Conservation and Conversation


Resepsionis sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang namanya menggunakan kata ‘konservasi” pernah didatangi orang yang menanyakan biaya kursus?   “Kursus apa?”, tanya si resepsionis dengan polos ketika pertama kali mendapatkan pertanyaan tersebut.

“Kami mau ikut kursus ngomong bahasa Inggris”, jawab mereka. Lho?

Hanya karena letak huruf “s” dan “v”, membuat kata Conservation yang tertulis dalam papan nama kantor LSM itu dengan mudah terbaca sebagai Conversation. Akibatnya muncul asumsi bahwa lembaga konservasi itu sebagai tempat kursus bicara bahasa Inggris. Masalah sepele?

            Kata Conservation di “Indonesiakan” menjadi Konservasi yang dalam sejumlah kamus terjemahan diartikan sebagai pelestarian atau penghematan. Seringkali maknanya diperluas menjadi perlindungan (protection) dan pengawetan (preservation). Sedemikian luas maknanya sehingga ketika diucapkan dapat merujuk kepada salah satu pengertian di atas. Dari sini dapat diambil kesimpulan sementara bahwa konservasi tidak terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pelestarian hutan dan satwa liar.

Departemen Kehutanan saja sempat menamakan salah satu direktorat jenderalnya dengan sebutan PPA (Perlindungan dan Pelestarian Alam). Mungkin dianggap obyeknya tidak jelas, dirubah menjadi PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). Untuk mempertegas makna konservasinya, maka kini dirubah menjadi PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam). Nama boleh beda, tapi fungsinya tetap sama.

Pemahaman konservas dikalangan akademisi, penggiat konservasi, lembaga pemerintah dibidang konservasi tentu sudah tak diragukan lagi. Masalahnya, konservasi bukan hanya urusan mereka karena konservasi tidak akan pernah berhasil tanpa ada dukungan dari masyarakat. Jadi supaya berhasil, maka perlu ada kesamaan pemahaman lebih dulu antara masyarakat dan para pelaku yang bekerja di bidang konservasi.

Mari kita telaah sedikit demi sedikit, satu demi satu. Dalam arti sempit, konservasi berarti pelestarian alam beserta isinya untuk kehidupan masa kini dan mendatang. Alam beserta isinya itu serasa lebih keren disebut dengan sumberdaya alam. Jika isinya hewan dan tumbuhan, namanya menjadi sumberdaya hayati. Jika isinya menyangkut barang tambang, dinamakan sumberdaya mineral. Jika isinya hutan, ya jadi sumberdaya hutan.

Dalam arti yang lebih luas dan populer, konservasi diartikan sebagai penghematan terhadap sumberdaya agar dapat digunakan selama mungkin dan seefisien mungkin.  Pola hidup boros merupakan salah satu perilaku yang bertentangan dengan konservasi karena akibatnya sangat merugikan kita semua dimasa kini dan mendatang.

Perilaku boros seringkali muncul ketika sumberdaya tersebut masih melimpah. Logikanya, untuk apa repot-repot berhemat-ria, lha wong sumberdayanya ada di mana-mana. Kalau perlu tinggal ambil atau beli. Betul, tetapi ketika sumberdaya itu menjadi langka dan sulit didapatkan, cepat atau lambat sumberdaya itu menjadi mahal. Sementara itu ketergantungan kita pada sumberdaya itu sudah sedemikian tinggi dan belum ada substitusinya.

Misalnya harga bahan bakar minyak yang terpaksa mengikuti harga minyak bumi di seberang lautan. Kalau sudah kepepet seperti ini, barulah perilaku hemat didengungkan, dan alternatif minyak jarak dikembangkan.

Dulu kita mengambil air hanya perlu tenaga manusia karena kedalaman sumur cukup 6 meter. Kini kita perlu tenaga listrik untuk mendapatkan air karena sumurnya sudah mencapai lebih dari 20 meter. Dulu kita ambil air cuma-cuma, kini harus bayar listriknya, bayar pajaknya, bahkan membayar lebih untuk mendapatkan air olahan atau air kemasan yang dikelola perusahaan. Air mulai menjadi barang langka dan harganya akan semakin mahal.

            Pemahaman terhadap konservasi menjadi langkah awal menuju masyarakat yang berkualitas, baik di pedesaan maupun perkotaan. Pola hidup hemat dalam memanfaatkan sumberdaya dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu bentuk dukungan terhadap konservasi sumerbdaya alam, termasuk energi, tanah, air, hutan, dan makhluk hidup lainnya.

            Diawali dengan pemahaman yang benar, dihayati, diterapkan dalam lingkungan sendiri, lalu ditularkan pada komunitas yang lebih besar. Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa conservation bukanlah sekedar bahan conversation melainkan menjadi pola hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s