Rangkong the Hornbill, farmer of the forest
04 Mar 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in Biodiversity, Conservation Tag:Aceros, hornbill, nusa tenggara timur, Rangkong, Rhyticeros, sumba
Beberapa artikel ilmiah tentang rangkong, bisa ditengok di bagian referensi-burung. Sila ditengok, mana tau berguna bagi yg membutuhkan. More articles will be upload pada saat-saat yang tak terduga hehehe.
Pengakuan kupadaMu
22 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in Conservation
Beruntung sekali nasibku sebagai tuan tanah, mengelola tanah, air dan segala penghuninya yang liar. Kudibayar oleh pembayar pajak negeri, untuk menjaga keutuhan tanah, air dan penghuninya yang liar. Kewenanganku pada tanah, air dan segala penghuninya itu kusimpan, kukuasai penuh tapi kewajibanku pada tanah, air, dan penghuninya kubagi-bagi dengan para penggarap dengan dana mereka sendiri. Kusertakan dan kudukung penggarap, agar kelak berbagi hasil karya denganku, Jika mereka tak berbagi, kucabut hak garapnya dan hak nimatnya, karena itu mutlak kewenanganku.
Kubuat rencana tahunan, lima tahunan, duapuluh tahunan untukku sendiri dan aku tak wajib berbagi kecuali pada bosku dan tukang inspeksi. Ah, jangan bicara akuntabilitas kawan, tak kupahami itu. Transparansi? Duh, jangan bicara yang transparan, nanti kau kena infeksi, kawan.
Penggarap kuwajibkan membuat rencana garapan, anggaran, dan sampaikanlah padaku, karena itu titahku dan kewenanganku. Kusebut dan kudengungkan mereka sebagai mitra-mitraku yang bermanfaat dan kumanfaatkan. Azas manfaat…
Ketika berhasil kukatakan itu keberhasilanku, ketika gagal kukatakan itu kegagalan penggarap yang tidak becus,
Akupun tak boleh dikritik di depan umum, karena itu melanggar hak asasiku dan otoritasku. Kalau mau kritik, cukuplah bisik-bisik… Kalau aku tak tindaklanjuti, bukan karena bisik bisik itu tak kudengar, tapi karena itu kewenanganku.
Ketika tanah, air, dan penghuninya rusak, merusak, meradang, menghilang, maka itu menjadi rejeki baru buatku. Dan menjadi hakku mendapat tambahan dari pembayar pajak negeriku. Aku berseru girang, banyak masalah..banyak rejeki. Di saat yang sama, kuminta dan kutagih dukungan nyata para penggarap, tuk atasi masalah bersama.
Ketika ada dua gubug merambah tanahku, kucatat dan kubiarkan dulu, karena tak masuk daftar 029 dan 069 tahun ini. Ketika harimau meradang, orangutan menahan pilu butir-butir peluru senapan, kubertanya tanya, ini masalah bukan ya? Kalau masalah, kan kukatakan bahwa ini masalah kita semua wahai anak bangsa pemilik gelar the Highest Biodiver City.
Kuberpikir keras, perlu kubantu gak ya? Kalau kubantu, mereka bisa bantu aku apa ya? Aih, ini kan kegagalan penggarap yang kurang lihai memberikan penyadartahuan pada rakyat!!! Aku tak bisa salah, tak bisa gagal, karena aku paling pintar, dan punya kuasa. Biarlah masalah itu berlalu, toh nanti semua akan lupa, atau dilupakan, karena kita mahluk pelupa. Biarlah itu jadi kerjaan penerusku.
Terpuruk sekali ketika habis masa baktiku. Kuberubah menjadi penonton tanpa hak garap, beruntunglah beberapa rekan yang bisa menjadi penggarap, walau tanpa kewenangan sebesar dulu. Aku meronta tanpa daya, hingga serak parau suaraku berteriak lantang, hingga berbisik pun kutak sanggup lagi.
Dulu aku serba “bisa”, tapi kini “bisa” ku tak seganas ular kobra. D ulu kutahu ada Tuhan dan Peraturan, tapi kulebih takut pimpinan. Dulu kusembah berhala kuasa, berhala harta, berhala dunia.
Kini usai sudah… Kini ingin kucari KEBENARAN, bukan pembenaran lagi. Tapi kutak kuasa, karena kuasa itu bukan milikku lagi. Kutertunduk menyesal meyakinkan hati, berharap masih ada juniorku yang jadi tuan tanah berhati mulia berotak brilian dan para mitra pencari pahala.
Lalu kubersenandung sebelum bersetubuh dengan liang lahatku…
Hamba yang berdosa, datang bersimpuh menyembahMu
Mengaku, menyeru, memohon ampunanMu….
Gerry Manusia Ikan
09 Feb 2012 2 Komentar
in Conservation, Tokoh Tag:Australia, Gerrald Allen, Ikan, Indonesia, manusia ikan, Papua
Waktu saya kecil dulu, di majalah Bobo ada cerita bergambar dengan tokoh Deni Manusia Ikan (Fishboy: Denizen of the Deep) karya Scott Goodall dan John Stokes. Dalam petualangannya mencari orangtuanya, ia berkelana melalui laut, dan bisa bicara dengan segala makhluk air. Ia begitu peduli dengan segala persoalan kehidupan ikan di laut, danau dan sungai. Tidak sedikit masalah itu merembet ke persoalan lain di darat, sehingga dia harus ke darat dan pontang panting cari air untuk membasahi tubuhnya.
Saya mengenal seseorang yang ingin saya kenalkan sebagai Gerry Manusia Ikan, tapi dia gak perlu lari-lari nyebur ke tong isi air supaya tubuhnya kembali segar. Untuk menyelam pun dia tetap perlu alat selam, nggak kayak si Deni yang punya insang. Dia pun gak mau pusing dengan urusan orang lain kecuali ikan, ikan, dan ikan.
Nama lengkapnya Gerald R. Allen, lahir di Los Angeles tahun 1942, mendapatkan PhD dari Universitas Hawaii tahun 1971 dalam bidang marine zoology. Pria yang lebih akrab dipanggil Gerry itu pindah ke Sydney tahun 1972, lalu menetap di Perth sejak 1974 hingga sekarang. Gerry menjadi Kurator Ichthyology alias ilmu urusan ikan di Western Australian Museum sejak 1974 hingga 1998. Setelah pensiun, ia berkiprah sebagai ahli ikan karang dan ikan air tawar di Conservation International.
Sejak 1969 hingga 2012, Gerry telah menulis 487 publikasi mencakup 38 buku, 387 artikel dalam jurnal ilmiah, dan sisanya laporan ilmiah. Beberapa bukunya antara lain Reef Fish Identification (2005), Field Guide to the Freshwater Fishes of New Guinea (1991), dan Marine Rapid Assessment of the Raja Ampat Islands (Irian Jaya) Papua Province, Indonesia. Marine RAP No. 22. Buku terbarunya yang akan segera terbit adalah Reef Fishes of the East Indies. Buku setebal 1292 halaman ini itu akan dipublikasi oleh Tropical Reef Research, Perth sebanyak 3 volume.
Untuk pertama kalinya, Gerry mendeskripsikan spesies ikan baru ketika usianya masih 28 tahun. Dengan jumlah publikasinya yang fantastis itu, ia telah mendeskripsikan (baca: menemukan atau memberi nama) 116 spesies baru ikan air tawar dan 250 spesies baru ikan karang. Dari jumlah spesies baru tersebut, 47 spesies ikan air tawar dan 87 spesies ikan karang ditemukannya di Indonesia. Abstract dari beberapa karyanya dapat dilihat di halaman Reference/ikan.
Pada tahun 2009, Gerry mempublikasikan 15 spesies ikan baru dari Kawasan Kepala Burung Papua Barat di Newsletter Australian Society for Fish Biology. Sepuluh dari 15 nama untuk spesies ikan baru itu dilelang di Christie’s Auction House of London dan berhasil mengumpulkan US$ 2,1 juta untuk proyek konservasi di Kawasan Kepala Burung, Propinsi Papua Barat, Indonesia. Salah satu pemenang lelang untuk nama ikan adalah Pangeran Albert dari Monaco.
Saya salut dengan prestasinya. Ia tergolong ilmuwan langka yang lebih banyak menghabiskan waktunya di lapangan daripada di belakang meja. Seluruh publikasinya itu ia hasilkan dari berbagai ekspedisi di seluruh dunia selama 12 tahun dan menyelam selama 8.000 jam selam. Sampai kini ia masih terus produktif dalam penelitian dan publikasi. Jadi walaupun gak bisa ngomong dengan makhluk air seperti Deni Manusia Ikan, Gerry telah mengenalkan ratusan jenis ikan laut dan air tawar kepada dunia. So, Gerry is the real manusia ikan
Apakabarmu TNGL?
05 Feb 2012 1 Komentar
in Conservation Tag:Perambahan, TNGL
Setelah sekian lama menderita karena kanker akut yang terus menggerogoti kewibawaan petugas dan wilayah kawasan. Apa yang terjadi sebenarnya?
Ditemukan 18 spesies ikan baru di Indonesia
02 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in Biodiversity, Conservation Tag:biodiversity, Gerral Allen, ichthyology, Ikan, Indonesia, Irian Jaya, Museum, New Guinea, Papua, Rainbowfish
Sila klik Halaman Reference bagian Ikan, terdapat 9 artikel ilmiah dalam jurnal ilmiah yang mendeskripsikan 18 spesies ikan yang baru ditemukan dan dikasih nama. Author utamanya Gerald R. Allen.
Spesies baru ini bukan berarti dulunya gak ada. Ikan itu mungkin sudah beranak pinak di tempat itu sejak kita belum lahir, tapi karena gak ada ahlinya, ya ikan-ikan itu gak punya nama ilmiah dan gak dikenal dunia ilmiah. Mungkin masyarakat setempat udah punya nama lokalnya, tapi selama belum ada yang mendeskripsikan dalam masyarakat ilmiah, ya ikan itu dianggap tak pernah ada. Sampai akhirnya peneliti yang emang “maeanannya” ikan, seperti Dr. Gerald Allen ini datang, dan mengetahui bahwa ikan itu belum punya nama ilmiah, setelah diukur, dianalisa, dibanding-bandingkan dengan spesies lain, lalu diproklamirkanlah dalam majalah/jurnal ilmiah mengenai spesies baru itu.
Masih ada yang bertanya apalah arti sebuah nama? Berarti banget kaleee…. Contohnya ya ikan-ikan yang udah idup lama di suatu tempat…kalo belum punya nama ilmiah, ya dianggap gak ada di dunia ini. Hehehehe….Jadi nama by any means is important..



