Rangkong Sulawesi, Big and Beautiful


Waktu ane mau neliti Rangkong sulawesi (Aceros cassidix) pada awal tahun 1993 untuk skripsi, sesungguhnya ane belum pernah tahu dan melihatnya langsung. Tidak juga di kebun binatang atau taman Burung.
Ya udah, mulailah ane hunting informasi ke kantor International Council for Bird Preservation di Bogor (ICBP, cikal bakal Birdlife International, yang melahirkan Burung Indonesia). Lalu menemui Pak Ismu Suwelo, peneliti senior dari Diklat Kehutanan di Bogor utk dapat literatur. Bermodal semangat dan sedikit literatur, berangkatlah ane ke Cagar Alam Tangkoko-Dua Sudara (TDS). Cagar alam seluas 88km2 itu terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Selama lima bulan, saya ”diadopsi” oleh Tim O’Brien & Margaret (Maggie) Kinnaird, yang kelak menjadi pionir kehadiran Wildlife Conservation Society di Indonesia (WCS, dulu namanya NYZS/Wildlife Conservation International).
Setibanya di Desa Batuputih, desa terdekat dengan TDS, rasanya tak sabar ingin melihat makhluk yang akan saya pelototi beberapa bulan kedepan. Ketika saatnya tiba, sayapun terhenyak. Sebelum saya berhasil melihatnya, si Rangkong sudah berkaok-kaok keras disertai kibasan sayapnya yang bergemuruh. Ge-er banget sih nih burung. Belakangan kutahu, bahwa itu adalah sikap waspada dengan memberikan alarm call atas kehadiran manusia, yang beberapa di antaranya suka membuat sop paha rangkong.
Sejak itu, saya ”memburu” keberadaan rangkong di area riset seluas 420 hektar, untuk mencari tahu jenis pakan dan makanan favoritnya. Mula-mula saya harus mencari pohon yang sedang berbuah dengan cara ”jalan-jalan” sejauh 4 km. Saya identifikasi dan tandai semua pohon yang berbuah pada radius 50 m di kiri-kanan jalur, menghitung jumlah buah dan banyaknya rangkong yang nongkrong di pohon itu. Empat kilometernya gak seberapa, tapi jalur naik-turunnya itu lho, yang monyet pun enggan melintasinya. Apa boleh buat, saya mesti ”jalan-jalan” sebanyak 12 kali/bulan pada jalur yang berbeda. Dari hasil jalan-jalan ini, saya dapat mengetahui bahwa buah beringin berwarna merah adalah favoritnya. Iseng banget ya?
Setelah dapat pohon berbuah, ya udah, aen tongkoring deh seharian penuh. Untung ada asisten lapangan, sehingga bisa bergantian menunggui dan mengamati burung ge-er ini. Seringkali, dengan berbekal satu termos kopi dan 20 butir biapong (semacam bak’pao isi gula merah dan kelapa) saya bertahan di lokasi dari jam 7 pagi sampai 5 sore. Wah, melebihi standar waktu kerja ya? Enggak juga sih, soalnya total pencatatan cuma 2 jam per periode. Di antara waktu itu, saya gunakan untuk melihat-lihat tingkah polah satwa lain yg lucu-lucu.
Kehadiran Monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) di pohon target seringkali menjengkelkan karena mereka cepat sekali menghabiskan buah. Cara makannya boros, banyak yang terbuang. Makanya, kalo ada orang yg makannya boros, jadi inget monyet ini. Monyet berjambul ala Jim Carey ini juga suka mengusir rangkong. Entah sekedar iseng, becanda, atau memang gak mau berbagi. Kalau rangkong masih lapar, ya mereka akan datang lagi. Padahal datang dan perginya rangkong dari pohon target, harus selalu saya catat. Bikin repot kan?
Yah, keringat, lelah, dan repot yang saya alami akhirnya menghasilkan skripsi plus 4 artikel di jurnal ilmiah. Bonusnya adalah kesempatan belajar lebih jauh dengan ahli rangkong, Dr. Pilai Poonswaad di Taman Nasional Khao Yai, Thailand. Selama dua bulan saya mendalami ekologi empat jenis rangkong di Khao Yai, teknik sensus, jenis pakan, karakter sarang, fenologi (siklus buah), dan analisa data. Saya juga belajar menangkap rangkong, memasang radio transmitter, dan melacak sinyalnya dengan radio penerima. Singkatnya, pergi pagi pulang petang, terkadang begadang di hutan.

Menjadi Hornbill tracker
Hornbill adalah nama Inggrisnya. Di dunia terdapat 54 jenis, 31 di antaranya hidup di Asia. Indonesia memiliki 13 jenis hornbill, yang diterjemahkan menjadi rangkong, enggang, julang, atau kangkareng, Mereka tersebar dari Aceh hingga Papua, tetapi dua jenis hanya ditemukan di Sulawesi (Rangkong sulawesi, Aceros cassidix dan Kangkareng sulawesi, Penelopides exarhatus) dan satu jenis di Pulau Sumba (Julang sumba, Rhyticeros everetti). Saya cukup beruntung karena sempat bergaul dan bertemu langsung dengan ketiga jenis endemik tersebut.
Sekembali dari Khao Yai, nasib mempertemukan saya dan Rangkong sulawesi lagi. Kali ini, saya menggaulinya lebih intim, karena harus menangkapnya, memasang radio pemancar, dan melacak daerah jelajahnya. Sebagaimana umumnya, rangkong betina bersarang di dalam batang pohon yang berlubang. Jantan akan datang ke sarang untuk memberinya makan. Itulah saat yang tepat untuk menangkap si jantan dengan jaring (mist net). Kedengarannya gampang, tapi ternyata tak semudah kata-kata.
Kayak reserse mau menangkap target operasi. Tim Buser harus menentukan target beberapa hari sebelumnya, membuat gubuk pengintaian, mengamati dari arah mana datangnya jantan, persinggahan sebelum meluncur ke lubang sarang, lalu menentukan di mana kita akan membentangkan jaring. Berdasarkan informasi itu, kita siapkan jaring perangkapnya.
Pada hari H, ketika langit masih terlihat samar-samar, kami berlima memulai aksi membuka dan menaikkan jaring di depan lubang sarang. Makin cepat makin baik. Lalu semua sembunyi menanti jantan memberi sarapan pertama kepada betina. Kadang, tanpa kita ketahui, si jantan sudah nongkrong dan melihat kelakuaan kita memasang jaring. Kurang ajarnya, si jantan baru terbang dan teriak-teriak setelah kita selesai pasang jaring. Alamak… kalau sudah begitu, maka operasi harus ditunda.
Menangkap rangkong bisa membuat kita tertawa, terluka, dan kesal. Kita tertawa saat jantan langsung menubruk jaring pada kesempatan pertama. Adakalanya si jantan yang waspada berhasil melewati jaring, tapi setelah selesai memberi makan, dia lupa ada jaring di belakangnya dan bruk… ia masuk perangkap. Kita terluka, ketika paruhnya berhasil mamacuk pipi atau menjepit tangan kita. Kita kesal, ketika keberadaan jaring diketahui oleh si jantan. Ada jantan yang hebat dan jeli sehingga selalu berhasil memberi makan pasangannya, meskipun kita sudah beberapa kali mengubah arah jaring. Ada pula jantan yang kabur dan tak kembali, memaksa kita gulung jaring karena kuatir betinanya kelaparan.
Rangkong yang telah dilepaskan dari jaring, paruhnya segera diikat dan kepalahnya ditutup sarung, supaya tidak stress. Radio seukuran batu baterai A3 yang telah dijahit dengan pita pun dipasang dipunggungnya, seperti memasang ransel. Pita yang digunakan akan lapuk selama satu setengah tahun, sehingga rangkong tidak akan menggendongnya sepanjang hayat. Setelah semuanya beres, rangkong kita lepas.
Rangkong tidak bisa langsung terbang jika kita letakkan di atas tanah. Ia akan meloncat-loncat dulu ke dahan pohon secara bertahap. Setelah dirasa cukup tinggi, barulah ia mengepakkan sayapnya. Untuk memudahkannya take off, rangkong kita letakkan pada dahan setelah melepas ikatan pada paruh dan sarung penutup kepala. Jerih payah kami selama dua bulan, berhasil ”memaksa” 9 rangkong menggendong radio pemancar seberat 23 gram (kurang dari 1% berat tubuhnya), yang memancar pada frekuensi antara 164-165MHz.
Pekerjaan selanjutnya adalah mendeteksi mereka tiga kali seminggu, dari pagi hingga sore. Dengan GPS Magellans NAV 5000 PRO (seukuran dan seberat batubata), kita tentukan kordinat lokasi-lokasi pemantauan sinyal. Dengan mengetahui arah sinyal yang terpantau dari dua lokasi, kita tentukan posisi target (triangulasi). Dari situlah kita menghitung luas daerah jelajahnya.
Ternyata untuk mencari makan, rangkong mampu menjelajah hutan rata-rata 10km/hari dan luas daerah jelajahnya mencapai 55 km2. Artinya, rangkong mampu mencari makan sekaligus menyebarkan bijinya di 2/3 kawasan Cagar Alam TDS. Sekali lagi, Rangkong sulawesi memberikan jasanya. Terima kasih wahai rangkong yang big & beautiful.

2 thoughts on “Rangkong Sulawesi, Big and Beautiful

  1. Menarik banget!!! Setelah kuinget2, aku gak punya pengalaman penelitian spt ini (walopun amit2 d penelitian di hutan, agasnya ganas!). Jadi merasa perjalanan hidupku krg lengkap😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s