harta pribadinya.

Bersama-sama dengan rekan kerja di pondok, beliau naik turun bukit yang terkadang terjal tanpa keluh kesah.

“Kalau nggak sanggup jalan, opung nekat duduk merosot menuruni lembah”, kata pak Keleng bersaksi.

“Walau jalannya pelan, opung selalu berhasil menyusul kita”, tambah pak Mbolon, pegawai TNGL yang juga “mondok” di lokasi restorasi.

Belasan ribu bibit beliau tancapkan dalam polibag, tak kurang dari 60 jenis tumbuhan yang dibibitkannya itu telah berdiri tegak di area target restorasi. Daerah bekas tanaman sawit itu kini menjadi hutan kecil yang mengundang satwa liar mencari pakan. Primata seperti Orangutan yang selama ini menjauhi, kini mendekat, bahkan membuat sarang di sekitar area restorasi. Monyet ekor panjang dan gajah liar semakin sering memasuki area restorasi. Pohon-pohon yang ditanam itu semakin meninggi, menaungi, dan mengundang burung untuk bertengger dan mencari pakan sambil membawa bibit-bibit alami yang ditebarkan bersama kotorannya.

Piyu

Photo by Jejak Leuser

Pada tanggal 26 Maret 2014, engkau kembali ke haribaanNya. Kerja kerasmu merupakan warisan bagi kami. Semoga keteduhan pohon-pohon yang engkau tanam, menaungi rumah barumu. Semoga segala manfaat yang telah engkau rintis, terus mengalir sebagai pahala bagimu. Lunas sudah janjimu, mengganti pohon yang tumbang dengan pohon yang tegak menjulang. Terimakasih atas dedikasimu selama ini, dan maafkan kami yang belum mampu membalas jasa-jasamu. Bagi kami yang pernah tidur satu atap denganmu, engkau telah menjadi Pahlawan Restorasi. Dengan tetes airmata, saya berdoa untukmu. Beristirahatlah dengan tenang opung…

One thought on “Piyu Nababan, Pahlawan Restorasi Hutan Cintaraja TNGL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s