Balada Pengakuan Seorang Tuan Tanah….


Kantor Resort CA/TWA Tangkiling, Kaltim

Beruntung sekali nasibku sebagai tuan tanah, mengelola tanah, air dan segala penghuninya yang liar.  Kudibayar oleh pembayar pajak negeri, untuk menjaga keutuhan tanah, air dan penghuninya yang liar.  Kewenanganku pada tanah, air dan segala penghuninya itu kusimpan, kukuasai penuh tapi kewajibanku pada tanah, air, dan penghuninya kubagi-bagi dengan para penggarap dengan dana mereka sendiri. Kusertakan dan kudukung penggarap, agar kelak berbagi hasil karya denganku, Jika mereka tak berbagi, kucabut hak garapnya dan hak nimatnya, karena itu mutlak kewenanganku.

Kubuat rencana tahunan, lima tahunan, duapuluh tahunan untukku sendiri dan aku tak wajib berbagi kecuali pada bosku dan tukang inspeksi.  Ah, jangan bicara akuntabilitas kawan, tak kupahami itu.  Transparansi? Duh, jangan bicara yang transparan, nanti kau kena infeksi, kawan.

Penggarap kuwajibkan membuat rencana garapan, anggaran, dan sampaikanlah padaku, karena itu titahku dan kewenanganku.  Kusebut dan kudengungkan mereka sebagai mitra-mitraku yang bermanfaat dan kumanfaatkan. Azas manfaat…

Ketika berhasil kukatakan itu keberhasilanku, ketika gagal kukatakan itu kegagalan penggarap yang tidak becus,

Akupun tak boleh dikritik di depan umum, karena itu melanggar hak asasiku dan otoritasku.  Kalau mau kritik, cukuplah bisik-bisik… Kalau aku tak tindaklanjuti, bukan karena bisik bisik itu tak kudengar, tapi karena itu kewenanganku.

Ketika tanah, air, dan penghuninya rusak, merusak, meradang, menghilang, maka itu menjadi rejeki baru buatku.  Dan menjadi hakku mendapat tambahan dari pembayar pajak negeriku. Aku berseru girang, banyak masalah..banyak rejeki.  Di saat yang sama, kuminta dan kutagih dukungan nyata para penggarap, tuk atasi masalah bersama.

Ketika ada dua gubug merambah tanahku, kucatat dan kubiarkan dulu, karena tak masuk daftar 029 dan 069 tahun ini.  Ketika harimau meradang, orangutan menahan pilu butir-butir peluru senapan, kubertanya tanya, ini masalah bukan ya?  Kalau masalah, kan kukatakan bahwa ini masalah kita semua wahai anak bangsa pemilik gelar the Highest Biodiver City.

Kuberpikir keras, perlu kubantu gak ya? Kalau kubantu, mereka bisa bantu aku apa ya?  Aih, ini kan kegagalan penggarap yang kurang lihai memberikan penyadartahuan pada rakyat!!!  Aku tak bisa salah, tak bisa gagal, karena aku paling pintar, dan punya kuasa.  Biarlah masalah itu berlalu, toh nanti semua akan lupa, atau dilupakan, karena kita mahluk pelupa. Biarlah itu jadi kerjaan penerusku.

Terpuruk sekali ketika habis masa baktiku. Kuberubah menjadi penonton tanpa hak garap, beruntunglah beberapa rekan yang bisa menjadi penggarap, walau tanpa kewenangan sebesar dulu.  Aku meronta tanpa daya, hingga serak parau suaraku berteriak lantang, hingga berbisik pun kutak sanggup lagi.

Dulu aku serba “bisa”, tapi kini “bisa” ku tak seganas ular kobra.  D ulu kutahu ada Tuhan dan Peraturan, tapi kulebih takut pimpinan. Dulu kusembah berhala kuasa, berhala harta, berhala dunia.

Kini usai sudah… Kini ingin kucari KEBENARAN, bukan pembenaran lagi.  Tapi kutak kuasa, karena kuasa itu bukan milikku lagi. Kutertunduk menyesal meyakinkan hati, berharap masih ada juniorku yang jadi tuan tanah berhati mulia berotak brilian dan para mitra pencari pahala.

Lalu kubersenandung sebagai “tenaga ahli” sebelum kelak bersetubuh dengan liang lahatku…

Hamba yang berdosa, datang bersimpuh menyembahMu

Mengaku, menyeru, memohon ampunanMu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s