Ngintip burung


 

Siapa dari kita yang tidak mengenal binatang yang namanya burung? Entah itu melihatnya di sangkar, di pasar burung, di jalanan, di sawah, atau di hutan.  Yang menjadi ciri utama burung adalah adanya sayap sehingga mempunyai kemampuan untuk terbang.  Namun ada pula jenis burung yang mempunyai sayap tapi jarang menggunakan kemampuannya untuk terbang, misalnya ayam hutan.  Adapula burung yang sayapnya mengecil sehingga tidak bisa terbang lagi, misalnya burung penguin.  Ciri lainnya yang mencolok adalah adanya paruh sebagai alat pengganti mulut dan berkaki dua, sebagian  memiliki cakar/kuku atau selaput di kakinya. 

Peranan burung dalam kehidupan manusia sangat beragam.  Menurut sudut pandang manusia ada burung yang menguntungkan, misalnya Kutilang (Pycnonotus sp) yang memakan serangga perusak tanaman, dan ada yang merugikan, misalnya burung Emprit (Lonchura leucogastroides) yang memakan padi.  Tetapi sesungguhnya, setiap makhluk hidup memiliki peran dan fungsinya sendiri di muka bumi. 

Burung seringkali ditangkap manusia dengan tiga tujuan utama, yaitu dimakan, dijual atau untuk dipelihara.  Tipe burung yang ditangkap untuk di makan biasanya memiliki daging yang relatif besar dan pemakan buah/biji-bijian, seperti Kumkum (Centropus celebensis), Ayam Hutan, Bango, dan Belibis.  Sedangkan tipe burung yang ditangkap untuk dijual biasanya memiliki warna yang indah, seperti Jalak dan Nuri, bersuara merdu seperti Murai (Monticola solitarius) dan Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), atau kedua-duanya, seperti Beo dan Tiung.

Hanya itukah? Ada pula manusia yang menangkap burung dengan tujuan iseng. Contohnya, banyak anak-anak yang menangkap burung dengan ketapel atau senapan angin hanya untuk membuktikan keahliannya menembak. Bila burungnya mati, dibuang saja di pinggir hutan.

Di Indonesia terdapat lebih dari 1500 jenis burung, sehingga termasuk negara dengan keragaman jenis burung terbesar ke 5 setelah Columbia, Peru, Brazil, dan Ekuador.  Namun Indonesia berada pada urutan pertama di dunia berdasarkan banyaknya daerah burung endemik, dan banyaknya jenis burung yang terancam punah.  Di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango) terdapat tidak kurang dari 260 jenis. Sedangkan di Bodogol dapat dijumpai 150 jenis burung.

            Kehadiran jenis burung pada suatu tempat dipengaruhi oleh banyak faktor dan kondisi.  Dengan demikian, satu jenis burung yang berada di satu lokasi belum tentu ada di lokasi lain.  Oleh karena itu ada jenis burung yang sangat bersifat endemik lokal.  Apa sajakah, faktor dan kondisi yang mempengaruhi kehadiran burung di suatu lokasi?

Burung dan Habitatnya

Habitat adalah rumah/tempat tinggal suatu jenis makhluk hidup dalam sebuah kompleks kehidupan (ekosistem).  Variasi habitat pada suatu lokasi akan mempengaruhi keragaman jenis burungnya karena burung memiliki kecenderungan untuk menempati suatu habitat yang khas.  Hal itu seringkali berkaitan dengan ketersediaan makanan, iklim, pesaing, atau pemangsa. Dengan demikian, rusak atau hilangnya sebuah habitat akan mengakibatkan berkurang atau hilangnya jenis-jenis burung di suatu lokasi.

Habitat burung terbentang mulai dari tepi pantai hingga ke puncak gunung.  Burung yang memiliki habitat khusus di tepi pantai tidak dapat hidup di pegunungan dan sebaliknya.  Namun adapula jenis burung-burung generalis yang dapat dijumpai di beberapa habitat. Misalnya burung Cipo (Aegithina sp), Cabean (Prionochilus) dan Kutilang dapat dijumpai pada habitat bakau hingga pinggiran hutan dataran rendah.

Secara garis besar, di Bodogol misalnya, terdapat beberapa habitat bagi kehidupan burung yaitu: semak belukar, hutan sekunder, hutan primer, sungai, dan perkebunan.  Burung yang hidup di semak belukar masih bisa dijumpai di daerah perkebunan, dan tepi hutan sekunder tetapi jarang ditemukan di hutan primer.  Sedangkan burung di hutan primer terkadang dapat dijumpai di hutan sekunder tapi sulit ditemukan di semak belukar.  Hal itu dapat terjadi karena jenis makanan yang tersedia di antara habitat-habitat tersebut sangat berbeda.

Burung dan Musuhnya

Burung juga memiliki musuh. Biasanya berupa pemangsa (predator). Misalnya predator dari burung-burung kecil adalah burung Elang. Selain musuh, burung juga memiliki saingan (kompetitor).  Saingan itu bisa berasal dari sesama jenisnya, maupun dari jenis lain.  Adanya musuh dan saingan itu mengakibatkan burung memiliki strategi dalam hidupnya.  Strategi itu dapat berupa perbedaan jenis makanan, perbedaan waktu hidup (siang/malam), perbedaan daerah hidup (strata atas atau bawah), dan ada pula yang memiliki teritori.  

Burung Srigunting (Dicrurus sp) dan Kekep adalah mangsa bagi Elang yang suka memakan telur atau anak Srigunting dan Kekep.  Jika pernah melihat Srigunting mengejar Elang, jangan berpikir bahwa mereka sedang bercanda, tetapi sebuah bentuk perlawanan untuk mengusir Elang, sang predator.

Burung dan Makanannya

Makanan burung bervariasi tergantung jenisnya.  Ada jenis burung pemakan khusus serangga/insektivora, seperti Butbut, Srigunting; pemakan buah/frugivora (Kumkum, Betet); pemakan daging/karnivora seperti Elang, Bangau, dan Burung Hantu; pemakan segala/omnivora seperti Rangkong (Buceros sp), Ayam hutan, dan Kutilang.  Biasanya burung omnivor memakan buah, serangga, telur burung, katak, ular, tikus, kelelawar, dan mamalia kecil lainnya.  Tentunya tergantung ukuran burung. Kutilang tidak mungkin memakan ular, tetapi rangkong/enggang biasa memakannya.  Persamaan makanan antara satu jenis burung dengan jenis lainnya menyebabkan kompetisi/persaingan. Persaingan bisa dihindari dengan cara membagi relung (ruang dan waktu). Misalnya, Elang dan Burung Hantu (Otus sp), sama-sama pemakan daging, tapi mereka berbagi relung waktu. Elang mencari makan siang hari, sedangkan Burung Hantu mencari makan malam hari.

Burung dan Stratanya

Sesuai dengan habitat dan makanan yang disukainya, burung ada yang tinggal di tingkatan/strata bawah, seperti Prenjak (Prinia sp);  di tengah kanopi, seperti Sesap Madu; di kanopi, seperti Sepah Gunung (Pericrocotus miniatus); atau di tanah seperti Burung Puyuh (Haematortyx sanguiniceps).  Mengapa bisa begitu? Itulah bentuk adaptasi atau penyesuaian sebagai salah satu akibat dari adanya kompetisi. Proses adaptasi itu berlangsung lama, bahkan bisa memakan waktu puluhan tahun. Jika mereka tidak berbagi strata, maka burung-burung itu harus rela kucing-kucingan dengan kompetitornya.  Misalnya Elang dengan Alap-alap.

Burung dan Waktu Hidupnya

Sebagian besar burung hidup pada siang hari (diurnal), tetapi ada pula burung yang hidup pada malam hari (nokturnal), seperti Burung Hantu dan Cabak Maling (Caprimulgus macrurus). Nah, pembagian waktu aktif juga terjadi sebagai bentuk adaptasi demi kelangsungan hidupnya.  Bentuk dan warna tubuh burung yang hidup malam dan siang hari sangat berbeda. Mata Burung Hantu terlihat besar dan menyeramkan, dengan warna tubuh yang tersamar.  Suara burung malam tidak semerdu burung pada siang hari.  Suaranya satu-satu, cong… cong… memecah keheningan malam. Bentuk-bentuk yang khas dari burung malam ternyata berfungsi untuk memudahkan mendapatkan makanan. Pada siang hari, burung malam seringkali tidur dan sembunyi di tempat gelap yang sulit dilihat manusia.  Demikian halnya dengan burung siang, akan tidur pada malam hari.

Burung dan  Perkawinan

Setiap jenis burung memiliki masa kawin/berbiak yang berbeda.  Ada yang dapat berbiak setiap saat dan adapula yang tergantung musim buah.  Pada masa kawin, beberapa jenis burung menunjukkan sifat teritori/agresif terhadap musuh dan saingannya, misalnya burung Rangkong.  Teritori adalah daerah yang secara sengaja dilindungi oleh sepasang atau sekelompok individu dari satu jenis burung terhadap gangguan dari jenis burung yang sama atau jenis burung lain.

Ada pula jenis burung yang menandai masa kawinnya dengan warna bulu yang lebih cantik dari biasanya, seperti burung Merak (Pavo muticus). Ekor merak jantan akan bertambah panjang dan dipamerkan kepada betina pada masa-masa kawin. Ada jenis burung yang setia dengan pasangannya (monogami), misalnya Rangkong, Kumkum.  Adapula jantan yang kawin dengan beberapa betina (poligami),  misalnya Merak, Ayam Hutan.

Burung dan Sarangnya

Setelah melalui masa bercumbu, biasanya burung akan segera mencari atau membuat sarang untuk bertelur.  Kebanyakan burung membuat sarangnya sendiri dengan menggunakan bahan-bahan berupa rumput/daun/ranting kering.  Adapula burung yang membuat lubang sarangnya di tanah seperti Raja Udang (Alcedo sp), atau di pohon seperti Jalak.  Burung Rangkong juga memanfaatkan lubang pohon untuk bersarang walau tidak mampu membuat lubangnya sendiri.  Burung Eudynamis tergolong burung yang nakal karena tidak mau membuat sarang melainkan meletakkan telurnya di sarang burung lain.

            Sepanjang jalan menuju Bodogol, mulai dari Lido akan dijumpai aneka burung dengan aneka warna. Tapi itu dulu….gak tauk sekarang…dah lama gak namu ke Bodogol

4 thoughts on “Ngintip burung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s