Ada Apa dengan Raja Ampat…


Penelitian ikan laut di Raja Ampat telah dilakukan sejak 1819-1820. Bermula dari datangnya kapal fregat Perancis bernama L’Uranie dibawah Captain Freycinet (Catatan, ada beberapa jenis satwa yang menggunakan nama Freycinet lho). Naturalis yang ada di kapal itu, Quoy dan Gaimard berhasil mengoleksi 30 jenis ikan yang kemudian mereka deskripsikan tahun 1824 di jurnal khusus ikan berbahasa Perancis Zool.Poissons. Mereka berdua datang lagi tahun 1826 dengan kapal L’Astrolabe ke Pulau Waigeo dan berhasil mendeskripsikan 40 jenis ikan baru.

Alfred Wallace yang terkenal itu mendarat di Waigeo tanggal 4 Juli 1860. Tapi dia lebih senang mengoleksi jenis burung dan serangga daripada ikan. Kunjungan L.F. de Beaufort tahun 1909-1910 le Waigeo (sekitar Saonek dan Mayalibit) mengumpulkan 748 spesimen dengan total 117 jenis ikan laut. Lalu tahun 1977, B.B. Collete melaporkan penemuan 37 jenis ikan di mangrove Misool dan Batanta. Nah, udah berapa tuh jenis ikan di Raja Ampat?

marine rap raja ampat     Ngapain omongin sejarah gitu? Ya saya cuma mau bilang, bahwa laporan penelitian Marine RAP ini adalah laporan pertama yang paling komprehensif dan terpadu, yang menyatukan penelitian karang, ikan karang, dan moluska. Gabungan peneliti dari Puslitbang Oseanologi, Universitas Cendrawasih, Australian Institute of Marine Science, Western Australian Museum, dan Conservation International melakukan survei terpadu pada akhir Maret-awal April 2001. Mereka menyelam di 45 titik penyelaman di sekitar Pulau Waigeo, Batanta, Gam, Pam, Mansuar, Batangpele, Kawe, Kri, & Wayag. Titik penyelaman terdalam untuk mendata jenis-jenis ikan laut adalah 46m sedangkan untuk mendata karang penyelaman hingga 50m.

John Veron, ahli karang asal Australian Institute of Marine Science, menemukan 456 jenis karang keras di 35 dari 45 titik penyelaman. Dari jumlah itu, terdapat 9 jenis yg baru pertama kali ditemukan. Dgn temuan itu, total jenis karang di RajaAmpat menjadi 565 spesies, atau 91% dr total 590 jenis karang yg ada di Indonesia. sebagai penulis buku Karang Dunia (Corals of the World), dia langsung tahu bahwa jumlah yg ditemukannya di Raja Ampat sudah lebih dari setengah karang yg ada di muka bumi, eh di dasar laut di seluruh dunia!. Veron lalu menyimpulkan Raja Ampat sebagai tempat yang “extraordinary level of both underwater and terrestrial attractiveness”.

Douglas Fenner yang juga ahli karang dari Western Australia Museum, menemukan antara 18-123 jenis karang di 45 titik penyelaman. Dia menyelam hingga kedalaman 34 m dengan total 51 jam selam. Ia bandingkan keragaman jenis karang pada tiap titik selam. Genus/marga karang yang dominan adalah Acropora (64 jenis), Montipora (30 jenis), dan Porites (13 jenis).

Ahli moluska dari Western Australia Museum, Fred Wells menyelam tidak lebih dari kedalaman 6 meter untuk mendata jenis-jenis moluska laut. Ia menemukan 699 jenis yang terdiri dari Gastropoda (530 jenis), Kerang (159 jenis), Scafoda (2 jenis), Cefalopoda (5 jenis) dan Chiton (3 jenis). Jenis moluska yang bernilai ekonomi ditemukan tersebar luas dengan jumlah populasi yang kecil.

Nah sekarang giliran Gerry “si manusia ikan” Allen, dengan total waktu selam 60 jam dan kedalaman maksimal 46m, tetapi paling banyak jenis ikan ditemukan pada kedalaman antara 2m – 12m. Gerry menemukan 828 jenis ikan termasuk 4 jenis baru. Jadi total jenis ikan karang yang telah diketahui ada di Raja Ampat adalah 972 jenis. Hasil yang fantastis. Coba bayangin deh, di seluruh Indonesia sudah diketahui 2.027 jenis ikan karang. Jadi nyaris 48% ikan karang di Indonesia ada di Kepulauan Raja Ampat!!!

Sepanjang karirnya sebagai peneliti ikan, baru di Raja Ampat inilah dia mencatatkan rekor mencatat 283 jenis ikan dalam satu waktu penyelaman. Asal tahu aja, waktu yg dibutuhkan untuk sekali menyelam antara 60-90 menit. Gerry bilang,”suatu tempat dikatakan excellent kalau kita bisa menemukan 200 jenis ikan. Nah di Raja Ampat ini, 52% dari 45 titik penyelaman dikategorikan excellent”. Wahh…bandingkan dengan Milne Bay-PNG (42%), Kepulauan Togean-Banggai (19%), dan Calamianes-Filipina (10,5%).

marinerap

Dengan rendah hati Gerry berkata,”selama menyelam, cuma kurang dari 1% jenis ikan yang tidak dikenali”. Lho kok bisa? “ya karena sudah 25 tahun saya menyelam dan mempelajari jenis-jenis ikan laut di Indo-Pasifik”. Ooo pantesan… Coba deh lihat Pace Gerry Manusia Ikan di blog ini, kalau mau tau track record beliau.

La Tanda, peneliti ikan dari Oseanologi-LIPI yang ikut dalam penelitian ini menemukan 196 spesies ikan karang yang menjadi target untuk konsumsi. Perkiraan biomas ikan di setiap lokasi rata-rata 208 ton/km2. Jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan lain di Coral Triangle seperti di Milne Bay, Togean-Banggai, dan Calamianes.

Sayangnya, pengambilan ikan target secara berlebihan dan dengan cara bom/sianida juga ditemukan di Raja Ampat. Ancaman lainnya adalah pengendapan di dasar laut akibat penebangan hutan di daratan pulau. Pemutihan karang (coral bleaching) juga hanya ditemukan sebanyak 5,6% dari seluruh lokasi survei. Namun demikian, ahli ekologi Karang Sheila McKenna menyimpulkan bahwa 60% karang di Raja Ampat dalam kondisi bagus.

Apa yang terjadi setelah Raja Ampat jadi kabupaten, jadi the heart of coral triangle, destinasi utama wisata di Papua? Yang jelas, banyak pemerintah negara tetangga yang ngiri, tapi kita juga jangan sampai gigit jari. Semoga potensi ikan dan wisata di Raja Ampat memberikan kebaikan bagi masyarakat dan negeri ini. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s