Ketika Konservasi Gagal, Bersiaplah Memanen Bencana


Banjir yang melanda kota-kota besar di dunia termasuk Jakarta, selalu menjadi berita di berbagai media. Entah berapa besar kerugian yang ditimbulkan akibat jatuhnya korban jiwa dan harta, belum lagi biaya di pengungsian dan pemulihan. Lebih menyedihkan lagi, bencana itu terus berulang-ulang setiap tahun, dan semakin meluas cakupan bencananya.

Apakah banjir dapat kita katakana bencana alam? Tidak selalu. Saya membedakan banjir yang merupakan bencana alam (natural disaster) dan bencana akibat ulah manusia (man-made disaster). Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Wasior pada tahun 2010, dapatlah kita katakan bencana alam karena kondisi geografisnya. Sedangkan bencana yang terjadi di Jakarta, dapatlah kita katakan sebagai bencana buatan manusia.

Mari sama-sama kita renungkan. Ya, sadar atau tidak sadar, banjir di Jakarta adalah akibat ulah manusia secara kolektif. Persoalan terjadi di kawasan hulu, tengah, dan hilir. Di hulu, telah terjadi perubahan fungsi kawasan yang semula sebagai kawasan resapan air, telah berubah menjadi villa, rumah, atau kebun. Yang tersisa hanyalah hutan di kawasan konservasi, Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango dan TN Halimun-Salak. Ketika terjadi hujan dengan curah yang tinggi, air tidak sempat diserap oleh tanah, tetapi langsung berlomba-lomba memasuki badan-badan sungai.

Suer-Banjir besitang-P1030281Di kawasan tengah dan hilir, tepi atau sempadan sungai yang seharusnya bebas dari bangunan, telah terisi oleh bangunan dan jalan. Lebar badan sungai cenderung menyempit, semakin dangkal karena pengendapan, dan penuh dengan sampah yang menghambat lajunya air sungai. Pepohonan di tepi sungai dan ruang terbuka hijau semakin langka. Danau atau situ alami yang merupakan tempat penampungan air, telah berubah fungsi, ditimbun untuk kepentingan manusia.

Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Kawasan Lindung, telah mengatur mengenai kawasan-kawasan yang harus dilindungi termasuk kawasan hulu, bantaran sungai, dan danau. Kepres tersebut telah diperkuat oleh peraturan perundang-undangan mengenai kehutanan, lingkungan, dan tata ruang. Semua peraturan itu secara sengaja atau tidak, telah dilanggar secara telak dan kolektif tetapi nyaris tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban.

Terlepas dari itu semua, ketika terjadi banjir, maka itu menjadi persoalan yang menyangkut nyawa dan kehidupan manusia. Kebanyakan dari kita cenderung kurang perduli, sampai kita sendiri merasakan dampak dari bencana itu, secara langsung atau tidak langsung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s