Gedung Linggarjati: angker tapi menawan


Ketika Taruners Sowan ke Gedung Linggarjati, Kuningan…

Kita sering melihat rombongan klub otomotif konvoi di jalan raya. Begitu juga kalau mereka nongkrong di kafe, lokasi off-road, atau pusat-pusat wisata massal. Tapi mungkin belum banyak klub otomotif bertandang ke tempat bersejarah. Nah, dalam rangka Jambore yang disponsori Tabloid Otomotif, klub Taruna Owners (TO) mencoba bertandang ke Gedung Naskah Linggarjati-Kuningan. Ada apa sih di Linggarjati?

medium DVC00772Sekedar mengingatkan, Linggarjati adalah nama desa tempat perundingan antara Belanda dan Indonesia pada tanggal 10-15 Nopember 1946. Perundingan dilakukan di sebuah gedung tua (mungkin dulu sih termasuk modern) yang berlokasi di desa Linggarjati, kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Perundingan itu membuat Belanda mengakui keberadaan Republik Indonesia, meski baru sebatas Jawa, Madura, dan Sumatera.

Pada hari ke-delapan bulan ke-tujuh tahun ke-2006, empat puluh anggota keluarga besar TO berkunjung ke “Gedung” yang jaraknya 25 km dari kota Cirebon. Sekitar jam 10 pagi, rombongan sudah mulai parkir di seberang “Gedung”.

Ternyata apa yang dikatakan “Gedung” itu adalah rumah kuno gaya bangunan Belanda tempo dulu. Sepertiga dindingnya tersusun dari batu kali, dan sisanya tembok. Gedung bercat putih itu tidak tampak angker, tapi Farhan (5 tahun) mendadak menangis sambil berteriak ketakutan saat mendekati halaman depan. Setelah ditenangkan dan diinterogasi orangtuanya, ternyata si anak mengaku melihat kakek tua berjenggot putih. Hiii….

Tidak ada biaya resmi untuk berkunjung, kecuali dana sukarela. Salah satu dari empat petugas segera menceritakan sejarah singkat Linggarjati. Suaranya datar tanpa emosi, mirip anak SD yang sedang menghapal. Mungkin karena sudah ratusan kali harus mendiktekan hal yang sama pada pengunjung. Entah berapa orang yang mendengarkan cerita itu karena rombongan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Dalam 15 menit, sebagian besar Taruners sudah berada di taman belakang yang didominasi pohon Flamboyan..

medium DVC00779Gedung Naskah Linggarjati ini luasnya 800m2, berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektar. Terdapat dari enam kamar untuk anggota delegasi, satu kamar untuk mediator, satu ruang makan, dua ruang tamu, tiga kamar mandi dan dapur. Di setiap kamar itu terdapat dua tempat tidur, kursi, dan lemari. Hampir semua perabotan di dalam gedung  itu adalah replika kecuali piano dan empat kursi di ruang makan. Benda yang juga masih asli dari jaman baheula adalah lantai di ruang utama, beberapa jendela dan pintu.

Sulit sekali membayangkan, bahwa bangunan yang pemilik pertamanya bernama ibu Jasitem (1918) telah berulang kali berubah fungsi. Tahun 1930 dijadikan rumah oleh Van Ost Dome, tahun 1935 dijadikan Hotel Rustoord, 1942 diganti namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan, 1945 dirubah lagi menjadi Hotel Merdeka, 1948 menjadi markas Belanda, 1950-1975 dirubah menjadi SD Negeri Linggarjati. Baru tahun 1976 (30 tahun kemudian), gedung itu diproklamirkan sebagai gedung bersejarah dan museum.

Sayang, tidak ada suvenir khas Gedung Naskah Linggarjati kecuali fotokopian sejarah perjanjian Linggarjati seharga Rp. 2000. Dalam total waktu 30 menit, rombongan Taruners meninggalkan lokasi untuk melanjutkan acara Jambore yang membahas regenerasi organisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s