Jamursba Medi, Pelabuhan Penyu Terbesar di Asia


Di seluruh dunia terdapat 7 jenis penyu yang berenang bebas dari satu benua ke benua lain. Tidak kurang dari 6 jenis penyu dapat dijumpai di perairan laut Indonesia. Terlepas dari statusnya yang sudah dilindungi undang-undang RI, pemanfaatannya dalam jumlah berlebihan masih juga berlangsung. Hanya beberapa tempat saja yang sudah menjadikan pantai peneluran penyu sebagai kawasan lindung seperti di Pangumbahan, Jawa Barat dan Alas Purwo, Jawa Timur.

Bicara pelestarian penyu berarti juga bicara kondisi habitat di sekitar pantai penelurannya karena penyu sangat sensitif pada gangguan.  Penyu tergolong reptil laut yang setia dengan tanah kelahirannya. Artinya, anak penyu yang berhasil dewasa, akan kembali ke pantai kelahirannya untuk bertelur. Jadi jika terdapat gangguan pada tempat bertelurnya, kemana mereka akan pergi?

Mengapa Jamursba Medi?turtle farid

Pantai Jamursba Medi (JM), 160 km sebelah timur kota Sorong, pernah diusulkan Petocs (1992) sebagai Cagar Alam  Pantai.  Tapi hingga kini belum terealisir. Memasuki awal 1990-an, JM mulai dipublikasi sebagai tempat bertelurnya penyu belimbing (Dermochelys  coriacea), penyu hijau  (Chelonia mydas),  penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang(Lepidochelys  olivacea).  Pemantauan penyu belimbing pada masa bertelur (Mei-September) tahun 1984-1985, mencatat lebih dari 200 penyu bertelur setiap malam. Namun jumlah itu menurun drastic pada tahun 1992, menjadi 25 – 30  ekor  penyu setiap malam.

Selama 21 hari di bulan Mei 1999, BKSDA Sorong dibantu WWF menghitung sebanyak 665 ekor penyu belimbing bertelur. Atas dasar itu, para ahli penyu dari dalam dan luar negeri sepakat bahwa JM merupakan pantai peneluran penyu belimbing terbesar di dunia yang habitatnya perlu dilindungi.

Pantai JM yang terletak dipesisir utara kepala burung Irian Jaya (0020¢ – 0022¢ LS dan 1320 25¢- 1320 39 BT), membentang dari tanjung Jamursba hingga tanjung Rakrak.  Untuk menuju lokasi diperlukan waktu 8 jam dari Sorong dengan menggunakan perahu motor 80 PK.  Terdapat tiga kawasan pantai di JM yang penting bagi peneluran penyu, yaitu Pantai Wembrak (± 8,15 km) yang pasirnya berwarnah kehitam-hitaman, Pantai Batu Rumah (± 5 km) dengan pasir berwarna putih keabu-abuan, dan Pantai Warmamedi (± 4,75 km) dengan pasir berwarna keabu-abuan.

Konservasi Murah Meriah, asal….

Kawasan pantai JM merupakan bagian dari desa Saubeba dan Warmandi, Kecamatan Sausapor, Kabupaten Sorong.  Masyarakat yang menghuni wilayah itu berasal dari suku Karon yang bermigrasi dari pegunungan ke pesisir. Sebagian besar hidup mereka dari berladang, menanam pisang, umbi-umbian, dan sayur-sayuran pada areal 0,5 – 1 ha, serta kelapa dan coklat. Terkadang mereka berburu dan mencari ikan sebagai kegiatan sampingan.  Dengan usaha tersebut, penghasilan masyarakat berkisar Rp. 200 hingga 300 ribu/bulan.

Sebagaimana kawasan konservasi lainnya, JM juga tidak luput dari masalah dan ancaman. Masalah yang ada di depan mata adalah konversi hutan, pengambilan telur dan penyu, dan status kawasan yang tidak jelas sehingga tidak terkelola dengan baik.

Beberapa upaya, baik yang instant maupun jangka panjang, saat ini sedang diupayakan oleh berbagai lembaga konservasi, termasuk menjadikan JM sebagai taman nasional (TN). Apakah peningkatan status itu akan membuat JM otomatis aman? Jika targetnya adalah perubahan status, maka indikatornya cukup dengan adanya kantor dengan segala atributnya, pegawai TN dengan berbagai strukturnya. Bagaimana dengan program kerja dan dananya? Ini hal lain.

Yang namanya dana dan sumberdaya manusia (SDM) seringkali jadi kambing hitam. Ada dana, tapi tidak ada SDM, atau ada SDM, tapi tidak ada dananya. Ketika ada dan, ada SDM, eh, programnya tidak tepat sasaran. Ketika ada dana, ada SDM, ada program bagus, tapi dananya mengucur seperti embun pagi. Akibatnya, proyek digarap tergesa-gesa supaya dana tidak hangus. Lantas, terjadilah lingkaran setan yang tak berujung.

Ada yang mengatakan bahwa kawasan konservasi adalah beban pembangunan tanpa  memberi hasil.  Pendapat itu bisa benar, bisa tidak. Api jika dikontrol bisa untuk masak, tapi yang tidak terkontrol merupakan malapetaka. Kawasan konservasi yang tidak dikelola juga bisa mengakibatkan bencana yang nilai kerugiannya melebihi biaya pengelolaan. Misalnya, kerusakan hutan mengakibatkan sulitnya air bersih, banjir, longsor, dan membuat tanah steril, alias tidak subur.

Pengelolaan kawasan bersama (co-management) antara masyarakat dan pemerintah dapat menekan biaya konservasi dan meningkatkan manfaat. Pola ini mungkin saja diterapkan di JM, mulai dari perencanaan hingga implementasi. Masyarakat dan pelaku lainnya perlu dirangkul untuk sama-sama melihat masalah yang ada, menentukan agenda bersama, cara pengelolaan, dan pendanaannya. Pola pengelolaan yang “sok jago”, “single fighter” dan “serba tahu” sudah bukan jaman lagi.

Kami yakin seyakin-yakinnya, bahwa sebagian pelaku konservasi “tahu” apa yang harus dilakukan dan sebagian lagi punya “wewenang” untuk melakukan.  Masalahnya sekarang, bagaimana kita menepis rasa ego, mau berbagi “tahu” dan “wewenang” untuk mengatasi masalah bersama-sama.

Jika pola pengelolaan bersama diterapkan (tidak sekedar jargon), maka kehadiran penyu di JM tidak hanya untuk dihitung jumlahnya tiap malam, tapi dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama.  Nah, sekarang tinggal aksinya….., sehingga suatu saat ini nanti, kita bisa melihat ribuan penyu belimbing dari seluruh dunia berkumpul di Jamursba Medi, Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s